Tiga Anak Yatim, Ayah-Ibu Ikut Pergi: Berikut Kisahnya…..

Mata Madura - 03/10/2016
Tiga Anak Yatim, Ayah-Ibu Ikut Pergi: Berikut Kisahnya…..
Kondisi rumah kontrakan tiga anak yatim di Kelurahan Pejagan, Kecamatan Kota, Bangkalan. INSERT: Mata Madura menggendong Julian Tritama Ramadan. (Foto/Hasin Mata Bangkalan) - ()
Penulis
|
Editor
Mata Madura menggenndong Julian Tritama Ramadan (insert).Kondisi rumah kontrakan tiga anak yatim. (foto/Hasin Mata Bangkalan)

Kondisi rumah kontrakan tiga anak yatim di Kelurahan Pejagan, Kecamatan Kota, Bangkalan. INSERT: Mata Madura menggendong Julian Tritama Ramadan. (Foto/Hasin Mata Bangkalan)

MataMaduraNews.comBANGKALAN – Tasya Asprilia Viorentina, begitu nama lengkapnya. Seorang gadis kecil yang sedang bermain di teras bersama seorang temannya di Kelurahan Pejagan, Kecamatan Kota, Bangkalan, beberapa waktu lalu. Kehadiran Mata Madura dengan ucapan salam membuat konsentrasi bermain mereka pecah seketika. Mata Madura mengulurkan tangan untuk berjabat tangan, lalu mengusap kepala Tasya dengan penuh rasa cinta. Dari sorot matanya memang ada bahagia. Senyum manis di bibir mutiara kecil itu membuat setiap orang terpana.

Namun di balik kisahnya, tak seorangpun mampu menampung derasnya cucuran air mata. Batin siapa membenarkan jika ini kisah nyata, setelah sempat tidak percaya pada saat hanya mendengar sebuah cerita dari seorang rekan. Bahwa ada tiga anak bersaudara yang telah ditinggal pergi ibunya (Lisa, 33,) merantau mencari kerja ke luar negeri. Sedangkan penghasilan sang ayah (Tirto Nadi, 41) hanya didapat dari kerja meubeler kepada tetangganya yang tidak seberapa.

Na’as menimpa Mustain yang saat ini sedang mengenyam pendidikan dasar kelas 6 di SDN Pejagan 4 Bangkalan, Madura, Jawa Timur, beserta dua adiknya Tasya Asprilia Viorentina beserta Julian Tritama Ramadan, yang masih di bangku PAUD. Tepat bulan Ramadhan beberapa bulan yang lalu, tidak berselang lama setelah ditinggal ibunya ke luar negeri, sang ayah, Tirto Nadi, meninggal dunia. Dan apalah daya tiga orang anak kecil itu, keadaan tetap memaksa mereka untuk tinggal hanya bertiga tanpa dua orang tua.

Beruntung ada tetangga yang baik hati. Salah satunya, Bapak Habibullah yang sempat menjadi tempat bekerja sang ayah sebelum meninggal dunia. Dia tersentuh hatinya untuk merawat dan mengurusi tiga anak bersaudara tersebut. Bersama dengan tetangga lainnya, Pak Habib, begitu panggilan akrabnya, ikhlas mengasuh dan membiayai hidup dan biaya sekolah untuk tiga anak yatim tersebut.

“Dari hasil pemberian tetangga dan teman-teman, saya gunakan untuk biaya hidup dan pendidikan tiga anak itu,” cerita Pak Habib kepada MataMaduraNews.com.

Memang, tidak berselang lama dari kepergian sang ayah, sang ibu tercinta kembali dipelukan tiga anak malang itu. Lisa yang baru beberapa bulan pergi untuk sekadar mengais rezeki di negeri nun jauh, hadir untuk memberikan kasih sayang yang tak ternilai harganya bagi ketiga buah hati. Namun masalah belum jua selesai. Sang ibu masih harus dibebani biaya hidup. Maklum, setelah dari luar negeri, Lisa belum punya pekerjaan pasti. Dia harus pontang-panting mencari pekerjaan seadanya untuk membiaya hidup ketiga anaknya. Sementara, kesehatan dan pendidikan mereka bertiga memakan biaya tidak sedikit setiap bulannya.

Kini, Lisa hanya bisa berusaha tabah. Sembari menunggu belas kasih dermawan, dia bekerja apa adanya, yang penting halal. Seperti, cuci baju dan setrika. Semua dia lakuka demi ketiga anaknya.

Pemerintah Bangkalan diharap hadir di saat warganya tengah butuh solusi atau perhatian lebih. Tapi, Lisa mengaku belum ada utusan dari SKPD terkait untuk sekedar memberi bantuan ala kadarnya. Padahal, rumah Lisa masih di dalam Kota Bangkalan. Tepatnya, Jl Pembela, 72, Kelurahan Pejagan, Kecamatan Kota.

“Datanya sudah saya serahkan ke Dinas Sosial Kabupaten Bangkalan. Namun sepertinya belum ada tindak lanjut,” cerita Mathur Husyairi yang juga aktivis anti korupsi di Bangkalan, kepada MataMaduraNews.com.

Kini Mustain dan kedua saudaranya tinggal di kontrakan yang jauh dari kategori layak bersama ibu kandungnya. Atap dapurnya bocor. Dinding dapurnya hanya dari gedek (anyaman bambu). Beberapa seng bekas nampak ditempel tak beraturan untuk menutupi dinding rumah dan dapur. Jika ada kucing atau ayam, sudah pasti bisa leluasa keluar masuk dapurnya. Lantai dapur pun juga rata dengan tanah.

“Mereka tak butuh kita untuk tetap hidup. Karena memang bukan kita sang pemberi kehidupan. Tetapi kita butuh mereka hanya sekadar untuk melihat sejauhmana hati ini merasakan jerit tangis mereka,” gumam batin Mata Madura.

Semoga para bangsawan beserta pemangku jabatan di Negeri yang kaya raya ini masih bisa terketuk hatinya untuk sekadar menoleh kepada saudara-saudaranya yang belum memiliki nasib beruntung. Dan masih banyak Mustain-Mustain lain di luar sana. Lalu, “bagaimana jika itu terjadi pada kita? Pada anak kita?,” Semoga Allah senantiasa mengampuni kita semua, Amin.

Hasin, Mata Bangkalan

Tinggalkan Komentar

Close Ads X
--> -->