Berita UtamaNasionalReligi

Lebaran 2026: Hilal Sudah Ada, Kenapa Masih Dianggap Belum? Ini Penjelasan-nya

×

Lebaran 2026: Hilal Sudah Ada, Kenapa Masih Dianggap Belum? Ini Penjelasan-nya

Sebarkan artikel ini
Lebaran 2026
Ilustrasi hasil Pemerintah Indonesia melakukan pemantauan hilal di 117 titik di seluruh wilayah Indonesia, dari Papua hingga Aceh.

matamaduranews.com- Penentuan 1 Syawal 1447 H atau Lebaran 2026 kembali memantik perdebatan klasik: ikut hadits Nabi atau ikut kriteria astronomi?

Di satu sisi, ada yang berpegang pada prinsip sederhana: asal hilal sudah di atas ufuk, maka besok sudah masuk bulan baru. Di sisi lain, pemerintah berdasar kriteria MABIMS justru menyatakan: belum tentu bisa dilihat, berarti belum masuk.

BACA JUGA: Untuk Apa Kita Berpuasa?

Di sinilah letak konflik itu—antara eksistensi dan visibilitas.

Paradoks Hilal 2026: Sudah di Atas Ufuk, Tapi Tidak Diakui

Data astronomi 19 Maret 2026 menunjukkan fakta yang tidak terbantahkan:

Hilal sudah berada di atas ufuk di seluruh Indonesia saat matahari terbenam. Namun, pemerintah tetap kekeuh menetapkan bahwa hilal belum memenuhi syarat.

BACA JUGA: Puasa Lokal

Kenapa?

Karena saat ini pemerintah tidak lagi cukup dengan “hilal ada”, tetapi menuntut bahwa hilal harus bisa dilihat secara ilmiah. Melalui
angka 3 dan 6,4 Derajat.

Pemerintah memakai standar Neo-MABIMS, yaitu:

Tinggi Hilal minimal: 3 derajat
Elongasi minimal: 6,4 derajat

Angka ini sering dianggap sebagai “syarat berat”. Meski demikian, pemerintah beralasan hal ini untuk menghindari rukyat fiktif, yaitu klaim melihat hilal yang secara fisika mustahil terlihat.

Alasan pemerintah:

Jika elongasi terlalu kecil:
cahaya hilal sangat tipis
kalah oleh cahaya senja (syafaq)
tertutup atmosfer bawah yang kotor

Dalihnya: secara teori hilal ada, tetapi secara kasat mata tidak mungkin terlihat.

Apa Itu Elongasi? Kenapa Jadi Penentu?

Elongasi adalah jarak sudut antara Matahari dan Bulan dari sudut pandang bumi.

BACA JUGA: Ponpes Lirboyo Lebaran 2026 Jumat 20 Maret

Semakin besar elongasi:
sabit bulan makin tebal
cahaya makin terang
peluang terlihat makin besar

Sebaliknya:

elongasi kecil membuat hilal setipis rambut
nyaris tak bisa dibedakan dari gangguan cahaya

Dalam kajian astronomi modern dikenal istilah Batas Danjon, yaitu batas di mana hilal secara fisik tidak mungkin terlihat.

Angka 6,4 derajat itu dijadikan dasar pemerintah dengan dalih merupakan hasil riset panjang dalam kajian tersebut.

Sementara fakta lapangan 19 Maret 2026. Pemerintah Indonesia melakukan pemantauan hilal di 117 titik di seluruh wilayah Indonesia, dari Papua hingga Aceh.

Hasilnya:

Merauke: tinggi hilal 0,91°, elongasi 4,54°
Jakarta: tinggi hilal 1,73°, elongasi 5,74°
Bandung: tinggi hilal 1,55°, elongasi 5,15°
Sabang (Aceh): tinggi hilal 3,13°, elongasi 6,10°

Kasus Sabang menjadi menarik.

Tinggi hilal sudah melewati 3 derajat. Namun elongasi masih 6,1 derajat, atau belum mencapai 6,4 derajat.

Artinya: hampir memenuhi syarat, tetapi tetap tidak lolos.

Kenapa?

Karena dalam kriteria Neo-MABIMS, dua syarat harus terpenuhi sekaligus: tinggi minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat.

Konsekuensi Penetapan

Berdasarkan kondisi tersebut, pemerintah menggenapkan bulan Ramadan menjadi 30 hari. Dengan demikian, Lebaran ditetapkan jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026.

Sementara itu, bagi yang berpedoman pada hadits Nabi SAW:

“Berpuasalah kalian karena melihat hilal dan berbukalah karena melihatnya. Jika hilal tertutup oleh awan, maka sempurnakanlah bilangan bulan Sya’ban menjadi tiga puluh hari.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam pemikiran Islam, pendekatan ini dikenal sebagai metode Wujudul Hilal, yaitu cukup dengan memastikan hilal sudah berada di atas ufuk.

Dengan metode ini, Lebaran 2026 ditetapkan pada 20 Maret 2026.

Perubahan Kriteria: Dari 2 Derajat ke 3–6,4

Sebelumnya, Indonesia menggunakan kriteria yang lebih longgar:

tinggi hilal 2 derajat
elongasi 3 derajat
umur bulan 8 jam

Namun, fakta di lapangan menunjukkan banyak klaim rukyat yang tidak sesuai dengan realitas astronomi.

Akhirnya, sejak 2022, kriteria diperketat dengan dalih untuk menghadirkan kepastian ilmiah, bukan sekadar pengakuan visual.

Masalah Sebenarnya: Ilmu vs Pemahaman Hadits

Di sinilah titik sensitifnya.

Hadits Nabi SAW berbunyi sederhana:

Berpuasalah karena melihat hilal…”

Tidak ada penyebutan:

angka elongasi
angka ketinggian

Namun hari ini, muncul standar baru yang sangat teknis.

Pertanyaannya, apakah hadits Nabi SAW harus tergerus oleh penguatan ilmiah?

Penutup

Lebaran 2026 bukan sekadar soal tanggal 20 atau 21.

Ini tentang dua pendekatan:

Wujudul Hilal → cukup ada secara geometris

Imkanur Rukyat (Neo-MABIMS) → harus terlihat secara fisik

Perbedaan ini bukan hal baru. Namun kini jaraknya semakin lebar. Dan pada akhirnya, publik dihadapkan pada pilihan: mengikuti kesederhanaan teks atau ketelitian sains.

Sementara itu, hilal tetap sama—
diam di langit, menjadi saksi bahwa manusia bisa berbeda, meski melihat bulan yang sama. (hambali rasidi)

Tinggalkan Balasan