Menu

Kelebihan Kiai Ramdlan dan Kiai Fikri

Kelebihan Kiai Ramdlan dan Kiai Fikri
Saudara Sepupu; KH Ramdlan Siradj dan KH Ali Fikri Warits. Nyai Badi'ah Ilyas, Ibu Kiai Ramdlan masih saudara kandung dengan Kiai Warits Ilyas, ayah Kiai Fikri. (foto istimewa)
Link Banner

Catatan: Hambali Rasidi

Sejak 1999.

Link Banner

Politik santri di Sumenep begitu dominan.

Setelah reformasi 1998.

Politik santri di Sumenep menempati dua pucuk pimpinan tertinggi di Sumenep. Ketua DPRD dan Bupati.

PKB sebagai Parpol baru yang dilahirkan dari rahim PBNU. Menduduki kursi super mayoritas di kursi legislatif Sumenep.

Dari 40 kursi yang diperebutkan pada Pileg 1999. 25 kursi dimiliki PKB. 3 kursi untuk PPP. Sisanya dibagi ke PAN 2 kursi. Golkar 3 kursi. PDI P sebanyak 4 kursi. PKU 1 kursi. PKPI 1 kursi, PPNUI 1 kursi.

5 kursi jatah khusus Fraksi TNI/Polri. Total 45 anggota DPRD Sumenep.

Pemilihan Bupati Sumenep tahun 2000 lewat DPRD. Calon Bupati, KH Ramdlan diusung PKB berpasangan dengan Abdul Muiz Ali Wafa. Meski dapat 25 kursi, Paslon PKB ini mendapat 27 kursi.

Praktis, Ketua DPRD Sumenep, KH A. Busyro Karim dari PKB. Bupati Sumenep, KH Ramdlan Siradj dan Wabup Muiz dari PKB.

Kejayaan PKB terus menguasai Parlemen hingga Pileg 2004. Kala itu, perolehan kursi PKB menurun menjadi 20.

Kursi PPP langsung meroket. Sejak Ketua DPC PPP Sumenep dinahkodai mendiang KH A. Warits Ilyas. Kursi PPP di DPRD Sumenep hasil Pileg 2004 langsung mendapat 7 kursi.

Kiai Warits menduduki jabatan Wakil Ketua DPRD Sumenep.

Ketua DPRD Sumenep hasil Pileg 2004 tetap jatah dari PKB, Kiai Busyro.

Saat Pilkada langsung pertama digelar 2005, Kiai Ramdlan kembali dilamar oleh PKB agar maju sebagai Calon Bupati Sumenep dari PKB yang kedua.

Kiai Ramdlan menolak ajakan PKB. Kiai Ramdlan mengaku sudah bertekad pensiun dari jabatan bupati. Kiai Ramdlan tak berminat merebut kursi bupati di periode kedua.

Karena menolak lamaran PKB. Desk Pilkada DPC PKB Sumenep membuka penjaringan Calon Bupati lewat konvensi.

Hasil konvensi, menetapkan KH A. Busyro Karim sebagai Cabup. KH Tsabit Khazin sebagai Cawabup.

Karena terbentur ijazah formal di KPU, Kiai Tsabit mundur. Sebagai penggantinya adalah Moh. Ramli, PNS dari Pemkab Jember.

Beberapa hari jelang pendaftaran bakal Paslon Pilkada di KPU. Kiai Warits bertandang menemui Kiai Ramdlan di Rumdis Bupati, JL Panglima Sudirman.

Seperti tertuang dalam buku Rahasia Politik Kiai Ramdlan (2008) hal 115.

Kedatangan Kiai Warits kala itu, hanya bercerita mimpi tidurnya kepada sang keponakan (Kiai Ramdlan) .

“Ponpes Annuqayah ada acara keramaian. Seperti acarah haflah imtihan. Dalam mimpi, saya sedang berceramah dengan nada marah. Nom (paman,red) Warits menghampiri saya dan berkata dalam mimpi: Dlan, kamu tidak usah risau dan mendengarkan apa kata orang lain,” cerita Kiai Ramdlan meniru perkataan sang paman (Kiai Warits,red) saat bermimpi.

Selesai bercerita mimpi, sang paman langsung pamit pulang.

Selang berapa hari, Kiai Warits kembali datang ke Rumdis Bupati.

Kedatangan kedua, Kiai Warits tak lagi bercerita mimpi. Sang paman memberi tahu surat dukungan dari segenap elemen masyarakat Sumenep agar PPP mencalonkan Kiai Ramdlan maju sebagai Calon Bupati di Pilkada Sumenep 2005.

Seperti biasa, selesai berbicara tanpa menunggu jawaban dari sang keponakan. Kiai Warits langsung pamit pulang.

Berapa hari berikutnya, Kiai Warits kembali bertandang ke Rumdis Bupati.

Kunjungan yang ketiga kala itu, Kiai Warits langsung melamar sang keponakan agar mengambil formulir Cabup di DPC PPP Sumenep.

Desk Pilkada PPP Sumenep membuka pendaftaran Calon Bupati dan Calon Wakil Bupati.

Kiai Ramdlan tak mendaftar di konvensi PPP.

Kiai Ramdlan tetap pada pendirian. Tak mau mencalonkan kembali sebagai Bupati Sumenep.

Namun, hasil mayoritas konvensi memilih Kiai Ramdlan. Formulir Cabup PPP itu ternyata diisi seseorang atas nama Kiai Ramdlan.

Selesai konvensi digelar di Hotel Safari, Kiai Warits kembali menemui Kiai Ramdlan di Rumdis.

Kunjungan yang keempat, Kiai Warits langsung membawa segepok berkas hasil konvensi PPP.

“Dlan, ini hasil konvensi. Semua peserta mengarah ke kamu. Di situ lengkap nama-nama calon wakil bupati. Terserah kamu, siapa yang mau dipilih wakil,” ujar Kiai Warits, seperti disampaikan ke Kiai Ramdlan.

“Waktu itu, saya seperti ditodong dan tak punya pilihan lagi,” cerita Kiai Ramdlan seperti tertuang buku Rahasia Politik Kiai Ramdlan, halaman 117.

Pencalonan KH Ali Fikri Warits sebagai Cawabup di Pilkada Sumenep 2020 tak jauh beda dengan KH Ramdlan Siradj kakak sepupu-nya.

Kiai Fikri bercerita kepada penulis.

Sejak abahnya (KH Warits Ilyas, red) wafat tahum 2014. Kiai Fikri sudah tak terpikir untuk terjun ke politik praktis, apalagi mencalonkan diri sebagai Wakil Bupati.

Kiai Fikri mengaku sudah terlalu berat menerima amanat almarhum untuk mengasuh ribuan santri dan meneruskan pengajian alumni asuhan abahnya.

Kiai Fikri baru bersedia nyalon Wabup karena disuruh Kiai Muqsid, salah satu sang paman yang juga salah satu kiai sepuh dan pengasuh Ponpes Annuqayah.

Kiai Fikri menjalani perintah Kiai Muqsid untuk mendaftarkan diri sebagai calon Wabup di PPP.

PPP belum mengeluarkan rekomendasi.

DPP PKB sudah mengeluarkan nama Kiai Fikri sebagai Calon Wabup berpasangan dengan Cabup Fattah Jasin. Padahal, Kiai Fikri tak ikut mendaftar dan mengambil formulir pendaftaran Cawabup yang dibukan Desk Pilkada DPC PKB Sumenep.

Kaule gun epenta foto KTP sareng Ra Badrud . Saya hanya diminta ngirim foto KTP oleh Ra Badrud (Sekjen DPW PKB Jatim,red.). Sebelum minta KTP, Ra Badrud minta nama lengkap sesuai KTP,” cerita Kiai Fikri kepada wartawan usai tasyakuran potong tumpeng sepulang dari pengambilan nomor urut Paslon Pilkada di KPU.

Sejak minta ngirim foto KTP via WhatsApp, Kiai Fikri tak langsung menjawab. Permintaan Ra Badrud baru dijawab 3 hari setelah Kiai Fikri konsultasi ke pamannya.

“Seandainya PPP tak merekomendasi saya sebagai Cawabup, saya tak akan bersedia. Karena dari awal, paman menyuruh saya daftar cawabup di PPP. Dan saya tak mendaftar ke Parpol lain, selain PPP. Saya bersedia jadi calon Wabup asal direkomdasi PPP,” terang Kiai Fikri.

Setelah KTP dikirim, Kiai Fikri diminta datang ke DPP PKB. Kiai Fikri pamit ke sang paman, Kiai Muqsid untuk menemui panggilan DPP PKB. Sang paman merestui.

Ketika DPP PKB mengumumkan Kiai Fikri sebagai Cawabup yang direkomendasi PKB. Rekomendasi PPP belum turun.

Kiai Fikri minta tolong kepada Kiai Ramdlan sebagai kakak sepupu-nya agar ikut dalam musyawarah keluarga membahas rekom PKB yang mencantumkan namanya.

Kiai Ramdlan ikut memotori musyawarah antar keluarga di Ponpes Annuqayah.

“Kak Ramdlan kan saudara tertua saya. Jadi, beliau dituakan dalam musyawarah keluarga terkait pencalonan saya. Waktu itu, PPP belum mengeluarkan rekom. Baru PKB yang mengeluarkan rekom,” terang Kiai Fikri kepada sejumlah wartawan sekaligus menjawab kenapa dirinya bersedia nyalon Wabup berpasangan dengan Cabup yang diusung PKB, Fattah Jasin.

Saat dirinya direkomendasi PPP untuk berpasangan dengan Cabup Fattah Jasin yang diusung PKB. Kiai Fikri baru menerima karena amanat PPP.

“Seandainya, saya tak diamanati PPP, saya tak akan nyalon Wabup,” tegas Kiai Fikri.

Pesona Satelit, 26 September 2020.

KOMENTAR

Belum Ada Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Tinggalkan Balasan

Mata
Mata
Lowongan

Ra Fuad Amin

Disway

Tasawuf

Inspirator

Catatan

Opini & Resensi

Sastra

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional

%d blogger menyukai ini: