BeritaInternasional

Dampak Konflik Iran-Israel AS, Harga BBM Dunia Melonjak hingga Rp 17.000 per Liter

×

Dampak Konflik Iran-Israel AS, Harga BBM Dunia Melonjak hingga Rp 17.000 per Liter

Sebarkan artikel ini

matamaduranews.com – Lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) mulai terlihat di Amerika Serikat setelah konflik dengan Iran memicu gangguan pada pasar energi global. Kenaikan ini menjadi sinyal awal tekanan ekonomi yang berpotensi merambat ke berbagai negara, termasuk Indonesia.

Data dari American Automobile Association menunjukkan harga bensin jenis regular di Washington naik tajam dalam satu bulan terakhir. Per 28 Maret 2026, harga rata-rata mencapai sekitar 4,138 dolar AS per galon atau setara Rp65.300, dari sebelumnya sekitar Rp49.000.

Jika dikonversi ke liter, harga tersebut kini setara sekitar Rp17.200 per liter, naik dari sebelumnya sekitar Rp12.900 per liter. Lonjakan ini menunjukkan kenaikan signifikan dalam waktu relatif singkat.

Sementara itu, berdasarkan laporan International Energy Agency, ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah berpotensi mengganggu pasokan energi global dan memicu volatilitas harga minyak dunia.

Senada dengan itu, OPEC menyatakan bahwa stabilitas produksi minyak sangat bergantung pada keamanan jalur distribusi energi di kawasan Timur Tengah.

Kenaikan harga juga terjadi secara nasional di Amerika Serikat. Rata-rata harga bensin kini berada di level sekitar 3,976 dolar AS per galon, meningkat dari 2,982 dolar AS pada bulan sebelumnya.

BACA JUGA :  BRIDA Sumenep Menyalakan Inovasi, Melayani Tanpa Batas

Untuk jenis premium, lonjakan terlihat lebih tinggi. Di Washington, harga mencapai sekitar 5,087 dolar AS per galon, dari sebelumnya sekitar 4,119 dolar AS.

Konflik Iran Picu Kekhawatiran Pasokan Energi Global

Lonjakan harga energi ini terjadi setelah meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran pada akhir Februari 2026. Situasi tersebut memicu kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi global, terutama di jalur vital seperti Selat Hormuz, yang menjadi salah satu rute utama distribusi minyak dunia.

Gangguan di kawasan ini kerap berdampak langsung pada harga minyak mentah global. Setiap kenaikan harga minyak biasanya diikuti lonjakan biaya distribusi energi di berbagai negara.

Indonesia Berpotensi Terdampak

Indonesia termasuk negara yang berpotensi terdampak karena masih mengandalkan impor minyak untuk memenuhi kebutuhan energi nasional. Ketergantungan terhadap impor membuat harga energi domestik sensitif terhadap gejolak global.

Selain itu, kenaikan harga energi global berpotensi mendorong inflasi, terutama pada sektor transportasi dan logistik. Dampaknya kemudian bisa merembet ke harga barang dan jasa di masyarakat.

Jika konflik terus memanas, tekanan terhadap harga energi diperkirakan masih berlanjut dan dapat memengaruhi stabilitas ekonomi di berbagai negara, termasuk Indonesia. (ali)

Tinggalkan Balasan