Sumenep – Transformasi digital di sektor keuangan daerah tidak selalu dimulai dari aplikasi yang kompleks. BPRS Bhakti Sumekar justru memilih pendekatan berbeda melalui strategi WhatsApp-First, yakni menghadirkan layanan keuangan yang langsung menjangkau masyarakat melalui platform komunikasi yang sudah akrab digunakan sehari-hari.
Direktur BPRS Bhakti Sumekar, Hairil Fajar, mengatakan bahwa strategi ini lahir dari pemahaman terhadap karakteristik pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di daerah, khususnya di wilayah kepulauan dan pedesaan.
“Kami menyadari bahwa tidak semua pelaku UMKM memiliki atau terbiasa menggunakan aplikasi perbankan yang kompleks. Tetapi hampir semua memiliki WhatsApp. Karena itu, kami memulai dari platform yang paling dekat dengan masyarakat,” ujar Hairil Fajar, Selasa (2026).
WhatsApp Jadi Gerbang Layanan Keuangan
Dalam strategi ini, WhatsApp tidak hanya digunakan sebagai alat komunikasi, tetapi menjadi pintu masuk utama layanan keuangan. Melalui sistem layanan berbasis pesan, nasabah dapat memperoleh informasi produk, mengajukan pembiayaan, hingga menerima notifikasi transaksi secara otomatis.
Pendekatan ini dinilai lebih praktis, cepat, dan mudah dipahami oleh pelaku UMKM yang membutuhkan layanan keuangan tanpa prosedur yang rumit.
“WhatsApp adalah teknologi yang sederhana tetapi sangat kuat. Dengan pendekatan ini, layanan keuangan menjadi lebih dekat, lebih cepat, dan lebih manusiawi,” jelas Hairil Fajar.
Layanan WhatsApp juga memungkinkan BPRS Bhakti Sumekar memberikan respons yang lebih cepat kepada nasabah, termasuk konsultasi usaha dan informasi pembiayaan.
Strategi Inklusi Keuangan Berbasis Kebiasaan Masyarakat
Pendekatan WhatsApp-First merupakan bagian dari strategi inklusi keuangan berbasis kebiasaan masyarakat. Alih-alih memaksa masyarakat beradaptasi dengan teknologi baru, BPRS Bhakti Sumekar justru menyesuaikan layanan dengan kebiasaan komunikasi yang sudah ada.
Model layanan ini terbukti efektif dalam menjangkau pelaku usaha kecil yang sebelumnya belum terhubung dengan layanan perbankan formal.
“Digitalisasi bukan tentang teknologi yang canggih, tetapi tentang teknologi yang digunakan. Kami ingin layanan keuangan hadir dalam kehidupan sehari-hari masyarakat,” kata Hairil Fajar.
Dengan strategi ini, BPRS Bhakti Sumekar mampu memperluas jangkauan layanan hingga ke desa-desa dan wilayah kepulauan tanpa harus membuka kantor fisik baru.
Efisiensi Operasional dan Pelayanan Lebih Cepat
Selain meningkatkan akses layanan, strategi WhatsApp-First juga memberikan dampak pada efisiensi operasional. Proses komunikasi dan administrasi menjadi lebih sederhana, sehingga waktu pelayanan dapat dipersingkat.
Bagi pelaku UMKM, kecepatan layanan menjadi faktor penting dalam menjaga kelangsungan usaha.
“Pelaku usaha membutuhkan keputusan yang cepat. Dengan sistem digital berbasis WhatsApp, proses layanan bisa berjalan lebih efisien dan transparan,” tegas Hairil Fajar.
Efisiensi ini juga membantu lembaga keuangan mengurangi biaya operasional, sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat.
Menuju Ekosistem UMKM Digital
Ke depan, BPRS Bhakti Sumekar menargetkan pengembangan layanan WhatsApp tidak hanya sebagai alat komunikasi, tetapi sebagai bagian dari ekosistem digital UMKM. Sistem ini diharapkan dapat terintegrasi dengan layanan pembayaran, pencatatan keuangan sederhana, hingga pemasaran produk.
Langkah tersebut menjadi bagian dari visi jangka panjang untuk memperkuat ekonomi lokal berbasis teknologi.
“Kami ingin WhatsApp menjadi pintu masuk ekosistem ekonomi digital bagi UMKM. Dari komunikasi sederhana, berkembang menjadi layanan keuangan yang lengkap dan terintegrasi,” pungkas Hairil Fajar. (ras)






