47.000 Penderita TBC di Jatim Belum Terdeteksi

matamaduranews.com-SURABAYA-Sekitar 90.0000 orang di Jawa Timur diprediksi menderita tuberkulosis (TBC). Namun, yang terdeteksi resmi baru 43.000. Sisanya, sekitar 47.000, masih berkeliaran tanpa tahu jika terjangkit TBC.

”Karena itu yang dibebankan oleh Menteri Kesehatan. Setidaknya harus menemukan 90.000 kasus. Saat ini masih terdeteksi 43.000 kasus,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Jatim dr Erwin Astha Triyono, April 2022.

Jumlah kasus TBC di Jatim di bawah dua provinsi lain yang lebih tinggi. Yakni, Jateng yang mencapai 44.000 dan Jabar mencapai 80.000 kasus.

Menurut Erwin, seberapa pun jumlah kasus yang terdeteksi itu merupakan hal bagus. Agar bisa menangani lebih dini. ”Itu jalan terbaik kita semua untuk mengeliminasi TBC dengan cara yang benar,” lanjutnya.

Untuk itu, Dinas Kesehatan Jatim meluncurkan aplikasi E-TIBI. Aplikasi itu bisa dipakai semua orang. Yakni, untuk mendeteksi dan melakukan asesmen secara mandiri. Apakah sedang menderita TBC atau tidak.

Aplikasi itu perpanjangan dari aplikasi sebelumnya: sobat TIBI. Namun, penggunaan sobat TIBI hanya bisa dipakai para tenaga kesehatan. Sedangkan aplikasi E-TIBI bisa dipakai langsung oleh masyarakat.

BACA JUGA :  PSSI Kecewa Empat Pemain Timnas Dilarang Tampil di Piala AFF 2020

Masyarakat kini sudah punya kesempatan untuk melakukan asesmen TBC kepada diri sendiri. Dengan demikian, optimalisasi penemuan kasus TBC di Jatim bisa lebih tinggi lagi. Keuntungannya juga kembali kepada masyarakat.

”Biar intervensi perilaku bisa dilakukan dengan cepat. Supaya tidak sampai menular ke orang lain,” terangnya. Pun dengan intervensi pengobatan. Bisa dilakukan sejak dini sehingga tak sampai stadium akhir.

Selanjutnya, para nakes jajaran Dinkes Jatim bakal fokus pada penanganan. Yang diprioritaskan adalah para ODHA (orang dengan HIV/AIDS). Sebab, mereka termasuk yang paling rentan terpapar TBC. Kemudian, berlanjut pada penderita diabetes dan lansia.

Tentu, Erwin juga menyadari, pemakaian aplikasi E-TIBI itu akan menemukan tantangan. Terutama kemauan masyarakat untuk kasus mereka sendiri. ”Itulah yang menjadi tantangan. Semoga semua masyarakat bisa memanfaatkan dengan baik,” katanya.

Pemakaian aplikasi E-TIBI cukup mudah. Masyarakat bisa mengakses aplikasi tanpa harus login terlebih dahulu. Setelah mengetahui status pemeriksaan, masyarakat terduga TBC diharapkan segera datang ke fasilitas kesehatan terdekat. Dengan begitu, mereka dapat segera ditindaklanjuti oleh tenaga kesehatan. (HarianDisway)

Komentar