Menu

Demo Anak Pulau

Demo Anak Pulau
Link Banner

Catatan: Hambali Rasidi

DALAM dua minggu terakhir, sekelompok anak pulau mendemo Pemkab Sumenep. Mereka minta perhatian Pemkab atas kondisi pembangunan di Kepulauan Sumenep.

Teriakan para mahasiswa itu wajar. Memperjuangkan kesetaraan nasib orang pulau dengan orang daratan.

Lahir di pulau. Mengenal lingkungan. Beranjak remaja hijarah ke darat. Jika dibandingkan pembangunan darat dan pulau, memang terasa jauh.

Apakah sarana transportasi, infrastruktur maupun pelayanan pendidikan dan kesehatan.

Saya lahir di pulau 43 tahun lalu. Sejak umur 15 tahun, sudah hijrah. Dari kota A ke kota B.

Sejak lahir, perkembangan pembangunan di pulau mulai ada perubahan.

Sebagai gambaran. Dulu, bila hendak ke darat, tak ada kapal layaknya penumpang. Harus naik perahu layar motor. Jika mau turun, harus berbasah-basah jalan di air karena perahu tak bisa sandar.

Lima belas tahun lalu. Perubahan mulai terasa. Bila hendak mudik ke pulau. Atau orang pulau ke darat. Sepatu yang dipakai tak perlu dilepas.

Bagi yang punya mobil bisa langsung nyelonong. Bila cuaca baik, tak terasa jika bepergian ke pulau.

Perjalanan laut sudah beda. Perhatian pemerintah mulai berangsur dirasa.

Pengalaman pahit tentu beda jika dibanding 40 tahun lalu. Sarana transportasi antar pulau hanya mengandalkan perahu layar.

Mengandalkan kekuatan angin. Jika angin kencang, perjalanan laut bisa dilalui berapa jam. Sebaliknya, jika angin hanya sepoy-sepoy, jarak 50 mil, bisa ditempuh 2 hari semalam.

Bisa dirasa bagaimana kesedihan di atas laut. Terombang ambing di lautan. Tak ada bekal yang hendak dimakan.

Era reformasi dan pembangunan mulai dirasa warga kepulauan.

Sejak dua minggu lalu. Para anak pulau itu, menuntut kesetaraan pembangunan ke Bupati Sumenep. Tidak ada diskriminasi antara darat dan pulau.

Secara pribadi, saya hampir putus asa bicara pembangunan di kepulauan.

Saya menggunakan indikator anggaran yang digelontorkan ke kepulauan Sumenep.

Dari segi infrastruktur. Alokasi infrastruktur jalan senilai Rp 110 miliar se Kabupaten Sumenep. Yang masuk ke kepulauan Rp 35 miliar. Itu di APBD 2018. Sebagai sampel.

Jalan-jalan di kepulauan sejak 2017 diaspal mulus lazimnya di darat. Menggunakan teknologi aspal dingin. Tak ada beda secara teknik.

Komposisi APBD Sumenep Rp 2,4 Triliun. Sekitar 30% untuk jatah kepuluan. Sekitar 700 Miliar.

Ah…masak?. Mari kita bedah satu per satu, uang yang tersalurkan ke kepulauan.

Mulai dari anggaran pendidikan, kesehatan, pertanian dan infrastruktur.

Kalau DD dan ADD di Sumenep mencapai Rp 350 Miliar. Ya sekitar Rp 140 Miliar untuk desa-desa di kepulauan.

Anda para pemuda dan mahasiswa mestinya kritis ke desamu. Dikemanakan uang milaran rupiah yang turun ke desa.

Benar untuk bangun infrastruktur dan peningkatan ekonomi di desa? Atau jangan-jangan. Sebab di pulau itu, banyak anggaran misterius, lho.

Kenapa anda mendadak bisu bila menemukan anggaran miliaran yang tak jelas faedahnya ke warga desa.

Tagih itu Inspektorat dan DPMD. Bagaimana wujud keuangan yang hampir Rp 1 miliar hasil temuan Inspektorat. Bagaiman bentuk Silpa-nya.

Saya senang ada anak muda atau mahasiswa kepulauan bersikap kritis. Saya percaya itu sebagai tanda munculnya peradaban baru.

Seperti sejarah lahirnya renaissance di Eropa. 15 abad lalu. Para pemuda Italia membiasakan diskusi di warung-warung kopi.

Mengkritisi kelompok status qou. Kelompok yang tak mau perubahan.

Doktrin-doktrin yang meninabobokan generasi terbelakang harus dilawan dengan dialektika.

Uang miliaran yang masuk ke desa harus jelas wujudnya. Jelas maslahatnya ke warga. Bukan jelas SPJ-nya.

Para pemuda harus tampil sebagai pembawa harapan baru masa depan pulau.

Jaga orisinilitas idealismenya.

Bukan bawa misi 5 tahunan. Jelang moment Pilkada. (hambali rasidi)

Pesona Satelit, 1 Desember 2019

Bagikan di sini!
KOMENTAR

2 Komentar

  1. Darno (Paseraman) Ahad, 1 Desember 2019
  2. Darno Ahad, 1 Desember 2019

Iklan
Lowongan

Ra Fuad Amin

Kerapan Sapi

Inspirator

Catatan

Opini dan Resensi

Sastra

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional