matamaduranews.com -Bayangkan jika seluruh anggaran publikasi OPD di Pemkab Sumenep disatukan lewat e-Katalog. Tidak lagi berjalan sendiri-sendiri. Tidak lagi bersuara masing-masing.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Arah komunikasi pemerintah akan langsung terlihat.
Tapi selama ini, tiap OPD berjalan sendiri. Punya anggaran sendiri. Punya narasi sendiri. Punya media sendiri.
Akibatnya suara pemerintah terdengar ramai. Tetapi tidak menjadi satu lagu.
Publik hanya menangkap potongan-potongan. Seperti membaca buku yang halamannya tercecer.
Padahal rakyat tidak membutuhkan banyak suara. Rakyat membutuhkan arah.
e-Katalog publikasi media jangan hanya dipahami sebagai alat belanja. Bukan sekadar urusan klik dan administrasi. Tapi bisa menjadi alat menyatukan irama komunikasi daerah.
Diskominfo cukup menjadi dirigen. OPD tetap memainkan alat musiknya masing-masing.
Tetapi lagunya satu.
Di beberapa daerah sudah bergerak ke arah itu. Jawa Barat, misalnya memperkuat narasi pembangunan lewat koordinasi komunikasi publik berbasis sistem digital.
Jawa Tengah mendorong transparansi belanja media melalui katalog elektronik.
Surabaya menata kerja sama publikasi agar sejalan dengan branding kota dan pelayanan publik.
Hasilnya sama: pesan pemerintah lebih konsisten. Anggaran lebih terukur.
Manfaatnya jelas.
Pertama, narasi pembangunan lebih terarah. Publik lebih mudah memahami kebijakan.
Kedua, anggaran lebih efisien dan lebih sehat karena tidak lagi berjalan sendiri-sendiri.
Ketiga, media mendapatkan kepastian mekanisme kerja sama yang transparan.
Kekhawatiran soal sentralisasi tidak perlu berlebihan. Orkestra tidak membuat semua alat musik sama. Yang disatukan hanyalah lagunya.
Tantangan terbesar bukan pada sistem. Tetapi pada budaya kerja birokrasi. Teknologi bisa dibuat cepat. Menyamakan cara berpikir membutuhkan keberanian.
Di era informasi yang bergerak lebih cepat dari rapat koordinasi, komunikasi bukan lagi pelengkap pembangunan. Ia adalah bagian dari pembangunan itu sendiri.
Pilihan ada di depan mata: tetap dengan banyak suara tanpa arah, atau mulai membangun satu orkestrasi komunikasi daerah.
Jika berhasil, Sumenep bukan hanya rapi dalam publikasi. Juga belajar berbicara kepada rakyat dengan satu suara.
*aktivis dan pemerhati media tinggal di Sumenep)













