Menu

Jejak Khatib Mantu Madegan, Pusaka Giri di Pulau Garam

Jejak Khatib Mantu Madegan, Pusaka Giri di Pulau Garam
Kolase Pasaean Khatib Manto beberapa tahun lalu, di Asta Madegan, Sampang. (Foto/Istimewa)
Link Banner

matamaduranews.com-SAMPANG-Sampang merupakan pusat pemerintahan awal di kawasan Madura Barat. Di masa akhir kejayaan Majapahit, sistem pemerintahan di kota Bahari ini masih bersifat sederhana. Penguasa saat itu semacam wakil kuasa dari kerajaan Majapahit.

Tak seperti Sumenep yang sudah mengenal istilah kadipaten dengan adipati sebagai penguasanya, daerah Sampang dipimpin oleh kamituwo. Yang pertama tercatat ialah Ario Lembupetteng, seorang pangeran dari Majapahit.

Pengaruh Majapahit yang memudar akibat perang saudara dan desakan fisik para pemberontak membuat gerakan Islamisasi di Jawa dan Madura menjadi agak mudah. Islam yang tak mengenal konsep kasta dan tidak menghantam langsung budaya asal atau setempat mampu menarik simpati masyarakat.

Gerakan itu tentu tak lepas dari perjuangan Wali Sanga yang rata-rata merupakan pendatang dan berasal dari golongan saadah (kata jamak dari sayyid atau keturunan Rasulullah SAW.

Di Madura Barat, Islam mulai menjadi agama resmi di masa pemerintahan Kiai Pratanu (1531 – 1592 M) yang lantas bergelar Panembahan Lemah Duwur, keturunan keenam Lembupetteng dan Aria Damar. Perpaduan darah Majapahit dan Giri Kedaton.

Beberapa nama generasi awal ulama di pulau Garam juga bertaut nasab pada tokoh-tokoh Wali Sanga.

Di ujung Timur, nama Sunan Paddusan dan Pangeran Katandur tercatat berperan besar dalam pembumian Islam di Sumenep. Sunan Paddusan adalah kemenakan Sunan Ampel, sedang Pangeran Katandur adalah cucu Sunan Kudus.

Sebelum Sunan Paddusan, sang ayah, yakni Sayyid Ali Murtadlo alias Sunan Lembayung atau Raden Santri telah menjejakkan kaki sucinya di bumi Sepudi dalam rangka syi’ar Islam.

Di ujung Barat ada nama Sunan Cendana, di Kwanyar. Sunan Cendana adalah cucu Sunan Drajat, Sedayu dari pihak ayah; dan cicit Sunan Giri dari sisi ibu. Sebelum Sunan Cendana, sang paman, sudah lebih dulu mengukir jejak di Madura, Pangeran Khatib Mantu.

Panutan di Kota Bahari

“Perilakunya menjadi panutan, dan ucapannya dipatuhi masyarakat”. Begitu salah satu penggalan deskripsi hidup “Pusaka Keramat” dari Giri ini, yang dibungkus papan pigura sedang di sisi makam. Makam yang dimaksud ialah tempat peristirahatan terakhir Pangeran Khatib Mantu.

Pangeran Khathib Mantu merupakan salah satu tokoh ulama besar generasi awal di kawasan kabupaten Sampang. Pengaruh beliau meluas tak hanya di kawasan Madura Barat. Beliau dikenal sebagai tokoh alim besar dan seorang Wali Agung.

Banyak tokoh ulama di Madura dan luar Madura yang memiliki sanad keilmuan hingga beliau. Salah satu amalan ijazah terkenal di Madura dan Jawa diyakini bersanad tunggal pada beliau, yaitu ijazah wirid Songay Raja (Sungai besar).

Sumber kedatangan Pangeran Khathib Mantu banyak tertera di beberapa lembar catatan silsilah keturunannya. Di pasareannya juga ada semacam deskripsi siapa dan bagaimana mengenai tokoh besar ini.

Nama beliau juga tercatat dalam buku “Sedjarah Tjaranja Pemerintahan di Daerah-daerah di Kepulauan Madura”, tulisan Zainalfattah alias Raden Tumenggung Ario Notoadikusumo, Bupati Pamekasan.

Dalam buku tersebut, Pangeran ini ditulis Pangeran Khathib Sampang, putra Pangeran Kulon I bin Sunan Giri I. Beliau disebut menikah dengan Ratu Kasindaran, janda Pangeran Kasindaran. Ratu Kasindaran adalah salah satu putri dari Kiai Pratanu atau Panembahan Lemah Duwur.

Sementara di naskah-naskah kuna Madura tercatat Pangeran Khathib Mantu atau Tib Manto, salah satu putra dari Panembahan Kulon (di pasareannya, di kompleks Asta Giri tertulis Sunan Kulon) bin Sunan Giri, pendiri sekaligus penguasa pertama Keraton Giri atau Giri Kedaton, Gresik.

Dalam naskah-naskah yang bersumber pada catatan luar Madura, seperti yang bersumber pada catatan-catatan silsilah Giri Kedaton, Pangeran Khathib Mantu merupakan putra Sunan Kulon dari isteri pertama.

Beliau bersaudara satu ibu dengan Nyai Gede Kedatun (ibunda Sunan Cendana), Ratu Gede Mataram, dan Nyai Gede Kentil (isteri Pangeran Kabu-kabu). Putra Sunan Kulon lainnya ialah Pangeran Kebak (Gebak), Pangeran Dukat, Pangeran Waridi, Pangeran Jaladasi, Pangeran Waruju, dan lain-lain.

Di catatan lain, Pangeran Khathib Mantu ini tertulis Pangeran Khathib Pakebunan. Ini rupanya sesuai dengan naskah manuskrip di Pamekasan yang diterjemahkan oleh Drs Abdul Halim Bahwi, bahwa Sunan Cendana pada waktu ke Madura sempat tinggal bersama pamannya yang bernama Khathib Pakebunan di Sampang.

Istilah Mantu itu karena beliau ini dijadikan menantu oleh penguasa Madura Barat. Beliau lantas juga dianugerahi tanah perdikan atau mardikan (merdeka) oleh sang mertua. Lokasi pasarean Khathib Mantu juga satu komplek dengan pasarean Ratu Ibu di Kampung Madegan, Desa Polagan, Kecamatan Sampang.

Ratu Ibu Madegan ini adalah isteri Raden Koro alias Pangeran Tengah, Arosbaya. Pangeran Tengah adalah putra Lemah Duwur, sekaligus juga saudara ipar Khathib Mantu. Jadi baik Ratu Ibu maupun Pangeran Khathib Mantu sama-sama menantu Lemah Duwur, Arosbaya.

Ratu Ibu Madegan sendiri adalah putri dari Kiai Pradata alias Pangeran Suhra Jamburingin. Pangeran Suhra adalah saudara Panembahan Lemah Duwur. Keduanya sama-sama putra Kiai Pragalba Arosbaya.

Pernikahan Ratu Ibu dan Raden Koro adalah pernikahan sepupu. Dari pernikahan tersebut lahirlah Raden Prasena yang kemudian bergelar Pangeran Adipati Cakraningrat ke-I (1624 – 1648 M).

Songay Raja

Dalam sebuah deskripsi di pasarean Pangeran Khathib Mantu disebut jika sang Wali ini adalah tokoh tiga disiplin ilmu yang meliputi Fiqh, Tauhid, dan Tashauf.  Pangeran Khathib juga disebut sebagai pemilik ijazah dzikir dan wirid Songay raja seperti yang juga telah disebut di muka.

Dalam beberapa riwayat lisan turun-temurun, wirid ini didapat langsung oleh Pangeran Khathib dari Nabi Khidhir alaihissalam. Konon wiridan tersebut tidak boleh ditulis.

“Penerima wiridan ini hanya langsung menghafal kalimat wirid yang diucapkan guru. Yang saya pernah dengar sang guru hanya bisa mengulang hingga maksimal tiga kali. Jadi penerima ijazah wirid ini haruslah memiliki daya hafal yang kuat. Ya, yang ditakdirkan mewarisi ijazah tersebut pasti bisa menghafalnya langsung,” kata Bindara Nurkhalish, salah satu warga Bangkalan yang memiliki garis nasab ke Pangeran Khathib Mantu kepada Mata Madura.

Tidak banyak riwayat lisan mengenai Pangeran Khathib. Apalagi literatur tertulis, hampir tak banyak ditemui. Namun dari saking banyaknya kalangan ulama besar periode-periode selanjutnya yang menulis garis silsilah hingga Pangeran Khathib menandakan beliau sebagai sosok yang begitu dibanggakan.

Tak hanya itu, posisinya sebagai cucu Wali Agung dari Giri Kedaton, menantu penguasa Madura Barat, dan kapasitas keilmuannya yang diakui sejak dulu kala lebih menonjolkan sisi keulamaannya dibanding sebagai sosok bangsawan utama. Beliau laksana pusaka keramat Giri di Pulau ini.

Keturunan

Pangeran Khathib Mantu dalam riwayat yang masyhur disebut memiliki banyak putra-putri. Jumlah yang diketahui ada 66 orang. Namun di antara 66 putra-putri beliau itu hanya beberapa orang yang bisa diidentifikasi namanya. Di antaranya Mas Ayu Joyomerto, lalu Kiai Abdullah (Lembung, Bangkalan).

Kiai Abdullah Lembung menikah dengan putri Sunan Cendana yang bernama Nyai Aminah atau Nyai Lembung.

Setelah Kiai Abdullah, tercatat nama Kiai Khathib Pesapen, Kiai Abdul Jabbar alias Buju’ Napo, dan Buju’ Keppay atau Kiai Baligho.

RM Farhan

Bagikan di sini!
KOMENTAR

Belum Ada Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Lowongan

Ra Fuad Amin

Pilkada 2020

Inspirator

Catatan

Opini dan Resensi

Sastra

Olahraga

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional

%d blogger menyukai ini: