matamaduranews.com -JAKARTA-Rencana pembelajaran daring yang sempat diwacanakan pemerintah akhirnya dibatalkan. Pemerintah memilih mempertahankan pembelajaran tatap muka karena dinilai lebih efektif mencegah learning loss dan menjaga kualitas pendidikan, terutama bagi siswa di daerah yang masih menghadapi keterbatasan akses internet dan perangkat digital.
Keputusan tersebut diambil setelah dilakukan evaluasi terhadap dampak pembelajaran jarak jauh pada masa pandemi, yang dinilai masih menyisakan berbagai persoalan dalam dunia pendidikan. Pemerintah menilai bahwa pembelajaran tatap muka lebih efektif dalam meningkatkan pemahaman materi, kedisiplinan, serta interaksi sosial siswa.
Menko PMK: Daring Bukan Prioritas Saat Ini
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Pratikno, menegaskan bahwa pembelajaran daring tidak menjadi prioritas dalam kebijakan pendidikan saat ini.
Ia menyampaikan bahwa rencana pembelajaran daring sebelumnya hanya merupakan opsi antisipatif terhadap kemungkinan krisis energi global, namun setelah dikaji, pemerintah memilih mempertahankan pembelajaran tatap muka.
DPR: Daring Berpotensi Menimbulkan Learning Loss
Di sisi lain, Wakil Ketua Komisi X DPR RI, My Esti Wijayanti, juga menyampaikan keberatan terhadap rencana pembelajaran daring.
Menurutnya, pengalaman selama pandemi menunjukkan bahwa sistem pembelajaran jarak jauh meninggalkan persoalan serius dalam dunia pendidikan.
“Pembelajaran secara daring pernah kita laksanakan ketika terjadi wabah COVID-19, dan kita semua tahu sistem tersebut meninggalkan problem yang tidak sederhana bagi dunia pendidikan kita,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa dampak pembelajaran daring tidak hanya terkait penurunan kemampuan akademik, tetapi juga menyangkut pembentukan karakter, kedisiplinan, serta keterbatasan akses teknologi di sejumlah daerah.
Fokus Pemerintah: Jaga Kualitas Pendidikan
Pemerintah menegaskan bahwa kebijakan pendidikan akan terus disesuaikan dengan kondisi nasional, namun prioritas utama saat ini adalah menjaga kualitas pembelajaran dan memastikan siswa tidak mengalami ketertinggalan akademik.
Fenomena learning loss sendiri merujuk pada penurunan kemampuan belajar, motivasi, dan pencapaian akademik siswa akibat gangguan proses pendidikan, yang dampaknya masih dirasakan hingga saat ini. (ANTARA/ras)



