Menu

Porang Tanpa Subsidi

Porang Tanpa Subsidi
Ji Ahmad saat menunjukkan hasil tanaman porang yang baru berusia dua bulan di lahan 12 hektare. (matamadura)
Link Banner

Catatan: Hambali Rasidi

SUDAH lama saya mendengar tanaman porang. Tanaman umbi-umbian yang memiliki pasar menggiurkan di luar negeri.

Sebagian masyarakat menyebut umbi porang sebagai makanan ular.

Masyarakat Jawa mengenal tanaman porang dengan nama iles-iles. Kalau di Madura dikenal dengan istilah larkong atau sebeg.

Umbi porang nama latinnya Amorphophallus Muelleri.

Masyarakat Madura masih belum populer. Tapi sudah banyak yang budidaya tanaman porang.

Sepertinya sudah tiga tahun lalu mulai banyak yang menanam.

Hanya baru populer saat ini ketika banyak yang mengekspose keberhasilan para petani porang.

Dari modal Rp 750 ribu hingga menjadi miliader setelah tanam porang.

Itu yang dialami Paidi. Seorang pemulung asal Kecamatan Kare, Madiun. Sukses menanam porang hingga jadi miliader dan selebritas porang.

Paidi diundang ke berbagai daerah di luar provinsi Jawa Timur untuk mengisi pelatihan Budidaya Porang.

Bukan itu saja. Paidi juga diminta menyediakan jutaan bibit porang untuk dikembangkan di daerah luar Jawa.

Paidi dan petani porang lain yang sukses hingga menjadi miliader bertani mandiri. Tanpa subsidi dari pemerintah. Bibit dan pupuknya juga mandiri.

Pengetahuan petani soal budidaya porang didapat dari sesama petani.
Nyaris tanpa sentuhan penyuluh pertanian.

Minggu pagi kemarin saya penasaran. Mendatangi lokasi Budidaya Porang di daerah Ambunten, Sumenep. Lokasi itu milik teman saya, Mas Ahmad Jailani.

Dia baru coba-coba buka lahan baru seluas 12 hektare untuk tanaman porang sejak pertengahan Desember 2020.

Selain tanaman porang. Di lahan itu ia tanami 22 jenis tanaman dan bunga. Seperti, kompyor, kurma, apokat, cabe, dll.

22 jenis tanaman itu jadi tumpang sari lahan di sela-sela tanaman porang.

“Sekalian jadi agro pertanian dan tempat wisata pertanian. Pokoknya jangan ada lahan kosong yang tak ditanami,” ucap Ji Ahmad-panggilan akrabnya saat menemani Mata Madura keliling lahan yang bebukitan.

Ahmad semula jadi loper koran Jawa Pos. 30 tahun lalu. Lalu berhenti merambat ke usaha lain. Hingga kini menjadi miliader di bidang usaha jasa konstruksi.

Saat ramai tanaman Porang. Ji Ahmad-langsung beli lahan tidur di daerah Ambuten untuk menanam porang.

Masyarakat sekitar yang bersedia kerja dilibatkan untuk Budidaya Porang.

Ji Ahmad baru pertama tanam porang dengan ratusan ribu bibit.

Tapi ia langsung menyiapkan segala sesuatunya.

Termasuk tenaga ahli pertanian yang mengecek unsur hara tanah sebelum ditanami.

Tenaga ahli pertanian itu dari pemuda setempat yang sudah lama bergelut di dunia pertanian.

Murni petani. Bukan dari penyuluh pertanian Dinas Pertanian Sumenep.

Namanya Junaidi. Umurnya sekitar 30 tahun. Pengetahuannya tentang unsur tanah cukup menguasai. Sehingga mudah mencari opsi pupuk organik yang tepat untuk tanaman yang akan ditanam.

Di dalam lokasi itu. Ji Ahmad juga menyediakan rumah bibit. Dia sudah menyiapkan berbagai bibit tanaman. Termasuk mengantisipasi kelangkaan bibit porang.

Porang Tanpa Subsidi

Ji Ahmad menyebut, tanaman porang sangat membantu kesejahteraan petani.

Untuk satu hektare lahan. Petani bisa tanam porang minimal 30 ribu bibit dengan jarak tanam 25 cm.

Itu bisa dimulai dari berbagai jenis bibit porang.

Sederhananya. Dengan modal Rp 2.000 per tanaman porang. Selama tiga tahun bisa mendapat untung minimal Rp 28 ribu.

Itu dengan asumsi: per umbi tanaman porang berat 3 Kg. Harga jual umbi porang Rp 10 ribu per Kg.

Selain umbi porang. Petani Porang juga bisa menikmati uang hasil jual katak.

Ji Ahmad memproyeksi 50 tanaman porang menghasilkan 1 Kg katak.

Harga jual katak Rp 250 ribu per Kg. Katak itu bisa diambil per musim alias per tahun.

Jika tiga tahun. Anda bisa menghitung sendiri hasil jual katak dan umbi porang-nya.

Ji Ahmad juga mengantisipasi harga jual murah ketika umbi porang membanjiri pasaran. Sebagai hukum alam market.

Karena itu, ia sudah menyiapkan pabrik tepung umbi porang. Lokasinya di Sumenep juga.

Saya juga diajak survei lahan yang akan dibuat pabrik tepung umbi porang.

Ji Ahmad menarget tiga tahun pabrik itu sudah beroperasi.

Keberadaan pabrik tepung porang di Sumenep untuk menampung umbi porang di Madura yang sudah booming menanam porang.

Di Kabupaten Sampang. Dinas Pertanian-nya sudah mengalokasikan anggaran lewat DAK untuk subsidi bibit porang kepada setiap Gapoktan dengan nilai Rp 25 juta.

Di Kabupaten Sumenep masih belum dengar bantuan bibit porang dari pemerintah. Hanya ada bantuan bibit kedelai untuk semua lahan kecamatan sekitar Rp 15 miliar, beberapa tahun lalu.

Ratusan petani porang di Pulau Kangean menanam secara mandiri. Tanpa sentuhan dan subsidi dari pemerintah.

Untuk musim tanam 2021. Ji Ahmad menarget minimal 500 hektare tanaman porang yang jadi mitranya.

Untuk tanam 2022 bisa mencapai ribuan hektare.

Itu untuk menutupi permintaan buyer luar negeri yang baru 10 persen permintaannya dipenuhi oleh para eksportir Indonesia.

Selain menyiapkan pabrik tepung umbi porang. Ji Ahmad juga membentuk
Asosiasi Petani Porang Indonesia (Aspeporin) di Sumenep.

Apakah tanaman porang akan tetap menggiurkan?

“Umbi porang jadi kebutuhan pokok orang luar negeri. Selama menjadi kebutuhan pokok makanan, sepanjang hayat tetap dibutuhkan,” ucap Ji Ahmad.

Memang, beras dan tepung umbi porang jadi makanan pokok sebagian besar warga Jepang, China, Vietnam dan Thailand.

Pasar umbi porang juga melebar ke Eropa. Jerman salah satunya menjadi salah satu buyer.

Sekarang.

Tinggal atensi pemerintah daerah untuk bisa mendongkrak produk domestik.

Agar warganya sejahtera dan keluar dari lubang kemiskinan.

Satelit, 15 Maret 2021

KOMENTAR

Belum Ada Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Tinggalkan Balasan

MMN

Catatan

Tasawuf

Sastra

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional

%d blogger menyukai ini: