Menu

Atasi Kekeringan di Bangkalan, Himaba Hadirkan Legislator Senayan dan Pejabat Pemkab 

Atasi Kekeringan di Bangkalan, Himaba Hadirkan Legislator Senayan dan Pejabat Pemkab 
Legislator senayan asal Bangkalan, H Syafiudin Asmoro usai acara di Himaba, Minggu (11/10/2020).(matamadura.syaiful)
Link Banner

matamaduranews.comBANGKALAN-Himpunan Mahasiswa Bangkalan (HIMABA) menggelar diskusi bersama anggota Komisi V DPR RI H Syafiuddin Asmoro dan pejabat Pemkab Bangkalan serta tokoh masyarakat terkait krisis kekeringan yang tak kunjung tuntas di Bumi Bangkalan.

Hadir di acara rembuk bareng itu, Wibagio Suharta, Kadis Dinsos. Risal Morris, Kepala BPBD. Kepala Bappeda, Eko Setiawan dan Soleh Abdijaya selaku Tokoh Masyarakat yang daerahnya terus mengalami kekeringan setiap musim kemarau.

Link Banner

Abah Syafi’-panggilan akrab Syafiudin Asmoro-meyakini problem kekeringan di sejumlah desa di Bangkalan masih diatasi dengan sejumlah syarat.

Katanya, problem kekeringan di Bangkalan menjadi tanggungjawab bersama elemen masyarakat dan perlu kerja keras dalam mencari sumber-sumber air permanen yang bisa dimanfaatkan dalam memenuhi kebutuhan air bersih bagi warga terdampak.

“Solusinya perlu kerjasama semua elemen baik pemerintah, masyarakat dan temen-temen pemuda dan mahasiswa,” terang Abah Syafi, Minggu (11/10/2020).

Legsilator senayan asal Bangkalan ini, berpesan kepada pemerintah Bangkalan agar segera mengajukan proposal pembangunan embung dan pengeboran sumber air.

“Matangkan konsepnya, nanti kami perjuangkan penganggarannya di pusat, karena ini butuh korelasi dengan pemda,” jelasnya.

Isu kekeringan ini merupakan krisis klasik, kata Abah Syafi kita tidak hanya membuat tandon dan pengeboran, tetapi lebih dari itu agar dampaknya dapat di rasakan seluruh rakyat Bangkalan.

Abah Syafi bercerita pernah mencari solusi kekeringan di Arosbaya. “Kami pernah gagas dengan Kepala Bappeda dan Pak Bupati. Tapi masih belum di disepakati oleh PUPR. Tapi kami tetap konsisten untuk perjuangkan,” papar politisi PKB ini.

Di akhir diskusi, Abah Syafi’ berpesan kepada mahasiswa yang tergabung di Himaba.

“Jadilah intelektual organik yang mampu menginventarisir segala persoalan yang ada di daerah dan desa. Setelah itu, tawaran jawaban atas permasalahan yang ada untuk kemajuan Bangkalan,” pesannya.

Soleh Abdi Jaya, selaku warga yang sering mengalami kekeringan mengutarakan keluh kesahnya pada Abah Syafi soal kekeringan di Bangkalan, khususnya di Kecamatan Geger.

Cerita Soleh, Desa Banyoneng Laok dan Desa Banyoneng Dajah termasuk daerah kritis akut. Dirinya pernah diskusi dengan warga setempat. Kebetulan tepat di desa Soleh kemungkinan jika di bor ada air.

Warga sudah sepakat untuk membeli pipa. Pipa itu harus tebal dan besar, tak lain agar alirannya tak jebol.

“Tapi kami tidak perbolehkan. Lalu kami berpikir kita punya wakil rakyat dan pemerintah, lantas apa fungsinya mereka jika tak tau keluh kesah rakyat di bawah,” ceritanya berapi-api.

Soleh mengaku pernah mengundang Bupati Bangkalan Ra Latif dan dinas pertambangan untuk melihat kondisi lokasi sumber air.

“Hasil penelitian dari pakar ahli pertambangan, ternyata gas alam diperut bumi yang ada di lokasi Geger terlalu besar. Solusinya adalah menanam pohon kolor,” cerita Soleh.

Soleh pesimis untuk menanam pohon kolor karena membutuhkan waktu yang lama untuk sterilkan di perut bumi.

“Dua generasi saja, tidak akan muncul air, meskipun ditanam kelor,” keluhnya.

Solusi terakhir kata Soleh adalah membangun bendungan yang dirasa efektif.

“Saat ini ada wakil rakyat. Jadi kami tunggu realisasinya. Bendungan ini sangat efektif. Saya lihat di desa lain sangat bermanfaat,” pintanya.

Sementara Eko Setiawan, Kepala Bappeda Bangkalan mengaku Pemkab Bangkalan sudah berupaya semaksimal tapi kondisi keuangan yang sangat terbatas. Jadi masih belum banyak yang bisa dilakukan.

“Kita rencanakan pembangunan SPAM, jika pun tak ada sumber air kita gunakan pipanisasi atau droping air,” jelasnya.

Sedangkan Rizal Morris, kepala BPBD Bangkalan mengatakan droping air yang dilakukan merupakan langkah darurat, jika penanganan jangka panjang yang diusulkan ke PUPR belum terwujud.

“Solusi darurat selama ini hanya droping air, anggaran di tahun 2020 setelah refocusing itu 100 juta, jika tidak cukup kami minta back-up pada BPBD Jatim,” paparnya.

Perlu diketahui HIMABA dalam kegiatan diskusi kedaerahan mengambil tema “Bangkalan dalam Ancaman Krisis Kekeringan, Kemana Prioritas Pembangunan Kabupaten Bangkalan” berjalan sukses.

Syaiful, Mata Madura

KOMENTAR

Belum Ada Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Tinggalkan Balasan

Mata
Mata
Lowongan

Ra Fuad Amin

Disway

Tasawuf

Inspirator

Catatan

Opini & Resensi

Sastra

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional

%d blogger menyukai ini: