Menu

Galang Dana Terakhir dan Kisah Siswa Ikut Aksi untuk Guru Budi

  Dibaca : 248 kali
Galang Dana Terakhir dan Kisah Siswa Ikut Aksi untuk Guru Budi
Kolase: Guru Budi, yang tewas dianiaya muridnya, MH. (Foto Istimewa/Tribun)
Link Banner

MataMaduraNews.comSAMPANG-Aksi solidaritas terhadap Ahmad Budi Cahyanto, guru SMAN 1 Torjun, Sampang, memang tak bisa dibendung. Mulai dari penggalangan dana, simpati dan kecaman pada pelaku, hingga aksi demonstrasi di Sampang pada Kamis (08/02/2018) lalu.

Sehari sebelumnya, Rabu (07/02/2018), donasi dari Sumenep sebesar Rp 44 juta diserahkan rombongan PGRI, STKIP PGRI, dan FHK2 Sumenep kepada keluarga guru Budi. Bantuan tersebut digalang melalui aksi solidaritas oleh guru-guru PGRI, simpatisan di kampus STKIP PGRI, dan FHK2 Sumenep di lapangan juga via rekening, pasca meninggalnya guru Seni Rupa itu.

Teristimewa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI juga menyiapkan bantuan beasiswa kepada calon anak dari almarhum guru Budi.

”Beasiswa Kemendikbud ini untuk diberikan bagi anaknya kelak. Istri mendiang kini tengah hamil 5 bulan. Itu nanti ada mekanisme khusus dalam membantu putra atau putrinya setelah ia besar,” kata Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kemendikbud, Hamid Muhammad seusai takziah di rumah duka di Sampang, Sabtu (03/02/2018) lalu.

Sebelumnya, Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur menyampaikan rencana memberikan penghargaan kepada guru Budi. Jika disetujui oleh Gubernur Soekarwo, penghargaan akan diserahkan pada Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2 Mei nanti di Gedung Grahadi.

InsyaAllah kami berikan penghargaan, nanti kami mintakan Pak Gubernur. Kami anggap dia (Budi, red), sebagai pahlawan pendidikan Jawa Timur,” ujar Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur Saiful Bachri, dilansir dari JawaPos.com, Jumat (02/02/2018).

Bahkan, anggota Komisi III DPRI RI, Arteria Dahlan juga memberikan perhatian khusus untuk kasus guru Budi. Ia menemui Sianit Sinta, istri almarhum dan keluarga guru Budi pada Jumat (09/02/2018) didampingi Kapolres Sampang AKBP Budi Wardiman .

”Kami akan mengawal penuh proses penegakan hukum terkait kejadian penganiayaan guru oleh seorang siswa hingga meninggal dunia,” jelas politikus PDI-P itu.

Terbaru, ribuan massa di Sampang yang terdiri dari HMI, GMNI, FORMASA, KAHMI, Aliansi Ulama Madura (AUMA), ADVOKASI, Aliansi Guru Sukwan (AGUS), PGRI, serta perwakilan dari siswa sekolah menengah atas (SMA) se-Kabupaten Sampang, melakukan aksi pada Kamis (08/02/2018) lalu. Mereka menuntut pemerintah dan pihak berwajib untuk serius menyelesaikan kasus yang menjadi duka dunia pendidikan Nasional itu.

Mengutip Surya.co.id, di tengah-tengah orasi, Fathul Arifin, teman sekaligus inisiator penggalangan dana untuk almarhum Budi, melaporkan hasil donasi yang telah dia lakukan.

”Hingga saat ini dana yang terkumpul sejumlah Rp 199 juta,” tutur Arifin, yang bersama ribuan orang lainnya melakukan aksi di Pemkab, Polres, dan Kejari Sampang.

Ia menegaskan, itu merupakan bantuan untuk keluarga guru Budi dari galang dana terakhir.

”Setelah ini tidak akan ada penggalangan lagi. Jika ingin menyumbang, silakan langsung ke rumah duka, atau rekening Mbak Sianit,” imbuhnya.

Ternyata, dalam aksi solidaritas waktu itu, banyak hal menarik. Selain shalat ghaib dan tahlilan yang sudah umum diketahui, ada sejumlah siswa dari salah satu SMA se-Kabupaten Sampang yang ikut aksi karena murni terpanggil untuk menuntut hukum ditegakkan bagi pelaku penganiayaan guru Budi.

Apakah mereka bolos sekolah?

”Tidak, ini hanya perwakilan OSIS dan kami sudah mendapatkan izin dari Kepala Sekolah,” kata seorang peserta aksi, Haryadi (17) seperti ditulis Surya.co.id.

Yang merenyuhkan, keikutsertaan mereka bukan sekadar melengkapi kelompok aksi dari SMA se-Kabupaten Sampang. Haryadi mengaku, menjadi bagian peserta aksi adalah panggilan hati.

”Saya ikut turun ke jalan karena saya merasa peduli dengan kejadian yang menimpa Pak Budi, saya berharap proses pengadilan segera usai,” kata siswa Kelas XI IPS 1 SMA 1 Sampang tersebut.

Sedikit flashback, tuntutan utama massa aksi sebagaimana mereka sampaikan adalah diproses hukumnya tersangka penganiayaan terhadap Guru Budi. Mereka menolak jika tersangka hanya direhabilitasi, karena perbuatan (tersangka inisial H) telah menghilangkan nyawa.

”Tuntut pelaku seberat dan seadil-adilnya, jangan pernah pandang bulu,” begitu suara koordinator aksi dari pengeras suara dikutip dari Surya.co.id.

Rafiqi, Mata Madura

KOMENTAR

1 Komentar

Link Banner
Link Banner Link Banner

Jejak Ulama

Kategori Pilihan

Catatan

Opini dan Resensi

Sastra

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional