CatatanPolitik

Nur Faizin, PKB 24 Karat

×

Nur Faizin, PKB 24 Karat

Sebarkan artikel ini

Catatan: Hambali Rasidi

PKB
Nur Faizin populer dengan istilah Santre Ngereng Keae

matamaduranews.comNur Faizin. Usianya masih 38 tahun. Tapi namanya mulai sering disebut. Jelang Muscab PKB Sumenep 2026.

Muscab kali ini terasa sedikit berbeda. Tanpa voting. Musyawarah mufakat antar peserta Muscab. Ada yang mengatakan kombinasi top down dan bottom up.

Karena itu, nama Nur Faizin masuk dalam bursa Bakal Calon Ketua DPC PKB Sumenep. Sebab ia dekat dengan jajaran DPP PKB dan Ketua DPW PKB Jatim, Abdul Halim Iskandar. Maklum, ia lama di Jakarta sebagai Asisten Staf Khusus Menteri Ketenagakerjaan dan Tenaga Ahli di Komisi IX DPR RI.

Selain Nur Faizin. Juga ada nama Muhri, Ketua Komisi III DPRD Sumenep. Hamil Ali Munir, eks Ketua DPRD Sumenep. Terbaru nama Abu Hasan, eks Caleg PKB DPR RI. Yang juga pengembang real estate. Juga disebut sebut masuk bursa Bakal Calon Ketu DPC PKB Sumenep.

Bagi sebagian kader PKB. Muscab kali ini kurang greget. Karena tanpa suara terbanyak. Namun bagi DPP PKB. Langkah ini merupakan bagian dari desain baru PKB dalam menata masa depan.

Melalui Muscab, momentum tidak sekadar pergantian pengurus. Tetapi juga mengubah cara pandang Parpol. Yang kata pengamat, partai politik di Indonesia telah berkembang menjadi industri politik. Sehingga dalam kontestasi politik membutuhkan biaya besar—mulai dari kampanye, mobilisasi massa, hingga pengelolaan media. Hal ini yang menuntut partai harus terus berinovasi agar tetap relevan dan kompetitif.

Dalam konteks ini, PKB tidak ingin sekedar mengusung ideologi. Apalagi terjebak dalam romantisme sejarah. PKB ingin mengelola citra, narasi, dan strategi komunikasi.

BACA JUGA :  Pasangan Beriman Ingin Berikan Semua Hak Rakyat

PKB sudah sadar bahwa perubahan demografi pemilih semakin didominasi generasi muda. Untuk menjangkau segmen ini, dibutuhkan wajah baru yang mampu berbicara dengan bahasa yang sama. Dengan kata lain, regenerasi bukan sekadar kebutuhan organisasi, tetapi juga strategi komunikasi politik.

DPP PKB sudah mengantisipasi dampak transisi kepemimpinan jika terjadi regenerasi. Karena itu, model Muscab sengaja dibuat dua model. Agar anak muda terakomodir. Tokoh senior yang berpengalaman sebagai penjaga arah partai- tetap ada.

PKB selalu mencari kader yang siap lahir bathin. Jiwa raga siap dihibahkan untuk PKB. Dan nama Nur Faizin masuk dalam salah satu kriteria itu.

Ya..Nur Faizi sebagai santri yang mengarungi politik dari organisasi sejak  kuliah. Dimulai dari BEM dan PMII. Masuk ke gerakan Gusdurian. Aktif di Densus 26. Lalu naik ke struktur GP Ansor. Dan akhirnya masuk ke politik jalur PKB secara istiqamah.

Jalur kesetiaan itu ternyata merupakan warisan dari keluarga. Ayahnya Kiai Fawaid sejak awal berada di barisan PKB.

Selain itu, Nur Faizin juga tidak pernah jauh dari pesantren. Sejak 2011, ia menjadi pengasuh di Pondok Pesantren Anwarul Abror, Dungkek, Sumenep. Di sana, ia belajar kepemimpinan tidak lahir dari panggung. Tetapi dari pengabdian.

Karena itu, dalam politiknya sederhana. Door to door. Jaringan dari bawah. Dekat dengan kiai. Dekat dengan masyarakat.

Tagline-nya juga sederhana: Santre Ngereng Keae dan PKB 24 karat. Barangkali itu yang mengantarkan dirinya sebagai anggota DPRD Jawa Timur saat ini. (*)

Tinggalkan Balasan