Advertorial

Bersama BPRS; Usaha Keripik Turbo Sakti Berkembang

×

Bersama BPRS; Usaha Keripik Turbo Sakti Berkembang

Sebarkan artikel ini

Tahun 1987, Achmad Zaini (55), Warga Dusun Manding Daya, Desa Manding, Kecamatan Manding, Sumenep bukanlah siapa-siapa. Dia hanya penjual keripik singkong yang berkeliling dari toko ke toko. Pada tahun 2012, nama Achmad Zaini tersohor di Sumenep sebagai pengusaha keripik singkok yang memiliki 20 petani binaan dan 15 karyawan dengan laba bersih Rp 2,7 juta per hari.

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!

MataMaduraNews.com-SUMENEP-Sebelum meraih sukses sebagai pengusaha keripik singkong, Achmad Zaini pernah hijrah ke Arab Saudi menjadi TKI. Pekerjaan itu sengaja ia lakukan karena terbelit utang dari usaha yang ia lakoni.


BPRS-kerepekPada tahun 1987 itu, Achmad Zaini dibantu Sri Wahyuni (45) istrinya, menggoreng dan mengemas keripik singkong sebelum dijajakan ke warung-warung dan toko di Sumenep. Sebanyak 45 Kg singkong mentah tiap hari ia kupas dan iris menjadi keripik.

Seberat 30 Kg hasil goreng keripik siap kemas itu diberi dua rasa. Rasa pedas manis dan rasa bawang. Kemudian ia kemas dalam plastik dua jenis ukuran kecil dan besar. Ukuran kecil seberat 160 gram. Ukuran besar 320 gram. Keripik tanpa merek dan tanda dinas kesehatan itu, diantar ke sejumlah warung makan dan toko dengan sistem titip. Saban hari, Achmad Zaini lakukan untuk menyambung hidup selama 15 tahun.

Terasa berjalan mundur, Zaini menghentikan usahanya. Pada tahun 2002, dia mengajak sang istri untuk mengadu nasib menjadi Tenaga Pekerja Indonesia (TKI) ke Arab Saudi. Mengadu nasib ke tanah Arab berharap menambah rezeki. ”Selama usaha keripik, saya kok tambah banyak utang. Jadi saya coba menjadi TKI ke Arab Saudi. Dengan harapan utang terbayar dan bisa menambah rezeki,” cerita Zaini.

Keinginan Zaini kandas. Bukan reruntuhan mata uang riyal yang didapat. Tapi tumpukan utang rupiah bertambah. Zaini dan isteri tidak betah kerja di Arab Saudi. Selama tiga bulan berada di Arab Saudi, terpaksa ia pulang ke Indonesia.

Ongkos berangkat ke Arab Saudi dengan cari pinjaman sebesar Rp 12 juta hilang sia-sia. Bahkan, Zaini harus minta kiriman uang dari Indonesia sebagai ogkos pulang. Lengkaplah penderitaan Zaini.

Sepulang dari Arab Saudi, Zaini mencoba usaha baru. Dengan cari pinjaman modal, Zaini menemukan lahan pertanian yang bisa disewa. Bersama sang isteri, Zaini menyewa lahan untuk menanam tembakau. Tiga bulan berlalu, hasil tanam tembakau yang ia sirami tiap hari menuai rugi.

Zaini pasrah. Usaha yang baru dilakukan menuai rugi. Dalam benak bathin Zaini, rezeki Allah belum turun. ”Belum waktunya rezeki turun. Usaha sudah dilakukan,” ungkap Zaini.

Zaini yakin, rezeki ada yang ngatur. ”Barangkali nunggu giliran,” aku Zaini waktu itu, meratapi kegagalan usahanya.
Di tengah usaha yang selalu gagal dan tumpukan utang, Zaini harus bersemangat mencari nafkah untuk menyambung hidup dan nyicil utang. Zaini terbesit menjadi sopir MPU jurusan Sumenep-Pasongsongan, yang lama ia tinggal sebelum membuka usaha keripik. Pekerjaan baru ia tekuni dengan sabar untuk menyambung hidup dan mencicil utang.

Beberapa tahun berjalan sebagai sopir, sang isteri mengajak Zaini untuk memulai usaha keripik singkong yang lama ia tinggal. Menjadi sopir MPU tetap ia lakoni. Sisa waktu ia mengurus keripik baru yang lama dilupakan.

Usaha keripik baru ia minta bantuan tenaga keluarga dekat. Pada tahun 2005, Zaini mengurus izin usaha keripik singkong ke Dinas Kesehatan Sumenep.Setelah mengantongi izin Dinkes keripik singkong itu, diberi nama label Turbo Sakti. Nama label itu sengaja disematkan Zaini atas kesukaan dirinya terhadap jenis ban mobil merek turbo. Benak Zaini, jenis ban mobil handal hanya merek turbo. Agar lebih handal, nama belakang turbo ditambah sakti. Dengan harapan, merek keripik singkong yang baru ia rintis, benar-benar handal dan sakti.

