Menu

Kecewa Janji CSR PT Adiluhung Saranasegara Indonesia di Bangkalan

Kecewa Janji CSR PT Adiluhung Saranasegara Indonesia di Bangkalan
PT Adiluhung Saranasegara Indonesia memasang jaring untuk menyetop debu karat dari sandblasting pembersihan kapal. Upaya itu gagal karena debunya telah mencemari udara dengan debu hitam yang berterbangan. Setiap pagi saat menyapu, warga menemukan debu karat di rumahnya. (matamadura.syaiful)
Link Banner

matamaduranews.comBANGKALAN-Raut wajah Ketua BPD Desa Sembilangan dan Kepala Desa Ujung Piring, Kecamatan Kota Bangkalan tampak kesal saat menceritakan setumpuk masalah perihal janji palsu PT Adiluhung Saranasegara Indonesia tentang CSR.

Perusahaan galangan kapal itu dinilai sering ingkar janji. Banyak warga sekitar lokasi perusahaan itu kecewa perihal CSR, kompensasi dampak perusahaan bagi warga sekitar yang tak pernah direspon.

Ahmad, Ketua BPD Desa Sembilangan menyebut, CSR PT Adiluhung Saranasegara Indonesia tak pernah dirasa oleh warga sekitar.

Menurut Ahmad, Corporate Social Responcibility (CSR) merupakan kewajiban perusahaan atas rasa tanggung jawabnya terhadap sosial, kepada lingkungan sekitar di lokasi perusahaan itu berdiri. Baik kesejahteraan warga sekitar ataupun membangun fasilitas umum.

“Selama saya menjabat BPD. PT Adilihung belum pernah memberikan CSR kepada masyarakat. Baik dalam bentuk tunai, maupun bantuan-bantuan sosial lainnya. Kurang lebih 30 tahun tak pernah ada CSR,” cerita Ahmad kepada Mata Madura, Senin (6/7/2020).

“PT. Adiluhung belum pernah mengeluarkan CSR kepada masyarakat sekitar perusahaan. Apalagi PT. Adiluhung itu termasuk perusahaan paling besar di Bangkalan,” tambah Ahmad.

Wajah Ahmad menunjukkan rasa kecewanya ketika ditanya perhatian perusahaan terhadap warga yang berada di radius sekitar 300 meter dari lokasi perusahaan.

“Kami berharap, pemilik perusahaan dapat bersinergi dengan masyarakat setempat. Minimal, fasilitas umum dapat diperbaiki yang bersumber dari dana CSR atau kebutuhan masyarakat saat hendak melaksanakan suatu kegiatan sosial,” pinta Ahmad.

Hal senada juga disampaikan Kades Ujung Piring, Moh Usman. Dia menyebut dana CSR PT Adiluhung belum mengucur ke desa pada ring 1, yakni warga yang berjarak 500 hingga 1 Km dari lokasi perusahaan.

Warga terdampak itu, kata Usman wajib mendapatkan dana CSR dari PT. Adiluhung.

“Kenyataannya dari dulu disini tidak ada, malah ada info desa yang sangat jauh dari PT. Adiluhung di Parseh, Socah infonya dapat CSR dengan fasilitas lapangan voli. Ini kan aneh,” ucap Kades Usman.

Ahmad mengaku mendapat uang kompensasi terdampak dari PT Adiluhung sebesar Rp 3 juta untuk dua Desa Sembilangan dan Ujung Piring.

Biaya kompensasi itu harus dibayarkan pada warga terdampak. Kurang lebih per-desa ada 60 KK. Jadi hanya kebagian 50 ribu per-KK.

Ahmad juga mengaku dana kompensasi untuk desanya sebesar Rp 3 juta itu yang dibayar per-bulan.

“Jadi per warga itu hanya menerima Rp 50 ribu per-bulan. Kan tak sesuai harapan. Perusahaan galangan kapal, untuk satu desa hanya mampu memberi CSR Rp 3 Juta,” herannya

Karena itu, Ahmad berharap agar pihak perusahaan lebih memikirkan kembali dampak yang dirasa masyarakat agar bisa menyesuaikan uang kompensasi dampak yang harus diberikan kepada masyarakat.

“Setidaknya kompensasi harus sesuai dengan yang dirasakan warga. Seperti bising dan debu besi dampak galangan kapal itu. Jika dibagikan pada warga 50-ribuan, dapat apa uang segitu dalam sebulan,” terang Ahmad.

Senada dengan yang disampaikan Kades Usman, Ahmad menganggap bahwa PT. Adiluhung kurang memperhatikan dampak kegiatan galangan kapal terhadap masyarakat sekitar.

“Per-Desa hanya mendapat 3 juta. Kan miris,” singkat Kades Usman

Sementara dampak debu sandblasting disebut Kades Usman telah mencemari rumah warga sekitar.

Kegiatan sandblasting yang dilakukan galangan kapal PT. Adiluhung dikeluhkan warga setempat.

Pasalnya, pasir hasil prosea sandblasting mencemari pemukiman warga. Debunya beterbangan ke kawasan pemukiman warga.

“Memang sudah diantisipasi oleh PT. Adiluhung dengan memberikan jaring di pagar. Tetapi namanya debu ya tetap beterbangan. Apalagi cara itu sudah dilakukan beberapa tahun lalu. Jaringnya roboh lalu dihentikan. Baru-baru ini saja dipasang kembali jaringnya,” terang Ahmad.

“Debu karat dari sandblasting pembersihan kapal itu resah karena mencemari udara di sini. Debunya hitam-hitam dan berterbangan. Akibatnya setiap pagi saat menyapu, warga menemukan debu karat di rumahnya,” tambah Ahmad

Merujuk pada pekerjaan galangan kapal, proses Sandblasting merupakan proses pembersihan atau persiapan permukaan logam dengan menembakkan material abrasive berupa pasir silika secara paksa ke permukaan material.

Penyemprotan pasir biasanya digunakan abrasive material yang biasanya berupa pasir silika atau steel grit dengan tekanan tinggi pada suatu permukaan untuk menghilangkan karat, debu, kotoran dan membentuk kekasaran permukaan material supaya rata, hingga ketika proses pengecatan atau pelapisan cat lebih melekat.

Ditambahkan Ahmad, sebagian warganya terkena penyakit pernafasan. Penyebabnya, katanya, warga sering menghirup udara yang bercampur deburan pasir hasil limbah dari proses sandblasting.

“Banyak warga mengeluh, terkena debu sandblasting itu,” pungkasnya

Sampai berita ini diangkat, PT. Adiluhung tidak dapat di konfirmasi. Mata Madura sudah berusaha ke lokasi. Tetapi pihaknya belum dapat memberikan tanggapan dan tak dapat ditemui oleh wartawan.

Syaiful, Mata Madura

KOMENTAR

Belum Ada Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Tinggalkan Balasan

Lowongan
Lowongan
Lowongan

Ra Fuad Amin

Tasawuf

Catatan

Opini dan Resensi

Sastra

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional

%d blogger menyukai ini: