matamaduranews.com-Sungguh beruntung nasib Mohammad Iksan.
Ia memulai karier dari bawah. Guru SMK—dulu STM. Lalu merangkak pelan menjadi pejabat setingkat kasi di Dinas Pendidikan. Naik menjadi Kabid SMP. Pindah ke Dinas Sosial sebagai kepala dinas. Setelah itu memimpin Disparbudpora. Dan kini, jabatan “basah” itu tiba: Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sumenep.
Bagi sebagian orang, Iksan dikenal sebagai pejabat “koboy”. Bukan koboy ugal-ugalan. Tapi koboy dalam arti blak-blakan. Bicara apa adanya. Tidak terlalu tunduk pada pakem birokrasi yang kaku. Berani ambil risiko. Minim basa-basi.
Maklum. Iksan bukan lahir dari kultur Sumenep—yang lekat dengan ewuh pakewuh: perasaan segan, rasa tidak enak, dan kehati-hatian berlapis-lapis. Itu identitas birokrasi Sumenep.
Iksan lahir di Sidoarjo, 58 tahun lalu. Kota tetangga Surabaya. Kultur Suroboyoan: egaliter, ekspresif, lugas. Bicara apa adanya. Kadang keras. Sebenarnya sayang.
Saat masih menjadi Kasi dan Kabid di Dinas Pendidikan, gaya Iksan sudah jadi rasan-rasan. Penampilannya parlente. Jauh dari stereotip pendidik birokratis.
Banyak yangbbisik-bisik.
Tapi itu bukan gaya dibuat-buat. Iksan memang apa adanya. Parlen-tenya bukan hasil pamer jabatan. Tapi buah dari kerja di luar dinas. Sedikit yang tahu—bahwa Iksan adalah konsultan proyek.
Jauh sebelum menjabat Kasi di Disdik, ia sudah terbiasa menangani proyek miliaran di luar Sumenep. Jejaring luas. Latar pendidikan teknis. Yang membuka pintu.
Usaha konsultan itu sengaja ia sembunyikan. Tapi tidak sepenuhnya rapat. Saat masih menjadi guru SMK Kalianget, seorang koleganya pernah bercerita kepada penulis. Ia saksi hidup. Bagaimana kekayaan diraih di luar gaji guru.
Kini, kolega itu menjabat kepala SMP. Bukan karena ditarik tangan Iksan. Tapi murni prestasi: guru teladan tingkat Provinsi Jawa Timur.
Ketika menjabat Kadisparbudpora, hari-hari Iksan nyaris tak pernah sepi konflik. Kebetulan, Bupati Fauzi memberi ruang besar pada kalender event. Rata-rata dua kegiatan besar tiap bulan. Setahun penuh.
Iksan tetap tampil optimistis. Meski anggaran pas-pasan. Meski hujatan datang dari segala arah. Bahkan pernah muncul desakan agar Iksan dicopot. Dituding bikin malu bupati.
Iksan tetap pede. Dan roda berputar.
Kini, Bupati Fauzi justru memberi “reward”. Iksan dipindah ke OPD basah. Anggarannya hampir seperempat APBD Sumenep.
Respons Iksan? Tetap apa adanya. Khas arek Suroboyo.
Usai mutasi di Pendopo Sumenep, Rabu, 14 Januari 2026, ia menulis status di beranda media sosialnya. Pendek. Dalam. Pasrah tapi tegak.
Begini ia menulis:
Gusti, kulo pun manut dalane
Mung Jenengan sing ngatur ceritane
Sing penting aku wis tau ngrasakne
Kepiye rasane diperjuangne…
Artinya:
Tuhan, aku sudah mengikuti jalan-Mu.
Hanya Engkau yang mengatur alur cerita.
Yang penting, aku pernah merasakan—
bagaimana rasanya diperjuangkan.
Dan Iksan pun melangkah.
Dengan caranya sendiri.













