Ekonomi

Transaksi Rp 300 Triliun Itu

×

Transaksi Rp 300 Triliun Itu

Sebarkan artikel ini

Oleh: Djono W Oesman

Rp 300 Triliun
koran tempo

Transaksi mencurigakan trending topic. Lajunya ekstra cepat. Dari harta Rafael Alun Trsiambodo (ayah Mario, tersangka aniaya David) Rp 56,1 miliar, naik jadi setengah triliun rupiah. Kini, di luar kasus itu, Menko Polhukam Mahfud MD terima laporan Rp 300 triliun.

KRIWIKAN dadi grojogan. Pepatah dalam bahasa Jawa itu berarti aliran air kecil, gemercik, berubah jadi air terjun, gemerojok. Bermula dari asmara remaja Mario-Agnes, menimbulkan penganiayaan berat Mario terhadap David, jadi meluas ke problem utama Indonesia: korupsi.

Dugaan korupsi Rafael masih diusut KPK. Masih rumit. Yang menurut Deputi Pencegahan dan Monitoring KPK Pahala Nainggolan kepada pers, Selasa (7/3), ”Bakal makan waktu lama. Sampai gue pensiun pun, jangan-jangan belum terungkap.” Saking rumitnya.

Mendadak, muncul laporan baru, di luar kasus Rafael. Mahfud menerima laporan transaksi mencurigakan senilai Rp 300 triliun. Di tempat kerja Rafael juga, Direktorat Jenderal Pajak, Kementerian Keuangan, dan Bea Cukai.

Mahfud kepada pers saat di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Rabu (8/3), menjelaskan.

”Saya sudah dapat laporan pagi tadi, terbaru, malah ada pergerakan transaksi mencurigakan Rp 300 triliun di lingkungan Kementerian Keuangan yang sebagian besar ada di Direktorat Jenderal Pajak dan Bea Cukai.”

Dilanjut: ”Kemarin ada 69 orang dengan nilai hanya enggak sampai triliunan, hanya ratusan miliar (transaksi mencurigakan Rafael, setengah triliun rupiah). Sekarang, hari ini, sudah ditemukan lagi kira-kira Rp 300 triliun. Itu harus dilacak. Saya sudah sampaikan ke Ibu Sri Mulyani (menteri keuangan). PPATK juga sudah menyampaikan.”

Sementara, transaksi mencurigakan rekening Rafael, eks kepala Bagian Umum Ditjen Pajak Jakarta Selatan, yang Rp 500 miliar, sedang ditelisik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). ”Iya, sedang diselidik KPK,” ujar Mahfud.

Pernyataan Mahfud selalu dahsyat. Tajam menukik. Membela rakyat. Asli.  Pernyataannya kali ini segera ditanggapi dua lembaga di bawah Kementerian Keuangan. Yakni, Direktorat Jenderal Pajak dan Direktorat Jenderal Bea Cukai.

Inspektur Jenderal Kemenkeu Awan Nurmawan Nuh langsung jumpa pers, Rabu (8/3).

Ia mengatakan, ”Memang, sampai saat ini kami belum tahu itu (pernyataan Prof Mahfud), khususnya inspektorat jenderal ya, belum tahu. Tapi, kami belum menerima informasi yang seperti apa. Nanti kami cek. Memang masalah ini sudah tahu di pemberitaan, tapi nanti akan kami cek.”

Sementara itu, Dirjen Bea Cukai Askolani juga belum tahu informasi transaksi mencurigakan Rp 300 triliun itu.

Askolasi mengatakan, ”Tentunya infonya basisnya adalah dari PPATK. Dari hal itu perlu koordinasi. Tentunya info itu kan belum diterima Pak Irjen (Awan Nurmawan) sehingga masih nanti Pak Irjen akan komunikasi dengan Pak Menko Polhukam.”

Intinya belum tahu. Dua lembaga yang disorot itu, para petingginya belum tahu soal Rp 300 triliun. Karena laporan masyarakat pastinya ditujukan ke pejabat yang terkenal proaktif menanggapi laporan rakyat: Prof Mahfud MD. Mungkin, orang mengira, percuma lapor-lapor ke lembaganya langsung karena pasti didiamkan. Budaya jelek kita.

Semua mengerucut, tanggung jawab Menteri Keuangan Sri Mulyani. Belum lagi, laporan Bursok Anthony Marlon, pegawai Direktorat Jenderal Pajak Sumatera Utara, yang mendadak menjadi buah bibir, yang mendesak Sri Mulyani mundur dari jabatan menteri.

Sebab, menurut Bursok, dirinya sudah melaporkan adanya penyimpangan (tepatnya pencurian) keuangan negara sejak 2019, tetapi tidak ditanggapi Sri Mulyani. Bahkan, Bursok mengaku sudah menolak suap Rp 25 miliar dari pencurinya. Ditolak mentah-mentah.

Cuma, yang meragukan, LHKPN Bursok 2021 harta Rp 860 juta. Utangnya Rp 1,8 miliar. Minus hampir Rp 1 miliar. Unik. Walaupun, ia mengatakan: Tidak takut dipecat dari jabatannya. Gambling. Demi menyelamatkan uang negara.

Bisa dibayangkan, betapa pusing Sri Mulyani. Ratusan juta mata rakyat Indonesia tertuju pada Sri Mulyani. Berharap ada penyelesaian cepat.

Sri Mulyani tokoh hebat internasional. Dia menteri keuangan terbaik Asia tahun 2006 versi Emerging Markets, 18 September 2006, dinyatakan di sela Sidang Tahunan Bank Dunia dan IMF di Singapura. Dia juga terpilih sebagai wanita paling berpengaruh ke-23 di dunia versi majalah Forbes tahun 2008.

Sri Mulyani adalah direktur pelaksana World Bank, 5 Mei 2010 sampai 27 Juli 2016, saat dia diminta pulang oleh Presiden Joko Widodo untuk kembali menjadi menteri keuangan. Dia tinggalkan jabatan tinggi di World Bank.

Sangat jarang wanita Indonesia sehebat Sri Mulyani. Kini, berawal dari cinta monyet Mario-Agnes, dia terima laporan dugaan penyimpangan uang negara akibat perilaku bawahan, secara bertubi-tubi. Yang, petinggi KPK Pahala Nainggolan pun mengakui perakaranya rumit. Suatu tantangan berat buat Sri Mulyani.

Semua laporan itu terkait satu: Pencucian uang. Kalau uang dicuci, hanya ada empat penyebab: 1) Korupsi. 2) Hasil narkoba. 3) Dana teroris. 4) Hasil human trafficking. Sedangkan, di kasus ini: Dugaan korupsi.

Dikutip dari situs International Monetary Fund bertajuk Anti-Money Laundering/Combating the Financing of Terrorism – Topics, disebutkan perincian pencucian uang. Begini ringkasnya.

Tindak pidana seperti perdagangan narkoba, penyelundupan, perdagangan manusia, korupsi, cenderung menghasilkan keuntungan yang besar bagi pelaku individu atau kelompok. Mereka penjahat keuangan.

Namun, jika penjahatnya menggunakan dana dari sumber-sumber terlarang tersebut, mereka menarik perhatian pihak berwenang. Gampang ditangkap polisi.

Maka, para penjahat itu bersilat uang, melancarkan jurus-jurus keuangan, untuk mengelabui aparat hukum. Supaya mereka bebas menggunakan uang hasil kejahatan itu. Seolah-olah, itu uang yang didapat secara legal. Bukan hasil kejahatan.

Banyak jurus silat untuk mengelabui aparat hukum. Bervariasi. Bisa kombinasi. Memanfaatkan celah hukum. Intinya, rumit dilacak. Sehingga penjahatnya bebas merdeka.

Kini pertanyaannya satu: Apakah kehebohan transaksi Rafael dan transaksi Rp 300 triliun itu bisa diungkap?

Seumpama bisa, hebat luar biasa. Seandainya tidak, tetap luar biasa, asal dijabarkan terbuka deskripsi persoalannya.

Yang paling tidak menarik, kalau semua ini tanpa tindak lanjut. Mengendap jadi arsip. Lenyap ditelan waktu. Lalu sepi lagi. (*)

sumber: hariandisway.id

KPU Bangkalan