Menu

Ketahanan Pangan dan Amal yang Disukai Allah Swt

Ketahanan Pangan dan Amal yang Disukai Allah Swt
Arif Firmanto, Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Holtikultura dan Perkebunan (Dispertahirtbun), Kabupaten Sumenep.
Link Banner

Oleh: Arif Firmanto*

Shalat, puasa, ibadah haji dan dzikir bukan untuk-Ku. Memberi makan (shadaqah) ke orang lapar (orang butuh), itu untuk-Ku,” begitu jawaban Allah Swt kepada  Nabi Musa As.

Dialog Nabi Musa As kepada Allah Swt di atas, diceritakan oleh Imam Al-Ghazali dalam Kitab Mukasyafatul Qulub (Menyingkap Rahasia Kalbu). Dalam dialog tersebut, Nabi Musa As hendak bertanya amal kebaikan disukai Allah Swt.

Musa : “Wahai Allah, aku sudah melaksanakan ibadah.  Manakah diantara ibadahku yang membuat Engkau senang. Apakah shalatku?

Allah: “Shalat mu itu untukmu sendiri. Karena shalat membuat engkau terpelihara dari perbuatan keji dan munkar.”

Musa : “Apakah dzikirku?

Allah:  “Dzikirmu itu untukmu sendiri. Karena dzikir membuat hatimu menjadi tenang.”

Musa : “Puasaku ?”

Allah : “Puasamu itu untukmu sendiri. Karena puasa melatih diri memerangi hawa nafsumu

Musa: ”Lalu ibadah apa yang membuat Engkau senang, ya Allah?”

Allah: ”Shadaqah. Tatkala engkau membahagiakan orang yang sedang kesusahan dengan shadaqah, sesungguhnya Aku berada disampingnya. ”

Shadaqah punya makna luas. Saya lebih fokus pada makna memberi makan kepada orang yang lapar (butuh). Menjamin makanan selaras dengan konsep ketahanan pangan sebagai salah satu kunci stabilitas sebuah negara.

Menurut Global Food Security Index, negara Indonesia masih tergolong rendah dalam ketahanan pangan. Indonesia berada di rangking 65 dengan skor 54,8. Ketahanan pangan suatu negara dikata baik jika ketersediaan pangan,keterjangkauan pangan serta kualitas dan keamanan pangan, terjamin.

Dari kondisi ini, sebagai anak bangsa, saya merasa terpanggil. Ingin berbuat, melihat sumber daya alam yang luas dan relatif subur. Tapi, masih belum maksimal menyediakan pangan. Kebutuhan pangan masih impor dari negeri seberang.

Barangkali, sejak kecil kita terbius dengan adagium, bumi kita gemah ripah loh jinawi. Tongkat dan batu pun jadi tanaman, kata lirik lagu Koes Plus.

Ingat, ketika Allah berkisah suatu kaum, hidup dalam negeri yang subur; matahari menerangi semesta alam. Cahayanya menerangi seluruh penduduk bumi. Hujan yang sangat lebat. Supaya Kami tumbuhkan dengan air itu biji-bijian dan tumbuh-tumbuhan, dan kebun-kebun yang lebat. (QS: An Naba: 13-16).

Surat ‘Abasa, Allah Swt juga menggambarkan bumi yang sangat subur dengan segala macam tanaman yang komplit tumbuh di sebuah negeri yang curah hujan dan tanah subur (QS: ‘Abasa: 25-32).

Kisah surah An Naba dan ‘Abasa bisa menjadi renungan. Negeri mana seperti yang dikisahkan al-Qur’an? Ya..Indonesia. Negeri yang memiliki musim hujan dan kemarau secara seimbang. Tanahnya subur. Sungguh sebuah karunia tak terhingga dari Allah Swt.

Lantas, apa yang bisa dipersembahkan untuk ketahanan pangan? Mari kita petik kalam Allah Swt kepada Nabi Musa As. Memberi makan merupakan perbuatan yang sangat disukai Allah Swt.

Kita bertani mulai sekarang. Jadikan bertani sebagai lifestyle. Bertani dari skala kecil, bersifat hobi. Hingga komersial skill.

*Penulis Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Holtikultura dan Perkebunan (Dispertahirtbun) Sumenep.

 

Bagikan di sini!
KOMENTAR

Belum Ada Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Lowongan

Ra Fuad Amin

Pilkada 2020

Inspirator

Catatan

Opini dan Resensi

Sastra

Olahraga

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional

%d blogger menyukai ini: