Menu

Habis Jawa Pos, Terbit Di’sWay

Habis Jawa Pos, Terbit Di’sWay
Dahlan Iskan
Link Banner

Catatan: Hambali Rasidi

matamaduranews.com-Dua tahun lebih, koran Jawa Pos tak lagi muat catatan Dahlan Iskan. Kalau pun ada, itu nyalin tulisan dari blog pribadi Dahlan Iskan. Namanya disway.id

Tulisan Dahlan Iskan bukan hanya koran Jawa Pos yang ngutip. Tak terhitung berapa media cetak dan media online yang ambil tulisan Pak Dahlan Iskan (Dis). Ada yang ambil utuh. Ada juga ngutip sebagai sumber berita. Lalu dikonfirmasi ke nara sumber terkait.

Sejak 9 Februari 2018, Pak Dis, aktif nulis di web pribadinya. Tiap hari. Jam 04.00 wib, pasti ada catatan ringan. Kontennya, beragama. Kebanyakan ulasan luar negeri. Eropa, Timur Tengah dan Asia. Sesekali juga nulis dalam negeri.

Tulisan yang bikin heboh; harga pohon sangon Rp 1 triliun dan Ibu Kota Kilat. Ulasan Pak Dis memang renyah. Tapi nendang.

Joko Intarto, mantan anak buah dan sahabat Pak Dis yang memparkasai kelahiran disway.id. “Habis JP terbitlah DisWay,” tulis Joko Intarto dalam status Facebooknya.

Joko banyak cerita soal kelahiran disway.id. Dia ngaku sempat keukeuh agar Pak Dis nulis lagi. Tapi bukan di koran JP. Sejak akhir 2017, semua saham Pak Dis di JP tak ada. Nawarin ke koran, Joko juga tak punya.

Lalu ia berinisiatif nulis media online. Pak Dis sempat terdiam. Lama kemudian bersedia. Joko nyodorkan nama catatan Dahlan Iskan. Pak Dis nolak. Dia ingin move on. Joko nawarin Disway. Pak Dis langsung menyetujui.

Awal tayang, disway pakai server gratisan. 30 menit langsung down. Sewa server murah, hanya bertahan 2 minggu. Down lagi. Tak kuat melayani pengakses yang mencapai ratusan ribu user.

Joko berinisiatif numpang server temannya. Jasa sewa hosting. Bertahan seminggu. Teman Joko kena koplain pelanggannya. Server sewaan itu tersedot ke web disway. Layanan akses lemot.

Joko harus beli server khusus disway.id. Terus diupgrade berkala. Sesuai kapasitas. Jelang, 9 Februari 2019. Pembaca disway.id sudah lebih 5 juta. Mengalahkan oplah koran Jawa Pos.

Pak Dis harus nulis tiap hari. Tanpa libur disway. Kalau nulis di koran JP, minimal seminggu sekali. Namanya, Catatan Dahlan Iskan. Kecuali ada peristiwa besar, yang perlu diberi catatan Pak Dis.

Tulisan Pak Dis sebenarnya tak heboh. Hanya kolom komentar yang bikin gaduh. Lalu dikutip media-media besar. Jadilah kegaduhan dunia maya.

Selain melayani kehebohan di kolom komentar. Pak Dis juga melayani konten yang viral di jagat maya. Tayang tiap hari. Waktu Siang. Nama kolomnya. Di’SWAY VIRAL. Yang nulis admin disway.id. Pak Dis hanya mengarahkan konten.

Pak Dis sempat bergumam. Kenapa begitu asyik berjurnalistik. Karena itu darah dagingnya. Bisnis Pak Dis bermula dari jurnalistik.

“Koran boleh mati. Tapi jurnalistik akan terus hidup,” tulis Pak Dis.

Pesona Satelit, 7 September 2019

Bagikan di sini!
KOMENTAR

Belum Ada Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Lowongan

Ra Fuad Amin

Hukum dan Kriminal

Budaya

Kerapan Sapi

Catatan

Opini dan Resensi

Sastra

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional