Opini

Pengembangan Universitas Trunojoyo Madura (UTM) Sebagai Perguruan Tinggi Berbasis Klaster

×

Pengembangan Universitas Trunojoyo Madura (UTM) Sebagai Perguruan Tinggi Berbasis Klaster

Sebarkan artikel ini
Gambar Pengembangan Perguruan Tinggi Berbasi Klaster UTM Bangkalan

Oleh: Muh. Syarif*

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!
Gambar Pengembangan Perguruan Tinggi Berbasi Klaster UTM Bangkalan
Gambar Pengembangan Perguruan Tinggi Berbasi Klaster UTM Bangkalan

Pendidikan Tinggi berbasis klaster/kelompok digunakan sebagai metode percepatan pengembangan Universitas Trunojoyo Madura (UTM). Klaster merupakan aglomerasi program yang melibatkan pelaku dari hulu ke hilir, sehingga memungkinkan penggabungan skala program antar fakultas dan program studi untuk mengeliminasi beberapa kelemahan pengelolaan program studi yang ada selama ini. Kolaborasi pengembangan klaster melalui 6 (enam) sektor potensi Madura kedalam kurikulum yang berakar langsung pada persoalan masyarakat dapat melahirkan penguatan proses pembelajaran, kurikulum, integrasi prodi dan kompetensi lulusan yang berorientasi pada Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI).

Pendekatan klaster telah menjadi pilihan strategis dalam pengembangan daya saing UTM dengan fokus kepada 6 (enam) sektor potensi Madura. Keenam sektor dimaksud adalah, Sektor garam dan tembakau, Sektor Pangan (jagung, singkong, tebu, sapi dan hasil laut, Sektor Energi (migas dan energi terbarukan), Sektor Pendidikan (formal, informal dan non formal), Sektor Sosial, Tenaga Kerja dan Wanita dan Sektor Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Klasterisasi ini dibutuhkan untuk memperkuat fundamental pengembangan perguruan tinggi dalam menghadapi persaingan global yang menuntut persaingan dalam bidang apapun termasuk manajemen pengelolaan pendidikan tinggi. Eksistensi 6 (enam) sektor ini merupakan wujud kepedulian UTM atas permasalahan-permasalahan yang ada di Madura.Keberadaan perguruan tinggi memang seharusnya dapat dirasakan manfaatnya secara langsung oleh masyarakat. Madura beserta seluruh sumber daya alamnya, sumberdaya manusia, sosial dan budayanya mempunyai potensi luar biasa untuk bisa unggul dalam persaingan, baik di lingkup lokal, regional, nasional bahkan internasional.

Kerangka pikir pengembangan perguruan tinggi berbasis pendekatan klaster di UTM disajikan pada gambar berikut:

1. Klaster 6 (Enam) Sektor
Ilmu bukan dibuat untuk ilmu itu sendiri, tetapi digunakan untuk mendorong terciptanya kehidupan masyarakat yang lebih sejahtera secara ekonomi, lebih beradab dalam pergaulan, dan menciptakan tatanan luhur masyarakat yang bertaqwa kepada Tuhan YME. Keenam sektor yang teridentifikasi sebagai potensi yang dimiliki oleh Madura, digunakan sebagai arah pengembangan UTM dengan mensinergikan berbagai permasalahan yang muncul dalam pengembangan keenam sektor tersebut kedalam kurikulum. Dalam Kolaborasi ini, pengembangan kilmuan dengan keseluruhan suprastruktur (SDM, Kurikulum) dan infrastrukltur yang dibutuhkan akan berjalan linier dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Pengembangan perguruan tinggi berbasis klaster merupakan salah satu alternatif untuk percepatan pengembangan UTM karena klaster merupakan aglomerasi program yang melibatkan pelaku dari hulu ke hilir, sehingga memungkinkan penggabungan skala program antar fakultas dan dapat mengeliminasi beberapa kelemahan pengelolaan program studi. Pengembangan klaster yang ada saat ini masih lebih cenderung ke arah individu fakultas dan jurusan, sehingga klaster nantinya lebih berfungsi sebagai sentra pembelajaran keilmuan. Agar dapat lebih optimal, pengembangan klaster hendaknya dilakukan dengan strategi kelompok dan pendekatan partisipasi pada semua aspek secara komprehensif dan berkelanjutan. Klaster memberi kesempatan Dosen dan Mahasiswa untuk bekerja sesuai dengan yang ditentukanprofesi dan kualifikasi.

Tantangan utama dalam pengembangan klaster di UTM adalah menumbuh-kembangan modal sosial/ kebersamaan antar pelaku dalam klaster dan penyelesaian konflik yang timbul antar pelaku. Hal ini dapat diatasi dengan peningkatan capacity building pelaku yang terlibat dalam klaster. Penerapan program Problem Based Learning (PBL) merupakan pendekatan yang tepat serta sesuai untuk mencapai tujuan tri dharma di UTM. PBL menekankan active student center learning (ASCL) dimana para mahasiswa ditantang untuk menguji, mencari, menyelidiki merefleksikan, memahami makna, dan memahami ilmu dalam konteks yang relevan dengan profesi mereka di masa datang. Kolaborasi pengembangan klaster melalui 6 sektor kedalam kurikulum akan dengan mudah menyelesaikan persoalan kekinian yang dihadapi oleh masyarakat. Pengembangan kurikulum ini tentu juga tidak bisa dilepaskan dari Kurikulum berbasis kurikulum kualifikasi Indonesia (KKNI) sebagaimana telah ditetapkan oleh Pemerintah. Hal ini akan melahirkan sebuah penguatan proses pembelajaran, kurikulum, integrasi prodi dan kompetensi lulusan yang berorientasi dari pengembangan 6 (enam) sektor dan KKNI.

2. Pendekatan terhadap 6 Sektor
Perkembangan Madura berbanding lurus dengan kerumitan masalah yang ditimbulkannya, sehingga diperlukan penanganan berbeda dengan sebelumnya. Permasalahan yang dihadapi bersifat multisektoral dan memiliki kaitan satu sama lain. Permasalahan yang kompleks ini tidak dapat diatasi hanya dengan menggunakan satu disiplin atau pendekatan saja, tapi perlu penggabungan berbagai disiplin melalui pendekatan Interdisipliner dan pendekatan Problem Based Learning. Interdisipliner (dalam arti sempit) ialah pendekatan dalam pemecahan suatu masalah dengan menggunakan tinjauan berbagai sudut pandang ilmu serumpun yang relevan atau tepat guna secara terpadu. Interdisipliner (interdisciplinary) adalah interaksi intensif antar satu atau lebih disiplin, baik yang langsung berhubungan maupun yang tidak, melalui program-program pengajaran dan penelitian, dengan tujuan melakukan integrasi konsep, metode, dan analisis.Melalui pendekatan ini, masalah sosial didekati, dianalisa dan dikaji dari berbagai disiplin ilmu sosial secara serentak dalam waktu yang sama. Masalah sosial yang kompleks sesuai dengan subsistem masalahnya diungkap dari berbagai disiplin akademis.

Program Problem based learning (PBL) adalah filosofi pendidikan yang berorientasi pada masyarakat, terfokus pada manusia, melalui pendekatan antar cabang ilmu pengetahuan dan belajar berdasar masalah. Problem Based Learning merupakan suatu pendekatan pendidikan dengan menggunakan bahan stimulus untuk membantu mahasiswa berdiskusi tentang masalah yang penting, pertanyaan maupun isu. Problem Based Learning (PBL) adalah metode pendidikan yang mendorong mahasiswa dan dosen untuk mengenal cara belajar dan bekerjasama dalam kelompok untuk mencari penyelesaian masalah-masalah riil dan konkret. Pendekatan Problem Based Learning ini dapat mengembangkan kemampuan retensi dan recall pengetahuan lebih besar, mengembangkan keterampilan interdisipliner, dapat mengakses dan menggunakan informasi dari aneka domain subjek, mengintegrasikan pengetahuan dengan lebih baik, mengintegrasikan belajar di kelas dan lapangan, mengembangkan keterampilan belajar seumur hidup, menciptakan lingkungan belajar yang dapat meningkatkan keterampilan berpikir kritis dan memecahkan masalah serta dapat meningkatkaan motivasi dan kepuasan mahasiswa, interaksi mahasiswa mahasiswa, dan interaksi mahasiswa-dosen/ instruktur.

3. Implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi
Pendidikan dan pengajaran adalah point pertama dan utama dari Tri Dharma Perguruan Tinggi. Utamanya untuk menyiapkan lulusan yang berkualitas. Point kedua, penelitian atau riset penting bagi kemajuan perguruan tinggi dan masyarakat.Penelitian dan pengembangan akan mendorong Dosen dan mahasiswa untuk terus mengembangkan ilmu dan teknologi dalam rangka menjalankan perannya sebagai agent of change. Point ketiga, pengabdian pada masyarakat diartikan dalam rangka penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah dikembangkan di perguruan tinggi, khususnya sebagai hasil dari proses pendidikan dan penelitian.Ketiga point ini saling erat hubungannya, sebab penelitian harus menjunjung tinggi kedua dharma yang lain.

4. Hilirisasi Riset
Hilirisasi riset harus dilakukan agar riset UTM benar-benar dapat dirasakan oleh masyarakat. Untuk meningkatkan kemajuan dan kesejahteraan masyarakat, Program – program UTM harus dapat meningkatkan nilai tambah atau meningkatkan produktifitas. Perguruan tinggi harus diarahkan menjadi perguruan tinggi klastering, menyesuaikan dengan kemampuan, keahliandan kondisi masing- masing perguruan tinggi. Perguruan tinggi melalui hasil risetnya harus dapat berkontribusi untuk pembangunan lingkungan sekitarnya, bukan hanya untuk internal kampus sendiri. Untuk menunjang pengembangan dan implementasi risetnya, Perguruan tinggi dapat bekerja sama dengan pemerintah maupun swasta.

Pemerintah melalui Kemenristekdikti telah memetakan atau memberikan penugasan kepada Perguruan Tinggi untuk membantu penyelesaian permasalahan lingkungan atau wilayah sekitarnya. Sebagai tindak lanjut dari kebijakan tersebut, pemerintah harus melakukan revitalisasi sarana dan prasarana kampus, melakukan restrukturisasi institusi dan perubahan kebijakan anggaran.

5. Kemitraan Multipihak
Untuk dapat mewujudkan ide atau gagasan Pengembangan Pendidikan Berbasis Klaster yang fokus utamanya kepada Pengembangan Potensi Madura dengan keenam sektor dimaksud, maka UTM perlu melakukan kerja sama pentahelix dengan melibatkan lima pilar pemangku kepentingan guna meningkatkan kualitas Tridharma PT dalam bidang pengajaran, riset, dan pengabdian kepada masyarakat. Kerja sama pentahelix ini dilakukan untuk mewujudkan UTM sebagai transformative university yang dapat memberikan dampak pembangunan kepada masyarakat, serta membangun kerja sama interdependensi dengan berbagai pihak.Kemitraan multipihak menjadi sebuah keniscayaan dan konsekuensi UTM dalam konteks hilirisasi riset.UTM terpanggil untuk melakukan kerjasama dengan pentahelix dengan melibatkan lima pilar pemangku kepentingan guna meningkatkan kualitas Tridharma PT dalam bidang pengajaran, riset, dan pengabdian kepada masyarakat (link and match). Kerja sama pentahelix ini dilakukan untuk mewujudkan UTM sebagai transformative university yang dapat memberikan dampak pembangunan kepada masyarakat, serta membangun kerja sama interdependensi dengan berbagai pihak. Melalui kolaborasi ini UTM mengajak mereka yang terlibat dalam pentahelix ini ikut serta berinteraksi di bidang akademik.

6. Output
Tujuan utama manajemen perguruan tinggi adalah memberikan manfaat bagi stakeholder. Untuk itu, perguruan tinggi perlu mempersiapkan output lulusan yang memiliki kompetensi. Perguruan tinggi perlu melakukan proses secara sistematis dalam melaksanakan perbaikan berkesinambungan. Konsep yang berlaku disini adalah siklus PDCA (plan-do-check-action), yang terdiri dari langkah-langkah perencanaan, pelaksanaan rencana, pemeriksaan hasil pelaksanaan rencana, dan tindakan korektif terhadap hasil yang diperoleh. Melalui kolaborasi ini UTM mengajak mereka yang terlibat dalam pentahelix (pemerintah, industri/swasta, masyarakat, perguruan tinggi, dan media-asosiasi profesi ) ini ikut serta berinteraksi di bidang tri dharma perguruan tinggi. Dengan Pengembangan Perguruan Tinggi Berbasis Klaster ini, output yang akan dicapai nantinya oleh UTM adalah:
1. Kualitas pengajaran dan belajar yang semakin meningkat;
2. Mahasiswa dan Dosen membumi di masyarakat yang dapat menyatukan antara teori dan praktik;
3. Kualitas skripsi dan tesis (mahasiswa), jurnal, artikel (Dosen);
4. Akreditasi meningkat;
5. Terevaluasinya kualitas proses belajar mengajar;
6. Terlaksananya kolaborasi stakeholder secara intensif

7. Upaya Pencapaian
Beberapa langkah yang akan dilakukan oleh UTM kedepan dalam upaya memacu peningkatan output, yaitu:
1. Pemantapan Akreditasi.
2. Menerapakan Total Quality Management (TQM)
3. Merancang dan menggunakan kurikulum/program studi yang marketable atau demand oriented
4. Pengelola perguruan tinggi hendaklah memiliki profesionalisme yang tinggi, terutama dalam bidang manajemen;
5. Melakukan peningkatan mutu dosen
6. Mengembangkan jaringan kerja sama (networking) antara perguruan tinggi dengan stakeholder, terutama dalam hal penyusunan kurikulum dan penyaluran lulusan perguruan tinggi;
7. Melengkapi sarana perguruan tinggi dengan laboratorium dan perpustakaan
8. Mengembangkan etos kewirausahaan pada mahasiswa

KESIMPULAN
Pengelompokan 6 (enam) sektor yang menjadi potensi Madura menjadi arah pengembangan UTM dengan mensinergikan berbagai permasalahan kedalam struktur kurikulum yang dikembangkan. Kolaborasi tersebut secara eksternal dapat mengangkat harkat dan martabat kehidupan masyarakat dan secara internal memberikan pemahaman, bekal keilmuan atas dasar kompetensi yang dimiliki oleh setiap lulusan UTM. Metode klaster ini digunakan sebagai salah satu alternatif untuk percepatan pengembangan UTM, karena klaster merupakan aglomerasi program yang melibatkan pelaku dari hulu ke hilir, sehingga memungkinkan penggabungan skala program antar fakultas dapat mengeliminasi beberapa kelemahan pengelolaan program studi.

*Rektor Universitas Trunojoyo Madura (UTM), Bangkalan.