Menu

Biografi Raden Bambang Sutiknya, Adipati Pertama Besuki Putra Sumenep

Biografi Raden Bambang Sutiknya, Adipati Pertama Besuki Putra Sumenep
Link Banner

matamaduranews.com-SUMENEP-Kabupaten Sumenep dan tapal kuda, yaitu sebuah daerah di provinsi Jawa Timur, tepatnya di bagian timur provinsi tersebut, sejak abad 13 tak bisa dipisahkan.

Tapal Kuda merupakan sebutan yang mengacu pada bentuk kawasan tersebut. Dalam peta kawasan ini mirip dengan bentuk tapal kuda. Kawasan Tapal Kuda meliputi Pasuruan (bagian timur), Probolinggo, Lumajang, Jember, Situbondo, Bondowoso, dan Banyuwangi.

Nah, selain beberapa nama penguasa Sumenep yang terkait dengan tapal kuda, yakni Aria Wiraraja dan Pangeran Jimat, kali ini Mata Madura mengulas salah satu tokoh fenomenal di abad-abad dinasti terakhir Sumenep. Yaitu Pangeran Sutiknya, putra Sumenep yang dengan keturunannya memainkan peranan penting dalam dinamika politik dan pemerintahan di sana mulai sejak paruh pertama abad 19.

Cucu Raja Sumenep

Lahir dengan nama Raden Bambang Sutiknya. Tak ada keterangan pasti, kapan beliau dilahirkan. Beliau hanya tercatat sebagai putra sulung Raden Tumenggung Kolonel atau Tumenggung Kornel, salah satu putra Panembahan Sumolo, Raja Sumenep, dari isterinya, putri Adipati Sidayu.

Catatan lain yang tak kalah pentingnya, Bambang Sutiknya memainkan peran penting dalam peradaban baru di Kawasan Tapal Kuda. Meliputi Besuki, Situbondo, Blambangan hingga Probolinggo.

“Beliau adalah Adipati pertama Besuki,” kata RB. Muhlis, salah satu pemerhati sejarah di Sumenep.

Bagaimana kisahnya? Menurut Muhlis, Sutiknya lahir di Sumenep dari seorang ibu berkebangsaan Cina. Sang ibu bermarga Han. Gadis putri saudagar kaya berpengaruh di Besuki. Seorang Cina muslim yang bernama Han Soe Ki.

Di waktu kecil, Sutiknya sepertinya tak lama   di Sumenep. Meski di masa remajanya, beliau dikisahkan mengikuti ayahnya Tumenggung Kornel dalam beberapa ekspedisi perang.

“Beliau sejak muda dikenal cerdas dan tangkas. Di usianya yang remaja sudah dikenal sebagai pendekar pilih tanding, sehingga diriwayatkan sering mendampingi ayahnya dalam sejumlah peperangan,” imbuh Muhlis, yang salah satu nenek buyutnya adalah cucu Sutiknya.

Kenyataan ini lantas menyibakkan versi lain dari masa kecil Pangeran Sutiknya.

Menurut RB Nurul Hidayat, pemerhati sejarah lainnya di Sumenep, kemungkinan besar Sutiknya tidak dibesarkan di Sumenep.

“Beliau memang tidak mustahil lahir di Sumenep. Ayahnya adalah seorang Pangeran. Namun salah satu sumber menyatakan jika beliau di waktu kecil memakai nama Cina, Han Soe Tik. Jadi kemungkinan besar masa kecilnya bersama keluarga dari pihak ibu,” kata Nurul.

Sutiknya kecil dikisahkan memiliki bentuk tubuh dan rupa layaknya orang Cina. Tubuhnya tegap, berkulit kuning dan bermata sipit. Beliau juga berpakaian model Cina dengan rambut dikuncir.

Dari Besuki ke Kursi Adipati

Kedudukannya sebagai cucu Raja Sumenep yang dulu menguasai Tapal Kuda sekaligus cucu saudagar kaya yang disegani Belanda, membuat Sutiknya memiliki pengaruh besar di Besuki.

“Konon, waktu itu Besuki kakek Pangeran Sutiknya, Han Soe Ki, pemilik hak gadai. Tahun 1770-an Besuki digadaikan oleh Belanda ke Han Boe Sing. Tak jelas hubungan keduanya. Mungkin saudara atau mungkin ayah dan anak,” imbuh Nurul.

Diduga, Belanda menggadaikan wilayah Besuki karena membutuhkan uang dalam jumlah banyak. Namun, belum ditemukan fakta berapa nilai uang yang diterima Belanda saat itu.

Karena Besuki berada di bawah kekuasaan Han Boei Sing, maka diangkatlah seorang wali dengan pangkat Ronggo di Besuki dan berlanjut hingga sekitar 6 Ronggo. Ronggo di sini merupakan pangkat.

Besuki kemudian ditebus oleh Gubernur Jenderal Raffles pada tahun 1813 senilai 618.720 Gulden (berdasarkan catatan yang ditulis J. Hageman, J. Cz. dengan titel Soerabaia, Februari 1864). Pengaruh Han Soe Tik di Besuki tetap tak hilang, kendati Besuki ditebus kembali oleh Belanda, Sutiknya yang cerdas berhasil memperoleh dukungan politik (dari pihak keluarga ibunya).

Dukungan itu lantas membawanya ke kursi Adipati Besuki yang pertama, dengan gelar Pangeran Adipati Aria Prawiraadiningrat I.

“Beliau menjadikan kediaman kakeknya sebagai pusat pemerintahannya. Sebuah rumah yang kental dengan corak dan budaya Cina,” kata Nurul.

Tak berhenti di situ, pengaruh Sutiknya terus berkibar. Salah satu putranya, Kangjeng Pandu (Raden Tumenggung Ario Pandu Suryoatmojo) menjadi Bupati Panarukan pertama, lalu pusat pemerintahan pindah ke Situbondo.

Sutiknya sendiri wafat di tahun 1830, dan diganti putra sulungnya, Tumenggung Wongso alias Raden Adipati Ario Prawiraadiningrat II.

“Hingga berpuluh-puluh tahun kemudian, anak dan menantu, serta keturunan Sutiknya memegang pengaruh dan kekuasaan hingga Probolinggo, dan lain-lain, atau Tapal Kuda pada umumnya,” imbuh Nurul.

Pada hakikatnya, penguasaan daerah Tapal Kuda oleh Sutiknya merupakan jilid ke dua. Di masa lampau, Pangeran Jimat alias Cakranegara III, penguasa Sumenep melebarkan kekuasaan hingga wilayah Tapal Kuda.

Wilayah kekuasaan itu bertahan hingga Panembahan Sumolo, kakek Pangeran Sutiknya. Namun, Sumolo menukarnya dengan gugusan pulau yang hingga kini menjadi bagian dari Sumenep.

“Panembahan Sumolo bisa dikata visioner sejati. Implikasi dari keputusannya patut diacungi jutaan jempol. Tapal Kuda tetap di bawah kekuasaan Sumenep dengan naiknya Sutiknya ke puncak kekuasaan di Besuki,” tutup Nurul.

RM Farhan

Bagikan di sini!
KOMENTAR

Belum Ada Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Lowongan

Ra Fuad Amin

Pilkada 2020

Inspirator

Catatan

Opini dan Resensi

Sastra

Olahraga

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional

%d blogger menyukai ini: