Menu

Jejak Peran Patih Wongsonegoro dalam Berdirinya Dinasti Terakhir Sumenep

Jejak Peran Patih Wongsonegoro dalam Berdirinya Dinasti Terakhir Sumenep
Pintu Gerbang Komplek Pasarean R. Demang Wongsonegoro, Patih Sumenep. (Foto/Mata Madura)
Link Banner

matamaduranews.com-SUMENEP-Sebuah area komplek pasarean di kawasan Asta Tinggi itu begitu sepi. Pintu masuk utama tampak tak terawat, meski kesan kunanya masih terlihat jelas. Bahkan kesan angker sebagai ciri khas area makam kuna alias tempo doeloe masih begitu kuat terasa.

Posisi area makam makam memang kurang strategis untuk parkir kendaraan. Apalagi yang berjenis besar. Bahkan untuk sekadar parkir kendaraan roda dua juga tidak ada. Kecuali memang di pinggir sekali, alias sisa jalan di luar aspal sebelum dinding pagar area komplek.

Area ini dahulu merupakan lokasi angker. Tak jarang hanya orang-orang tertentu yang ke sana. Motivasinya beragam. Orang sekitar menyebut biasa dijadikan tempat menyepi, semedi, atau laku khusus.

Keluarga Wongso

Menurut literatur atau riwayat di kalangan kaji asta Tinggi, komplek tersebut dikenal dengan pasarean Ju’ Bangsa atau Ke Bangsa. Bangsa berasal dari Wangsa atau Wongso. Orang Madura memang tidak menggunakan huruf “w” dalam melafalkannya maupun menuliskannya, kecuali sebagai pelancar. Sehingga misal, sawah menjadi saba, sawo menjadi sabu, dan lain sebagainya.

Ju’ Bangsa merujuk pada salah satu tokoh yang dimakamkan di area tersebut. Yaitu Raden Demang Wongsonegoro. Beliau merupakan patih dalem di masa Pangeran Jimat (Cakranegara III) yang memerintah pada 1721-1744. Dalam catatan lain, Raden Demang Wongsonegoro ditulis Kiai Demang Wongsonegoro.

Patih Wongso merupakan putra sulung Raden Onggodiwongso alias Raden Entol Anom, cikal bakal bangunan rumah Panggung di Sumenep. Di lingkungan keluarga Rumah Panggung yang terletak di kelurahan Kepanjin, Raden Onggodiwongso juga dikenal dengan sebutan Pate Ranggadibasa, alias Ronggodiboso.

Raden Wongsonegoro ini bersaudara dengan Raden Kromosure alias Raden Atmologo, Jaksa Keraton yang kemudian menjadi patih.

Jika ditarik ke atas, berdasar catatan silsilah Sumenep, Raden Wongsonegoro masih keturunan Pangeran Sosrodipuro alias Pangeran Saba Pele Sampang. Pangeran Saba Pele adalah saudara kandung Panembahan Ronggosukowati, Raja Pamekasan abad 16.

Salah satu putri Panembahan Ronggo adalah ibunda Tumenggung Yudonegoro, penguasa Sumenep pada 1648-1672 M. Sehingga jika ditarik ke bawah, hubungan kekerabatan Wongsonegoro dengan penguasa kala itu (Pangeran Jimat alias Cokronegoro II) ialah paman dan keponakan. Ayah dan sekaligus ibu Pangeran Jimat masih sepupu empat kali (empa’ popo dalam bahasa Madura) dengan Raden Wongsonegoro.

Isteri Wongsonegoro sendiri masih sepupu Pangeran Jimat, yakni sama-sama cucu Pangeran Pulangjiwo (Raja Sumenep yang memerintah 1672-1678). Isteri Pulangjiwo adalah salah satu putri Yudonegoro.

Kedudukan Wongsonegoro sebagai patih mengganti ayahandanya, Raden Onggodiwongso (Ranggadibasa). Beliau menurut riwayat turun-temurun dikenal sebagai sosok yang bijaksana, cerdas, dan berwibawa. Kedudukannya juga sebagai penasihat keraton. Karena buah pikirannya selalu dijadikan rujukan raja.

Selain Wongsonegoro, sebagai sosok yang identik dengan Ju’ Bangsa di kawasan pasarean yang disebut di atas, juga ada sosok yang identik dengan Ke Bangsa, yaitu Raden Wongsokusumo (Abdurrahim).

Dalam riwayat dan catatan silsilah keluarga Rumah Panggung, Raden Wongsokusumo adalah putra Raden Tumenggung Rangga Kertabasa Pratalikromo, Hoofd Jaksa Sumenep. Pratalikromo adalah sosok yang berjasa dalam duet bersama Sultan Sumenep (Abdurrahman Pakunataningrat) ketika menerjemahkan lempengan prasasti kuna berbahasa Sanskerta. Prasasti yang menjadi rujukan Gubernur Inggris TS Rafflesh dalam menyusun buku History of Java.

Pratalikromo adalah putra Raden Atmologo, saudara Raden Wongsonegoro. Jadi Wongsokusumo (Ke Bangsa) adalah cucu keponakan Wongsonegoro (Ju’ Bangsa).

Sosok Arif di Balik Prahara

Naiknya Bindara Saot yang notabene bukan berasal dari garis keluarga keraton dinasti Yudanegara, sebagai penguasa wilayah Madura Timur pada 1750 menimbulkan suasana pro dan kontra yang berujung pada peristiwa berdarah.

Seperti yang pernah diulas di media ini, Patih keraton, Raden Purwonegoro menaruh dendam kepada Bindara Saot. Pasalnya, sang Ratu yang dicintainya memilih seorang kiai kampung sebagai pendamping. Makarpun direncanakan, namun nasib sial menimpa Purwonegoro. Ia harus meregang nyawa di ujung tombak sekaligus keris para tameng Raja.

Nah, jika dikaji waktu itu, Raden Wongsonegoro alias Ju’ Bangsa sudah tidak lagi menjabat Patih keraton. Menurut riwayat keluarga rumah Panggung, Wongsonegoro memang meletakkan jabatan karena sudah sepuh.

Ketika prahara sampai puncaknya, Wongsonegoro yang biasa dijadikan rujukan dimintai keluarga keraton untuk menjernihkan suasana. Kala itu keluarga keraton mulai terindikasi akan pecah. Pasalnya, Purwonegoro masih bagian dari dinasti Yudanegara. Ia masih sepupu dua kali (dupopo) dari Ratu Rasmana, ratu Sumenep.

Wongsonegoro kemudian memberi jalan tengah, yang dalam sejarah disebutkan bahwa kemudian Ratu Rasmana memberi pilihan pada keluarga besarnya. Bahwa siapa yang pro kepada Bindara Saot sebagai raja Sumenep maka diperkenankan tetap di Sumenep dan mengubah gelar Radennya menjadi Kiai.

Sementara yang tidak pro alias kontra, diperintahkan pindah ke Pamekasan. Dan ternyata, banyak yang pro, karena sangat mencintai sang ratu dan hormat pada Wongsonegoro yang memihak pada Ratu dan Bindara Saot. Mungkin saat itulah juga kenapa ada yang menulis gelar Kiai pada Wongsonegoro.

Sebagai langkah selanjutnya, yang kemudian disahkannya Bindara Saot sebagai penguasa Sumenep, maka Madura yang kala itu sebagai negeri vasal (di bawah Mataram dan sekaligus bayang-bayang kolonial), para penguasanya dilantik di Semarang. Pelantikan Bindara Saot ini juga bersamaan dengan Panembahan Cakraadiningrat V (Sido Mukti).

Sejatinya, naiknya Bindara Saot sebagai penguasa tidak lepas dari campur tangan Wongsonegoro. Bahkan, penunjukan Ratu Rasmana sebagai pengganti Pangeran Lolos (Cakranegara IV) juga atas peran Wongsonegoro.

Nah, ketika sang Ratu dan Bindara Saot ke Semarang, maka bertindak sebagai pengendali keraton yang kala itu belum begitu kondusif, Raden Demang Wongsonegoro tidak ikut serta. Beliau lantas mengutus adiknya, Raden Kromosure alias Atmologo untuk mendampingi Bindara Saot ke Semarang. Atmologo kelak berkedudukan sebagai Patih. Jabatan turun-temurun yang diberikan kepada keluarga Rumah Panggung.

Raden Wongsonegoro wafat di usia sepuh. Tidak ada keterangan pasti mengenai tahunnya. Beliau dimakamkan di dekat ayahnya Raden Onggodiwongso (Ranggadibasa) di Asta Tinggi. Di komplek yang diceritakan di atas. Sayang, situs makam beliau hilang, karena kabarnya ada yang mengganti kijingnya.

Raden Wongsonegoro berputra dua orang, yaitu Raden Wongsodirejo (menteri di Sumenep) dan Raden Demang Singowongso (kepala wilayah Mardikan Ambunten yang pertama). Wongsodirejo menurunkan Kiai R. P. Wongsoleksono, salah satu ulama kharismatik Sumenep. Sedangkan Singowongso adalah ayah Kiai Singoleksono alias Kiai Macan Ambunten, waliyullah di Ambunten.

RM Farhan

KOMENTAR

Belum Ada Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Tinggalkan Balasan

Lowongan
Lowongan

Ra Fuad Amin

Hukum dan Kriminal

Disway

Tasawuf

Inspirator

Catatan

Sastra

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional

%d blogger menyukai ini: