Domba Simadu

Oleh: Joko Intarto

matamaduranews.com-Pertanian dan peternakan merupakan bidang usaha mayoritas warga desa. Begitu pun di Sarireja, Subang. Desa ini identik dengan budidaya nanas dan domba.

Budidaya buah nanas yang satu ini sudah dilakukan secara turun-temurun. Nanas Sarireja terkenal karena ukurannya yang jumbo dengan rasa supermanis.

Namanya nanas simadu. Beratnya bisa lebih dari 2 Kg. Sesuai namanya, rasa daging buahnya semanis madu. Di warung buah, nanas simadu dijual dengan harga Rp 25 ribu per buah. Selembar ‘’uang merah’’ bisa ditukar dengan lima buah nanas ukuran paling besar. Boleh memilih sendiri.

Warga Sidareja memanen nanas tiga hari sekali. Seminggu dua kali. Ketika saya berkunjung ke Sidareja hari Kamis lalu, sedang tidak ada kegiatan panen nanas. ‘’Senin dan Selasa depan kami panen lagi,’’ terang Pak Ali, tokoh masyarakat Sidareja, seusai menerima kunjungan kepala cabang Bank Mandiri Subang.

Nanas simadu ternyata juga membuat desa Sidareja terlihat manis di mata lembaga perbankan. Bank Mandiri Cabang Subang datang menawarkan kerjasama pembiayaan pupuk melalui koperasi petani dengan sistem ‘’yarnen’’ alias dibayar setelah panen. Sistem yarnen lazim di kalangan petani Sidareja.

Nanas simadu makin kondang sejak dimulainya demplot ujicoba pupuk khusus buah nanas yang dikembangkan PT Pupuk Kujang di desa Sidareja pada 2017. Dua tahun kemudian, PT Pupuk Kujang menggulirkan program CSR (corporate social responsibility) dengan nama Kampung Nanasku. Program ini mengintegrasikan proses budidaya, pengolahan produk hingga pemasarannya.

Fasilitas produksi pengolahan buah nanas menempati dua bangunan yang berdiri di halaman rumah Pak Ali. Bangunan di sisi kiri adalah rumah diesel, etalase dan mushola. Sedangkan bangunan di sisi kanan untuk pemintalan serat nanas dan penenunan kain serta mesin pembuat keripik nanas.

Dari rumah produksi itu, lahirlah beberapa produk utama berupa wajit (dodol) dan keripik nanas. Ada juga produk turunannya yang diolah dari limbah. Kain tenun, misalnya, diolah dari serat daun nanas yang tua dan sudah saatnya dipangkas. Sedangkan kulit kupasan buah nanas difermentasi menjadi silase untuk pakan ternak.

BACA JUGA :  Catatan untuk Pilkada Sumenep yang Telah Berlalu

Untuk mengurangi ketergantungan pada tengkulak, penjualan keripik dan wajit dilakukan secara online. Generasi muda di desa Sarireja yang mengerjakan. Dari Sarireja, produk keripik yang dipajang di beberapa marketplace iti dikirim ke konsumen di seluruh Indonesia. Tanpa perlu tengkulak seperti dulu.

Sekitar 100 meter dari rumah produksi, berdiri dua bangunan sederhana berbentuk rumah panggung. Di dalamnya dipelihara beberapa ekor domba. Limbah buah nanas menjadi pakan utamanya.

Melihat domba yang gemuk-gemuk itu, saya sarankan Pak Ali agar mulai memperkenalkan konsep baru dalam penjualan domba qurban:
1. Pembeli membayar lunas sekarang seharga wajar domba qurban tahun depan.
2. Peternak memelihara sekarang dengan kondisi anakan atau cempe.
3. Tidak perlu marketing fee untuk tengkulak dan biaya kirim daging qurban yang berlebihan, karena distribusinya cukup di desa itu saja.
4. Selisih harga jualnya dikurangi biaya pakan, biaya perawatan, biaya pemotongan dan biaya distribusi daging qurban biarlah dinikmati warga desa sebagai keuntungan.

Program penjualan domba qurban model ini juga mengurangi ketergantungan peternak terhadap tengkulak. Dombanya dipasarkan melalui marketplace. Konsumen atau pequrban dari seluruh dunia bisa membeli langsung ke peternak tanpa lewat tengkulak. Pemotongan domba qurban dan distribusi dagingnya cukup di desa Sidareja. Apalagi banyak penduduk desa itu yang berstatus kurang mampu.

Tahun lalu, saya mencoba konsep serupa yang ditawarkan Lazismu Grobogan. Alhamdulillah. Sangat memuaskan. Tujuh ekor kambing jantan peranakan etawa dipotong Lazismu untuk didistribusikan kepada warga miskin pedesaan di tengah hutan hingga perbatasan Semarang dengan Boyolali.

Insya Allah, saya akan menjadi salah satu pembeli program domba qurban itu. Dari tujuh ekor kambing atau domba qurban yang saya perlukan, paling tidak dua ekor ‘’domba simadu’’ akan saya beli dari Sidareja pekan depan.(jto/bersambung)

Komentar