BeritaOpini

M. Muhri dan Rasidi, Siapa Berpeluang Jadi Ketua DPC PKB Sumenep?

×

M. Muhri dan Rasidi, Siapa Berpeluang Jadi Ketua DPC PKB Sumenep?

Sebarkan artikel ini

Oleh: Gus Dolla*

PKB Sumenep
Kompetisi atau peluang kepemimpinan antara dua figur dalam suksesi Ketua DPC PKB Sumenep. Ekspresi keduanya yang sama-sama tersenyum memberi kesan dinamika politik yang sehat dan terbuka, mencerminkan persaingan yang wajar dalam proses organisasi, bukan konflik personal.

matamaduranews.com-Di antara sembilan nama yang masuk dalam bursa calon Ketua DPC PKB Sumenep, nama Muhri dan Rasidi juga menjadi objek isu dinamika politik PKB. Meski keduanya berada dalam jalur sanad politik yang sama.

Begitulah dinamika suksesi kepemimpinan DPC PKB Sumenep. Sembilan nama calon ketua hasil Muscab 2026 sama-sama memiliki peluang untuk dipilih oleh DPP PKB. Yang membedakan hanyalah takdir dalam putusan Cak Imin sebagai Ketua DPP PKB.

Setidaknya, sembilan nama calon Ketua DPC PKB Sumenep kini menjadi perhatian publik politik lokal. Hal ini tidak terlepas dari posisi PKB sebagai salah satu kekuatan politik Sumenep karena memiliki akar kultural kuat dalam tradisi Nahdlatul Ulama.

Dalam konteks ini, nama M. Muhri dan Rasidi dapat dibaca sebagai bagian dari berbagai skenario politik yang sedang bergerak. Peluang keduanya sangat bergantung pada parameter kebutuhan politik PKB Sumenep menjelang agenda elektoral berikutnya.

Secara sederhana, M. Muhri dan Rasidi dapat dipahami sebagai simbol kekuatan jejaring sanad politik. Keduanya juga dikenal publik sebagai kepanjangan dari jaringan politisi PKB yang memiliki pengaruh dalam proses pengambilan keputusan partai.

Namun, keduanya juga belum sepenuhnya masuk dalam kategori politisi mandiri yang menjadi vote getter utama partai. Muhri dan Rasidi memiliki modal yang relatif sama. Keduanya memiliki rekam jejak panjang dalam organisasi mahasiswa dan kepemudaan NU sebelum masuk ke struktur partai dan parlemen.

Jalur inilah yang memberi legitimasi ideologis dalam tradisi PKB. Keduanya juga dikenal sebagai figur yang memiliki jejaring struktur dan pengalaman manajerial. Jejak tersebut dapat dipahami sebagai langkah strategis dalam menjaga komunikasi politik dan stabilitas organisasi. Ringkasnya, Muhri dan Rasidi merupakan bagian dari representasi energi kaderisasi.

BACA JUGA :  Gus Dur, Tokoh Gagal yang Berhasil

Jika pilihan strategis DPP PKB bertumpu pada agenda regenerasi dan mobilisasi kader muda, peluang keduanya cenderung menguat. Namun jika prioritasnya adalah stabilitas struktur dan kendali organisasi, maka nama-nama calon ketua lainnya tetap terbuka untuk dipertimbangkan.

Dalam praktik politik partai, keputusan jarang berdiri pada satu variabel. Sering kali yang dicari adalah titik temu—figur yang mampu menghadirkan energi baru tanpa mengganggu stabilitas lama.

Karena itu, peluang keduanya masih berada dalam jarak yang relatif samar. Dari sembilan nama kandidat Ketua DPC tersebut, tidak ada figur yang benar-benar dominan. Yang terlihat justru adalah kompetisi sehat yang sedang dibentuk oleh mekanisme organisasi di tingkat pusat.

Dari berbagai bocoran yang beredar, setidaknya ada tiga faktor yang berpotensi menentukan arah keputusan DPP.

Pertama, hasil uji kelayakan dan kepatutan di tingkat pusat.

Kedua, sinyal dukungan dari tokoh-tokoh kunci di lingkungan Nahdlatul Ulama.

Ketiga, tingkat penerimaan internal di dalam struktur partai.

Pada akhirnya, suksesi DPC PKB Sumenep bukan hanya soal siapa yang paling populer, tetapi siapa yang paling siap menjawab kebutuhan organisasi.

Dalam bahasa paling sederhana:

Muhri dan Rasidi sama-sama memiliki momentum dalam arus regenerasi. Namun yang menjadi perhatian utama DPP tetaplah satu hal—penjaga stabilitas organisasi.

Selisihnya tipis.

Dan keputusan akhirnya, seperti biasa dalam tradisi PKB, adalah soal takdir—bukan sekadar hitung-hitungan politik(*)

*pemerhati kebijakan politik lokal

Tinggalkan Balasan