Benar. Doa Zaini terkabul. Beberapa bulan berjalan, keripik merek Turbo Sakti mulai familiar di kalangan masyarakat Sumenep. Dengan dua jenis rasa, pedas manis dan bawang, sangat cocok dengan lidah orang Madura. Ketika dikunyah renyah dan gurih, memancing banyak orang untuk datang langsung ke tempat produksi. Sejak itu, keripik Turbo Sakti menjadi oleh-oleh khas Sumenep ketika orang bepergian ke luar Sumenep.

Para reseller Sumenep mulai pasang strategi. Satu per satu distributor kepung pasar keripik. Begitupun para agen dan reseller dari luar Sumenep juga berdatangan. Pasar luar Sumenep dari Pamekasan, Bangkalan dan Surabaya berebut untuk booking area.

Zaini cekatan. Dia memberi kesempatan kepada orang pertama yang merintis area pemasaran. Ketika orang baru, Zaini tolak karena sudah dibooking orang pertama. Kecuali area baru yang belum tergarap.

Cerita orang satu ke orang lain akhirnya menjadi booming dengan kekhasan keripik singkong merek Turbo Sakti. Jumlah produksi yang semula 200 Kg keripik siap goreng mulai ditambah sesuai order. Zaini harus menyiapkan bahan baku agar tidak kehilangan momentum.

Namun, ada yang mengganjal dalam benak pikiran Zaini. Apa? Modal pembelian bahan baku yang harus inden ke sejumlah petani dan menyimpan bahan baku dalam jumlah banyak. Strategi itu sengaja dilakukan Zaini agar mendapat harga murah saat musim tanam. Selain tidak kehabisan stok bahan jika sesekali banyak order datang.
Pinjaman modal jatuh ke Bank BPRS Bhakti Sumekar. Pada 2009, Achmad Zaini sengaja minta pinjaman Rp 25 juta ke BPRS untuk menopang usaha baru yang lama ia tinggal. Dengan modal tabahan usaha dari BPRS, Zaini menambah jumlah bahan baku produksi.

BerPose bersama: Achmad Zaini (kiri) bersama Ida Sofiati, Kepala Kantor Cabang Manding BPRS Bhakti Sumekar.
BERPOSES BERSAMA: Achmad Zaini (kiri) bersama Ida Sofiati, Kepala Kantor Cabang Manding BPRS Bhakti Sumekar.

Sejak dapat suntikan modal dari BPRS, setiap hari, sebanyak 700 Kg keripik basah yang diambil dari petani sudah siap goreng. Hasil goreng ia kemas menjadi dua jenis rasa serta ukuran besar dan kecil (lihat tabel).
Omzetnya? ”Alhamdulillah tiap hari penghasilan bersih saya tidak lepas dari Rp 2 juta,” aku Zaini. (lebih lengkap lihat tabel)

Dari mana bahan baku sebanyak itu? Zaini mengaku bahan baku singkong sengaja diambil dari tetangga desa. Seperti Desa Tenonan, Lanjuk, Gadding, Jaba’an dan daerah Dasuk. Sekitar dua puluh petani desa itu sengaja ia berdayakan untuk menyiapkan bahan baku yang siap goreng.

Begitupun karyawan. Para pekerja harian sengaja ia manfaatkan tetangga rumahnya. Pekerja itu membagi tugas sesuai dengan pekerjaan yang ditugaskan.

Usaha lancar dengan omzet yang tergolong stabil, Zaini terpikir memperbaiki sistem pemasaran dan tempat produksi. Karena itu, ia terbesit menambah pinjaman ke BPRS pada 2013 sebesar Rp 50 juta. Karena menjadi debitur lancar dan dipercaya BPRS, pada 2016 ia mendapat pinjaman dari BPRS sebesar Rp 100 juta.

Jumlah pinjaman sengaja ia ambil seadanya karena ingin mengatur pertubuhan usahanya. Padahal, BPRS Cabang Manding sudah menawarkan jumlah pinjaman sesuai kebutuhan Achmad Zaini.
| inforial

Biaya Produksi

Bahan Baku:
Kripik siang goreng:
700 Kg x @ Rp 12.000 = Rp 8.400.000,-
Minyak goreng curah 102 Kg
= Rp 1.000.000,-
Kayu Bakar     = Rp 100.000,-
Rempah-rempah = Rp 1.500.000,-
Karyawan 15 orang    = Rp 750.000,-
Plastik kemas    = Rp 1.000.000,-
Listrik    = Rp 15.000,-/hari
Garam    = Rp 25.000,-

Total Biaya Produksi     = Rp 12.790.000,-

Pendapatan
Kemasan kecil netto 160 gram 2.000 bj x @ Rp 4.000,- = Rp 8.000.000,-
Kemasan besar netto 320 gram
1.000 bj x @Rp 7.500,- = Rp 7.500.000,-

Total Pendapatan    = Rp 15.500.000,-

KEUNTUNGAN
Total Pendapatan-Total Biaya Produksi
= Rp 15.500.000- Rp 12.790.000
= Rp 2.710.000,-