Berita UtamaEkonomiNasional

Rp 2,5 Triliun Sehari Kebutuhan Minyak Indonesia Menurut Pengamat Ekonomi

×

Rp 2,5 Triliun Sehari Kebutuhan Minyak Indonesia Menurut Pengamat Ekonomi

Sebarkan artikel ini
Kebutuhan Minyak Indonesia
Pengusaha dan pengamat ekonomi Mardigu Wowiek memberikan penjelasan mengenai kebutuhan minyak nasional Indonesia yang mencapai sekitar 1,5 juta barel per hari, dengan nilai ekonomi mencapai triliunan rupiah dan ketergantungan pada impor BBM.(mata madura)

matamaduranews.com -Jakarta – Kebutuhan minyak nasional Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 1,5 juta barel per hari, dengan nilai ekonomi yang sangat besar. Jika dihitung berdasarkan harga minyak global saat ini, nilai kebutuhan tersebut bisa mencapai sekitar Rp 2,5 triliun per hari.

Angka tersebut menjadi sorotan publik setelah disampaikan oleh pengusaha dan pengamat ekonomi, Mardigu Wowiek Prasantyo, yang akrab disapa Bossman, dalam pemaparannya mengenai kebijakan energi dan transportasi nasional.

Menurut Mardigu, ketergantungan Indonesia terhadap impor minyak masih sangat tinggi karena produksi dalam negeri belum mampu memenuhi kebutuhan nasional.

“Kita ini sekitar 1,5 juta barel kebutuhan minyak per hari. Yang produksi dalam negeri hanya sekitar 600 sampai 700 ribu barel. Sisanya harus impor,” ujar Mardigu dalam materi video yang beredar di media sosial.

Hitungannya: Rp 2,5 Triliun per Hari

Jika kebutuhan minyak Indonesia mencapai 1,5 juta barel per hari dan harga minyak dunia diasumsikan sekitar 100 dolar AS per barel, maka nilai ekonominya dapat dihitung sebagai berikut:

1,5 juta barel × Rp 1,7 juta per barel

Hasil: sekitar Rp 2,5 triliun per hari

Dalam skala waktu yang lebih panjang, nilainya menjadi sangat besar:

Rp 2,5 triliun per hari

Rp 76 triliun per bulan

Rp 930 triliun per tahun

Besarnya angka tersebut menunjukkan betapa strategisnya sektor energi dalam struktur ekonomi nasional.

Konsumsi BBM Didominasi Kendaraan Pribadi

Dalam pemaparannya, Mardigu juga menyoroti pola konsumsi BBM di Indonesia yang dinilai belum efisien. Ia menyebut sebagian besar BBM impor digunakan oleh kendaraan pribadi, khususnya sepeda motor.

“Yang impor itu sekitar 70 persen dipakai kendaraan pribadi, terutama motor, bukan untuk sektor produksi atau transportasi massal,” katanya.

Menurutnya, kondisi tersebut membuat beban impor energi semakin besar dan berpotensi menekan anggaran negara.

Ketergantungan Impor Masih Jadi Tantangan Energi Nasional

Ketergantungan pada impor minyak menjadi salah satu tantangan utama ketahanan energi Indonesia. Selama kebutuhan energi terus meningkat sementara produksi dalam negeri stagnan, impor akan tetap menjadi solusi jangka pendek.

Para pengamat menilai, upaya efisiensi energi, pengembangan transportasi massal, serta percepatan penggunaan kendaraan listrik menjadi langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan terhadap BBM impor. (ras)

Tinggalkan Balasan