Menu

Cinta Ibnu Hajar

Cinta Ibnu Hajar
Ibnu Hajar

Catatan: Hambali Rasidi

matamaduranews.comSastra bisa padamkan api yang menggelegar.

Begitu kata Ibnu Hajar.

Sudah lama kalimat itu saya dengar. Tapi baru ingat. Tepatnya diingatin Facebook.

Saat buka beranda. Ada kenangan yang pernah saya posting di bulan Januari. Dua tahun lalu.

Lalu terinspirasi.

Mengingatkan kisah Malaikat Jibril saat berdawuh kepada Nabi Muhammad Saw.

Kata Jibril, kalamullah bila diturunkan ke gunung akan luluh berkeping-keping.

Kalamullah (ayat-ayat Allah swt) turun lewat Nabi Muhammad Saw.

Malaikat Jibril sebagi komunikator.

Itu awal. Ketika ayat turun di Gua Hira. Iqra’. Surat al-Alaq.

Tapi, saat Nabi Saw ‘berjumpa’ dengan Allah. Jibril tak lagi menjadi komunikator.

Nabi Saw sudah ‘berjumpa’ sendiri tanpa didampingi Malaikat Jibril.

Syech Abdul Qadir Jailani dalam Kitab Sirr al-Asrar menjelaskan bagaimana Jibril mengaku akan hancur jika ikut Nabi Saw.

Saat itu. 11 tahun pasca waktu dari Gua Hira’. Saat Jibril menyampaikan kalamullah.

Di perjalanan 2/3 malam yang dikenal dengan peristiwa isra mi’raj. Perjalanan yang mempertemukan Nabi Saw dengan Allah SWT.

Malaikat Jibril angkat tangan menandakan takluk. Tak bisa mengimbangi kedekatan Nabi Saw dengan Allah.

Kalamullah itu, kini disusun dan menjadi mushaf al-Qur’an, kitab suci umat Islam.

Para ulama tafsir sepakat bahwa rangkaian huruf dan titik yang menjadi ayat dan surat di al-Qur’an itu merupakan bahasa sastra paling tinggi tiada duanya.

Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya, menyebut bahwa setiap huruf dan titik dalam ayat al-Qur’an ada makna dan malaikatnya.

Bagi para pegiat sastra.

Merangkai kata cinta dan rindu dalam bahasa sastra selalu menyentuh relung hati.

Seperti Imam al-Ghazali lewat Misykat al- Anwar (relung cahaya) yang juga mengulas cinta dan rindu untuk lubang yang tak tembus.

Mengutip surat an-Nur dalam relung cahaya itu, ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca. Kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dari pohon berkah yang berminyak, (yaitu) tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah baratnya, yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api.

Kata Ibnu Hajar, lewat cinta semua jadi indah. Cinta hadir karena ada setetes rindu untuk bersua.

Ketika ditanya kenapa bahasa cinta selalu menyertai setiap karyanya.

Ibnu selalu menjawab sederhana.

Bagaimana aku tidak jatuh cinta. Tuhan saja tersenyum ketika menciptakan mu,”.

Bagi Ibnu. Cinta itu bukan melulu objek perempuan. Segala persoalan perlu didekati dengan bahasa cinta.

Katanya, kalau sudah melewati hujan dan badai. Mengapa harus menggigil.

Begitu ciri khas karya sastra Ibnu Hajar yang kental dengan bait-bait melankolis-nya.

Sejak di bangku PGA dan mondok di Mathla’ul Anwar, Pangarangan, Sumenep. Ibnu mengaku sudah jatuh cinta untuk merangkai kata dalam sastra sajak/puisi.

Kegemaran dalam dunia syair. Ibnu terinspirasi oleh lingkungan pondok.

Setiap hari, Ibnu bersentuhan dengan nadoman. Sebuah tradisi pembelajaran pondok kepada santri terhadap kitab alfiyah dan metode membaca al-qura’an dengan benar (tajwid).

Dari model nadoman itu, Ibnu bisa mengenal bahasa sastra yang berbentuk puisi. Yang kental dengan untaian cinta.

Sejak PGA. Karya puisi Ibnu Hajar sudah dimuat di majalah pelajar nasional terbitan Jogjakarta. Nama majalahnya, Buntung.

Saat mahasiswa di Malang. Ibnu sudah diberi panggung untuk membaca puisi.

Waktu itu Festival Istiqlal yang bertempat di Malang. Panggung yang disaksikan para penyair nasional waktu itu.

Ibnu Hajar mulai dikenal karena setiap hari Minggu. Puisi karya Ibnu Hajar menghiasi koran Harian Bhirawa.

Sejak semester lima waktu kuliah di Universitas Muhammadiyah, Malang. Puisi karya Ibnu Hajar terus menghiasi koran-koran di luar Jawa.

Konsistensi Ibnu Hajar dalam dunia sastra dikenal sebagai penyair nasional dari Sumenep, Madura.

Ada yang berbisik. Ibnu sebagai kembaran D Zawawi Imron.

Jika Pak De Zawawi lahir di Batang-Batang, Sumenep.

Ibnu lahir di Grujugan. Sebuah desa di Kecamatan Gapura, Sumenep.

Hanya yang bedakan karya puisi Pak De Zawawi dan Ibnu Hajar adalah corak sastranya.

Karya sastra D Zawawi Imron bercorak sufistik dan ke-Madura-an.

Sedang karya Ibnu Hajar kental dengan bahasa melankolis.

Begitulah Cinta menurut Ibnu Hajar.

Pesona Satelit, 16 Januari 2021.

KOMENTAR

Belum Ada Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Tinggalkan Balasan

MMN

Hukum & Kriminal

Catatan

Tasawuf

Sastra

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional

%d blogger menyukai ini: