Transaksi Kripto Indonesia Tembus Rp 400 Triliun

matamaduranews.com – Transaksi kripto Indonesia mengalami penurunan tahun 2022. Tapi jumlah investor bertambah.

Executive Chairman Digital Banking Institute, Bari Arijono menyoroti risiko-risiko baru yang muncul dari pesatnya perkembangan cryptocurrency atau mata uang kripto.

Menurut Beri, dari sisi perekonomian, ekonomi digital yang saat ini digaungkan akan mulai bergeser ke ekonomi distribusi atau ekonomi blockchain.

“Kegiatan menggunakan cryptocurrency dan perkembangannya cukup cepat di Indonesia, ada sekira Rp 400 triliun transaksi dan melebihi Bursa Efek Indonesia. Ini suatu fenomena,” ujarnya dalam webinar “Cyber Crime Emergency: Developing IT Solutions, Behavior, and Awareness In The Banking Ecosystem”, ditulis Senin (30/5/2022).

Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Kementerian Perdagangan merilis laporan terbaru terkait jumlah investor kripto di Indonesia serta transaksi perdagangan sampai bulan Mei 2022.

Dalam laporan tersebut, Bappebti menyebutkan dari akhir Desember 2021 sampai Mei 2022, terdapat penambahan hampir 3 juta investor dari 11,2 juta menjadi 14,1 juta investor.

VP Marketing Tokocrypto, Adytia Raflein mengatakan laporan pertumbuhan yang dikeluarkan oleh Bappebti memberikan bukti nyata bahwa industri aset kripto di Indonesia masih bergerak ke arah positif, meski dihantam situasi bear market.

Pertumbuhannya memang tidak terlalu memuaskan, tapi jumlah investor aset kripto masih jauh lebih besar dibanding saham.

“Pertumbuhan jumlah investor kripto ini bergerak ke arah positif di saat situasi market mengalami tekanan. Dampak dari kondisi market terlihat dari jumlah transaksi perdagangan, namun hal ini sudah diantisipasi sebelumnya, sehingga belum memberikan efek serius untuk pertumbuhan bisnis industri kripto di Indonesia,” kata Adytia dalam keterangan media.

BACA JUGA :  Tanamkan Kesadaran Tertib Lalu Lintas, Siswa di Bangkalan di Hipnotis

Lebih lanjut, Adytia mengatakan industri kripto dalam negeri masih terus bergeliat. Hal ini dilihat dari masih adanya sejumlah project aset kripto dan NFT baru dari pelaku industri lokal yang rilis. Mereka percaya bahwa bear market bisa menjadi peluang yang baik untuk menunjukkan project mereka.

Kondisi bear market bisa menjadi seperti seleksi alam di dunia aset kripto dan blockchain, di mana project kripto dan NFT akan diuji untuk bertahan dan mencari peluang. Pasar akan memperlihatkan mana project yang punya fundamental yang baik dan tidak.

Salah satu platform jual beli kripto dan bitcoin di Indonesia adalah Tokocrypto. Perusahaan ini berhasil mencatat pertumbuhan jumlah investor mencapai 2,7 juta per Mei 2022. Sementara, transaksi perdagangan atau weekly trading volume mencapai USD 300-400 juta atau sekitar Rp 4,4 – 5,9 triliun.

“Bisnis Tokocrypto masih mengalami pertumbuhan. Kami terus mengembangkan ekosistem blockchain, TokoVerse untuk meningkatkan revenue perusahaan. Sejauh ini kami juga masih mencari talenta-talenta terbaik untuk bergabung di perusahaan untuk memajukan industri aset kripto dan blockchain di Indonesia,” jelas Adytia, seperti dikutip harian.disway.id.

Ekosistem TokoVerse, yang terdiri dari TokoMall (NFT marketplace), TokoLabs (program akselerator startup blockchain), T-Hub (crypto hub), Kriptoversity (edutech), TKO (project kripto) dan lainnya bisa menjadi lini bisnis baru yang bisa memanfaatkan perkembangan blockchain, Web3, Metaverse, NFT, DeFi, GameFi dan lainnya. Untuk terus mendorong pertumbuhan, Tokocrypto juga fokus pada edukasi dan perlindungan investor. Tujuannya agar masyarakat merasa aman dan nyaman ketika membeli aset kripto.(*)

Komentar