Menu

Selamat Jalan Sang Inspirator; In Memorial H Deni Abu Said

Selamat Jalan Sang Inspirator; In Memorial H Deni Abu Said
alm. H Deni Abu Said, eks wartawan Jawa Pos dan Ketua PWI Sumenep dua periode.(matamadura)

matamaduranews.comSUMENEP-Minggu malam, ada kerinduan yang mendalam untuk bertemu Mas Deni. Namun karena saya di Surabaya, kerinduan itu saya pendam. Sebab hari Senin saya akan mau tugas ke Sumenep.

Senin malamnya, saya datang ke rumah Mas Deni di Jl. KH Agus Salim Pangarangan. Namun rumah itu ditutup, terpaksa saya urungkan bertandang.

Namun rasa rindu itu tercukupi walau hanya melihat rumahnya.

Kamis pagi (7/1/2021) sekira jam 05.00 saya baca di Gruop WA Tennis Persami, ada berita duka itu.

Saya hampir tak percaya, sebab rumah putrinya Mas Deni, yang berdempetan dengan rumah saya, tidak ada tanda-tanda apapun.

Saya memberanikan diri datang kerumah Mbak Yuyun, putri tertua Mas Deni dan pura2 tanya Mas Deni. Dan benar Mas Deny sudah dipanggil Sang Khalik.

Lungkrah rasanya sekujur tubuh, tokoh yang selama ini dijadikan suritauladan dan penganjur kejujuran, telah tiada.

Sesungguhnya berita duka itu sangat memukul dan membatin pada diri saya. Andai tidak dikuatkan Hambali Rasidi, Pimred Mata Madura untuk menulis In Memorial ini, rasanya saya hanya akan tetap mengukir langit-langit peristiwa panjang bersama Almarhum.

Saya berkenalan dengan H Deni Abu Said dalam peristiwa penting dalam karier saya menjadi wartawan.

Sekitar tahun 1980, saat masih dibangku sekolah SMA kelas II, saya menulis berita tentang kasus pungli oleh oknum Rutan.

Namun dalam tulisan saya ditulis sebagai oknum Kejaksaan. Tulisan yang aku kirim itu, dimuat oleh majalah kesohor saat itu, Majalah Mingguan Detektif & Romantika disingkat DR terbitan Jakarta.

Bisa dibayangkan di era Orde Baru yang represif itu, pers tidak sebebas era Reformasi.

Saya di uber habis oleh intelegen pihak kejaksaan, beberapa kali pihak kejaksaan ke rumah, saya sembunyi karena ketakutan.

Maklum saya masih berusia 17 tahun saat itu. Dan tentu tidak mengerti tentang dunia Pers, tentang hak jawab ataupun Kode Etik Jurnalistik seperti hari ini.

Entah dari mana Mas Deni tahu saya, ia datang ke rumah bersama almarhum Zainal Lenon, tetangga dekat saya.

Hebatnya Mas Deni tidak menyalahkan saya, justru memberi spirit untuk mempertahankan tulisan itu.

“Dik Faruk bikin tulisan baru (running news), dan ralat kesalahan penyebutan Kejaksaan,“ pintanya.

Saya pun bikin tulisan lanjutan seperti yang diminta almarhum.

Pada minggu berikutnya, terbit berita terbaru kasus pungli di Rutan yang penyebutan peristiwanya dengan benar.

Dari perkenalan itulah, saya banyak dibimbing Mas Deni. Juga sering diajak wawancara bareng-bareng kepada nara sumber, itu dilakukan setelah saya pulang sekolah.

Jika hari minggu, saya diminta untuk datang ke rumahnya, untuk belajar tehnik penulisan versi JAWA POS dan TEMPO.

Dan memang, ia cukup piawai dalam menjelaskan tehnik penulisan. Sebab beliau lulusan terbaik
tehnik penulisan versi JAWA POS, tempo dulu.

Setelah lulus SMA, saya lebih memilih sebagai jurnalis dibandingkan memilih kuliah. Karena saya menikmati “nyaman” nya menjadi jurnalis.

Bahkan dari didikan Mas Deni, tehnik penulisan cerpenku lebih bagus dan beberapa kali dapat penghargaan di berbagai Majalah Remaja.

Tahun 1982, adalah masa emas jurnalis di Sumenep walau Orde Baru masih “greng”, karena Mas Deni, mampu menghimpun dan mengayomi wartawan dengan cerdas.

Walau bukan Ketua PWI, Mas Deni hanya keponakan ketua PWI Sumenep, H. Usman Saleh. Dan bagusnya H. Usman Saleh, seperti memberi ruang untuk memimpin anggota PWI yang usianya sepantaran dengan Mas Deni.

Misalnya, Zainal Lenon ( Majalah Topik ) H. Max Gazali ( Tabloid Surabaya Minggu ), H. Yaqub Nasirwan (Memorandum ), A. Tauhit ( Majalah Fakta ), A. Jailani ( Surabaya Post ), M. Ramli ( Karya Dharma), ABD. Rasyid (Fakta) beliau beliau itu sudah wafat, semoga diampuni dosa-dosanya.

Yang masih sehat A. Movie Asmara ( Detektif & Romantika ), H. Kandar RRI, RB. Agus Iriyanto ( Bhirawa ) dan
saya yang saat itu menjadi wartawan SKM Tabloid Eksponen.

Mas Deni di saat itu selalu membawa teman-teman ke zone aman. Walau berita-berita yang muncul sering
membuat konflik dengan Pemkab, misalnya dalam kasus SD Fiktif di era Kancab P & K H. Munawar. BA.

Demikian pula tentang berita era Petrus (Penembak Misterius) di era Laksamana Sudomo, juga di era Panglima Beny Mordani.

Kebersamaan para jurnalis di era itu luar biasa, nyaris tidak ada permusuhan sesama Jurnalis. Kami hampir tiap hari bertemu dan berkumpul, tapi paling sering di Rumah Makan 17 Agustus milik Bang Edy Setiawan.

Disamping itu, tiap bulan para jurnalis itu adakan pertemuan dari rumah ke rumah. Istri jurnalispun adakan kegiatan yang sama, sesama istri jurnalis.

Pada bulan Ramadlan, setiap minggu, Shalat traweh bergiliran dan menghimpun zakat untuk dibagi-bagikan saat malam lebaran.

Kami nyaris tidak ada yang lebih menonjol satu dengan lainnya, walaupun Mas Deni saat itu menjadi wartawan koran hari bergengsi nasional, Jawa Pos.

Saya ingat ucapan almarhum; “Pokokna mon cakanca wartawan atokaran rajekkena, asal-salan,“ selorohnya.

Saya masih ingat Zaman Orba, untuk menjadi wartawan, kenaikan jenjangnya harus melalui Penelitian Khusus yang disiungkat Litsus.

Dulu ada Kantor Sospol yang melitsus wartawan yang akan naik jenjang. Kantor Sospol itu dipimpin oleh pejabat TNI AD dengan Pangkat Letnan Kolonel, setara dengan Pangkat Dandim.

Naik jenjang ini, mirip asessmen untuk pejabat PNS.

Zaman itu untuk menjadi wartawan ada jenjangnya; dari calon reporter, reporter, koresponden, calon wartawan,
wartawan muda dan wartawan.

Tahapan ini harus dilalui lewat Litsus untuk naik jenjang.

Hampir rata-rata saat itu masih wartawan muda, sebagian teporter, termasuk saya.

Mereka yang akan ikut Litsus adalah mayoritas lulusan SMA, bahkan ada yang cuma SMP. Sementara bahan uji Litsus dari Jakarta yang standar ujinya adalah sarjana.

Nah..almarhum ini luar biasa, ia menyadari kawan-kawannya ingin naik jenjang. Sementara kemampuannya terbatas.

Ia mencoba dialog dengan pamannya, yakni H. Usman Saleh yang nota bene sebagai Ketua PWI Sumenep. Ternyata dialog dengan pamannya tidak menghasilkan kabar gembira. Kami yang mengetahui hasil pertemuan itu, was was dan pasrah.

Namun menjelang hari H Litsus, dengan wajah ceria, Mas Deni menyampaikan beberapa lembar kertas ketikan lusuh untuk dicatat dan di ingat.

“Ini saya dapat soal dari teman wartawan di Surabaya, tolong rahasiakan,“ ujarnya.

Subhanallah, saat uji Litsus itu, soal-soal yang diberikan pada kami, tak berbeda dengan yang didapat Mas Deni.

Kami pun keluar Kantor Sospol yang dulu bertempat di Kantor Dinas Pariwisata Pendopo/Museum Keris lantai dua, dengan senyum-senyum.

Sementara Kasospolnya Letkol Eddy, seperti terkaget-kaget, kok cepat sekali wartawan Sumenep ini menyelesakan soal yang 7 lembar.

Dan hebatnya rata-rata nilainya di atas 70. “Hee he Wartawan Sumenep dilawan,” kata H. Max Gazali dengan tertawa terbahak-bahak, saat turun dari tangga Gedung Kuneng.

Tidak hanya itu, wartawan kerap dapat ancaman pembunuhan dan Magig.

Saya tidak tau Mas Deni punya ilmu apa, ia berani datangi orang-orang itu.

Padahal sebelumnya ada kawan yang terang terangan hendak ditebas celurit akibat pemberitaan. Padahal jika dilihat fisiknya, terlihat lamban geraknya, tutur katanya lembut.

Rasanya siapapun yang pernah bergaul dengan Mas Deni, tak akan mampu menulis kebaikannya.

Dia Insiprator yang akan dikenang selamanya.

Selamat Jalan Maha Guru…..
Namamu akan terus terukir di keabadian Amal Sholehmu. (Jakfar Faruk Abdillah)

Jakfar Faruk Abdillah, wartawan senior Sumenep yang kini menekuni dunia advokat.

KOMENTAR

Belum Ada Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Tinggalkan Balasan

MMN

Ra Fuad Amin

Disway

Tasawuf

Inspirator

Catatan

Sastra

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional

%d blogger menyukai ini: