Menu

Ketika Kiai Busyro Diperlakukan Tidak Manusiawi

Ketika Kiai Busyro Diperlakukan Tidak Manusiawi
KH A. Busyro Karim dan D Zawawi Imron saat menjadi Nara Sumber pada Halaqah Peringatan Hari Santri 2019 dengan Tema: Peran Strategis Santri dalam Pembangunan di Sumenep. Kegiatan halaqah ini berlangsung di Aula Graha Gus Dur Lantai II Kantor DPC PKB Sumenep, Jl. Imam Bonjol No. 35 Pamolokan Sumenep tersebut, Senin (4/11/2019). (matamadura)
Link Banner

matamaduranews.comSUMENEP-Bupati Sumenep, KH A. Busyro Karim bercerita saat dirinya tak punya apa-apa.

Waktu itu, Kiai Busyro hendak pulang dari Kota Sumenep ke dhalemnya, Ponpes Al-Karimiyyah, Beraji, Gapura.

Kiai Busyro memilih naik mobil taxi (MPU) yang biasa mangkal di terminal Bangkal.

Lama berada di dalam MPU sambil menunggu penumpang full. Ketika penumpang mobil taxi lebih muatan. Si sopir tanya tujuan masing-masing penumpang.

“Saya dulu naik mobil taksi Bangkal tujuan Beraji. Lama sekali tidak berangkat karena penumpang belum full. Setelah full dan mau berangkat, tiba-tiba ada penumpang baru juga mau ikut. Setelah ditanya arah tujuan, si penumpang jawab hendak ke Batang-Batang,” cerita Kiai Busyro.

“Lalu si sopir bertanya tujuan masing-masing penumpang. Saya jawab akan turun di Beraji. Si sopir menyuruh saya turun. Dengan alasan dekat. Si sopir memilih penumpang baru yang akan lebih banyak memberi uang ongkos. Walau saya lama nunggu dalam mobil taxi, saya disuruh turun. Karenan uang ongkos ke Beraji kalah besar dengan uang ongkos tujuan Batang-Batang. Tindakan sopir sudah tak manusiawi. Mengedepankan materi (uang) ,” sambung Kiai Busyro.

Cerita yang mengundang gelak tawa undangan ini, disampaikan Kiai Busyro sebagai Nara Sumber pada Halaqah Peringatan Hari Santri 2019 dengan Tema: Peran Strategis Santri dalam Pembangunan di Sumenep.

Kegiatan halaqah ini berlangsung di Aula Graha Gus Dur Lantai II Kantor DPC PKB Sumenep, Jl. Imam Bonjol No. 35 Pamolokan Sumenep tersebut, Senin (4/11/2019).

Selain Bupati Kiai Busyro, Budayawan Madura D Zawawi Imron juga hadir sebagai Nara Sumber.

Menurut Zawawi, salah satu ciri Santri adalah memancarkan nilai-nilai humanisme dalam setiap kehidupan.

“Gus Dur disegani banyak orang dan dunia karena apa yang diperjuangkan selalu mengendepankan nilai-nilai kemanusiaan (humanisme). Sehingga, ketokohan Gus Dur bukan hanya diakui oleh warga NU. Non Muslim juga menaruh hormat ke almarhum Gus Dur,” terang Pak De-panggilan akrab D Zawawi Imron.

KH Imam Hasyim, memberi pengantar sebelum acara dimulai. Menurut Ketua DPC PKB Sumenep ini, memperingati hari santri bertujuan untuk mengenang peran santri dan ulama yang berjuang untuk Kemerdekaan NKRI.

“Kegiatan ini untuk memperingati santri dan ulama yang berjuang dalam kemerdekaan Republik Indonesia,” tutur Kiai Imam dalam sambutan pembuka.

Seperti biasa, acara dibuka dengan pembacaan surat Ummul Qur’an lalu disusul dengan pembacaan Shalawat Nariyah bersama.

Terlihat hadir di acara yang diselenggarakan DPC PKB Sumenep ini, dihadiri para pengurus DPC, PAC dan Ranting PKB.

Rusydiyono, Mata Madura

Bagikan di sini!
KOMENTAR

Belum Ada Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Lowongan

Ra Fuad Amin

Budaya

Kerapan Sapi

Catatan

Opini dan Resensi

Sastra

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional