matamaduranews.com–SUMENEP–Proyek Pompa Air Tanpa Motor (PATM) senilai Rp 4,8 Miliar yang ada di Desa Lebeng Barat, Kecamatan Pasongsongan, Sumenep, Madura, terus dikerjakan pasca bencana banjir menerjang bangunan proyek pada Januari 2021.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Proyek PATM itu hancur berantakan setelah tanggul jebol akibat curah hujan cukup tinggi. Bah banjir meluap sehingga bikin bangunan berantakan.
Dari foto dan video yang diterima redaksi, per tanggal 12 Agutus 2021, diktehaui ada 17 sambungan pipa air yang masih dikerjakan. Cek dam untuk menampung air masih bersedakan.
Proyek PATM itu sebenarnya selesai dikerjakan pada November 2020 lalu. Ketika itu, Bupati Sumenep, KH A Busyro Karim meresmikan proyek PATM bernilai Rp 4,8 Miliar.
Konstruksi proyek itu dirancang untuk menampung air hujan dan berbagai mata air dari Sumber Lembung saat musim kemarau. Pada musim penghujan, air banjir dari berbagai desa ditampung di bendungan itu.
Pemerintah Kabupaten Sumenep melalui Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air (DPU SDA) Sumenep
membangun dua bendungan dan tandon besar (reservoir) dengan kapasitas 72 ribu liter.
Di dua bendungan itu, juga disediakan 17 pompa air. Setiap pompa air dirancang mampu menyalurkan debit air minimal 9 liter per detik ke lahan pertanian warga.
Penyaluran air ke lahan-lahan pertanian warga tanpa mesin pompa.
Dari bak reservoir (penampungan air) itu, air dialirkan ke lahan pertanian seluas 106 hektare yang ada di Desa Lebeng Barat, Desa Prancak dan Montorna serta beberapa desa di Kecamatan Pasongsongan.
Dengan proyek itu, Pemkab Sumenep optimis lahan pertanian warga lebih produktif meski musim kemarau.
Kadis PU SDA Sumenep, Chainur Rasyid saat dikonfirmasi mengatakan, kerusakan pipa dan sejumlah bangunan proyek PATM masih proses perbaikan oleh pelaksana (kontraktor) karena masih masuk dalam masa pemeliharaan yang akan berakhir November 2021.
Menurutnya, 17 pipa air yang rusak di PATM itu karena faktor bencana alam.
“Saat itu terjadi hujan deras dan angin yang merobohkan pohon. Nah pohon itu yang menimpa pompa,†terang Chainur saat dikonfirmasi, Jumat (13/8/2021).
Chainur menjelaskan, posisi pompa berada di tengah aliran sungai. Di pinggir sungai banyak pohon, namun tidak ada penahan. Ketika air sungai naik, pohon mudah roboh.
“Tapi sekarang pompa itu sudah hampir selesai diperbaiki oleh rekanan. Sehingga nanti apabila musim kemarau, pompa itu sudah bisa digunakan ke lahan pertanian warga,†sambungnya.
Chainur mengaku tiada henti mendorong pelaksana proyek CV Sady Family untuk segera menyelesaikan kerusakan sebelum masa pemeliharaan berakhir pada November 2021.
“Proyek tersebut masih dalam tahap finalisasi. Namun, tidak lama lagi dipastikan segera kelar. Semoga bisa selesai pada waktunya da beroperasi sesuai yang diharapkan warga,†harapnya.
“InsyAllah proyek itu bermanfaat ke warga,” pungkasnya.
hambali rasidi







