matamaduranews.com – SUMENEP – Sabtu pagi. 21 Maret 2026. Suasana Shalat Idul Fitri 2026 atau 1447 Hijriah di Kota Sumenep terasa berbeda. Udara masih dingin, embun belum sepenuhnya hilang, namun langkah jamaah sudah memadati jalan menuju Masjid Jamik Sumenep.
Takbir menggema dari pengeras suara, bersahutan dari gang ke gang.
Allahu Akbar… Allahu Akbar… Allahu Akbar… walillahil hamdu…
Sejak sebelum matahari terbit, jamaah dari berbagai penjuru kota berdatangan. Sebagian membawa sajadah. Mereka berjalan kaki, bersepeda motor, bahkan naik mobil datang bersama keluarga besar.
Semua menuju satu tempat yang sama: Masjid Jamik Sumenep, masjid bersejarah yang telah menjadi pusat spiritual masyarakat selama ratusan tahun.
BACA JUGA: Cerita Mistis dari Masjid Jamik Sumenep
Masjid Berusia Tiga Abad yang Selalu Dipenuhi Jamaah
Masjid Jamik Sumenep bukan sekadar tempat ibadah. Ia adalah simbol sejarah dan spiritualitas masyarakat Madura. Dibangun pada abad ke-18 pada masa pemerintahan Panembahan Sumolo, masjid ini telah menjadi saksi perjalanan panjang kehidupan masyarakat Sumenep.
Setiap Idul Fitri, masjid ini selalu dipadati jamaah. Bahkan, banyak warga sengaja datang sejak dini hari agar mendapatkan tempat di dalam masjid.
Namun bagi sebagian jamaah, shalat di halaman atau taman justru memberikan pengalaman spiritual yang berbeda. Udara pagi yang sejuk, lantunan takbir yang menggema, serta kebersamaan ribuan jamaah menciptakan suasana yang sulit dilupakan.
Idul Fitri 2026 Penuh Cerita, Perbedaan Lebaran Tak Mengurangi Kebersamaan
Momentum Idul Fitri 2026 di Sumenep memiliki cerita tersendiri. Tahun ini, masyarakat mengalami perbedaan waktu pelaksanaan Lebaran. Sebagian merayakan sejak Kamis dan Jumat. Mereka lebih awal, sementara sebagian lainnya mengikuti keputusan pemerintah Sabtu pagi.
Namun di Sabtu pagi hari, perbedaan tidak menjadi penghalang. Semua tetap berkumpul dalam satu suasana: ibadah dan kebersamaan.
Seorang jamaah bernama Muhammad, warga Kota Sumenep, mengaku selalu memilih shalat Id di Masjid Jamik setiap tahun.
“Kalau shalat Id di sini rasanya beda. Ada ketenangan batin yang tidak bisa dijelaskan. Mungkin karena masjid ini punya sejarah panjang,” ceritanya usai shalat id Sabtu pagi.
Bagi banyak warga, shalat Id di Masjid Jamik bukan sekadar ibadah tahunan. Ia sudah menjadi tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Lebaran adalah Tentang Kembali ke Fitrah
Setelah shalat selesai, suasana berubah menjadi hangat. Jamaah saling bersalaman, berpelukan, dan saling memaafkan. Anak-anak berlarian dengan pakaian baru, sementara orang tua tersenyum melihat keluarga berkumpul kembali.
Di situlah makna Idul Fitri terasa nyata. Bukan hanya kemenangan setelah sebulan berpuasa, tetapi juga kemenangan melawan ego, amarah, dan kesombongan.
Masjid Jamik Sumenep setiap tahun mengingatkan masyarakat bahwa Lebaran bukan sekadar tradisi, melainkan momentum untuk kembali kepada fitrah. (wahid/rasidi)






