KH Sir Mohammad Robbany Ilzam Mubarok; Kiai Spesialis Shalawat

Mata Madura - 08/02/2020
KH Sir Mohammad Robbany Ilzam Mubarok; Kiai Spesialis Shalawat
Kiai Ilzam lantang menyuarakan nilai-nilai keagamaan dengan  metode pembacaan Shalawat sebelum memulai pidato. Kiai Ilzam dikenal da’i spesialis shalawat. (fotomatasumenep) - ()
Penulis
|
Editor
Link Banner

matamaduranews.com-Kiai Ilzam-nama panggilan yang paling popular di masyarakat Sumenep.

Namanya dikenal sebagai kiai yang lantang menyuarakan nilai-nilai keagamaan dengan  metode pembacaan Shalawat sebelum memulai pidato. Bahkan ada yang menyebutnya, Kiai Ilzam sebagai da’i spesialis shalawat.

Memang, setiap da’i punya metode sendiri untuk menyampaikan isi kandungan materinya, termasuk yang menjadi ciri khas Kiai Ilzam.

Sangat menarik cara menyapanya dan menyentuh relung hati jama’ahnya. Ketika jama’ah sudah tersentuh dengan energi shalawat, baru Kiai Ilzam memulai ceramah.

Tidak hanya waktu dalam berceramah saja yang menganjurkan untuk memperbanyak shalawat. Metode ini juga berlaku bagi para santri untuk membaca shalawat setiap hari. Target yang di anjurkan bagi santri adalah 1000 Shalawat.

“Kiai mewajibkan santri untuk membaca shalawat setiap hari, minimal 1000. Kalau santri mampu di atas bilangan seribu” tutur Syaiful salah satu santri asal Desa Gadding, Kecamatan Manding, kepada Mata Sumenep.

Syaiful menerangkan, jika ada yang tidak mampu membaca 1000 shalawat setiap harinya, santri diberi kemudahan membaca minimal 300 shalawat saja. Dengan syarat istiqomah.

KH Sir Mohammad Robbany Ilzam Mubarok nama lengkang Kiai Ilzam. Beliau menjadi Pengasuh Pondok Pesantren Al Madinah, Palegin, Grujugan, Gapura, Sumenep.

Kiai Ilzam sengaja menerapkan metode memperbanyak baca shalawat. Dengan tujuan meraih syafaat Rasulullah SAW dan Rahmat dari Allah SWT.

“Target paling sedikit santri membaca shalawat ya 300 kali per hari,” jelas Kiai Ilzam, saat ditemui Mata Sumenep .

Ketika ditanya alasan setiap memulai ceramah dan mawajibkan santrinya untuk membaca shalawat, ayah empat putra ini beralasan karena amalan yang paling praktis adalah shalawat. Termasuk ketika membaca dalam keadaan tidak khusuk, amalan shalawat tetap diterima.

“Karena shalawat itu mudah dibaca dimana saja dan oleh siapa saja, mudah untuk memperolah pahala dan juga untuk mendapatkan Syafa’at dari Rasululllah SAW,”  ungkap suami Nyai Ulfatul Hasanah ini.

Kiai Ilzam menjelaskan keistimewaan shalawat terdapat multi amalan. Bisa berdzikir kepada Allah SWT dan mengingat Nabi Muhammad SAW.

Dari itu, amalan shalawat adalah amalan yang paling praktis untuk diamalkan. Gampang dipraktekkan dan tidak ribet. Dalam sholawat juga mengandung banyak fungsi, bisa membersihkan jiwa dari sifat-sifat keji dan mungkar.

“Dengan bershalawat pula kita bisa di sayang oleh Allah. Karna denga sering menyebut nama Nabi Muhammad maka akan timbul rasa cinta kepadanya, dan dengan otomatis sifat-sifat baik akan muncul dalam diri yang membaca shalawat. Dengan rasa cinta kepada Nabi Muhammad Allah akan mencintai pula,” jelas kiai kelahiran Sumenep, 05 Mei 1976 ini.

“Barang siapa yang mencintai Nabi Muhammad, maka dia mencintai Allah, dan barang siapa yang durhaka kepada Nabi Muhammad, maka dia durhaka kepada Allah” tambah kiai yang alumni Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo.

Berbagai dalih ini, Kiai Ilzam menjadikan landasan 10 mutiara yang di terapkan di Pondok Pesantren Al Madinah Dusun Palegin, Desa Grujugan, Kecamatan Gapura, Sumenep.

10 mutiara yang menjadi landasan bagi santri-santrinya, yaitu: Selalu Memperbaiki Niat, Selalu Berwudhu, Menjaga Shalat yang Lima Waktu Tepat Pada Waktunya, Selalu Membaca Al-Qur’an, Selalu Beristighfar, Memperbanyak Shalawat, Menyambung Silaturrohim, Saling Tolong Menolong dalam Kebaikan, Infaq Fisabilillah, dan Menutup Aurat.

Selain itu, Kiai Ilzam juga memiliki Majlis Shalawat Syaifa’ul Qulub yang dirintis pada pada tahun 2003. Jamaahnya semakin berkembang lebih sepuluh ribu dari berbagai daerah di Jawa-Bali.

Untuk mengetahui jumlah penghitungan jama’ahnya bisa diketahui setiap tahun ketika acara tahunan. Yaitu Maulid Nabi Muhammad SAW.

Sementara untuk kompolan (pertemuan, red.) ada yang satu minggu satu kali. Untuk yang satu bulan dilaksanakn pada tanggal 12 bulan Hijriyah. Dan empat bulan satu kali. Dan yang terakhir satu tahun satu kali, yaitu pada moment maulid Nabi Muhammad SAW.

Kegiatan majelis shalawat dilaksanakan di tiap perwakilan majelis yang tersebar di berbagai daerah. Selain digelar di Ponpes Al Madinah. Khusus kegiatan setiap bulan, berpindah-pindah ke kediaman jama’ahnya.

Sementara untuk kegiatan setiap tahunnya, dilaksanak di pusat. Yaitu Pondok Pesantren Al Madinah.

Dengan adanya majlis Shalawat maka dibangunlah PT Media Syaifa’ul Qulub Madinah yang bergerak di bidang Tour dan Travel, yang melayani Haji Khusus dan Umroh Plus Terapi yang di Pimpin langsung (Direktur Utama) oleh KH Sir Mohammad Robbany Ilzam Mubarok, yang juga menjadi Motivator Syaifa’ul Qulub.

Hal ini disediakan untuk para jama’ahnya maupun masyarakat umum yang menginginkan berziarah langsung ke makam Nabi Muhammad SAW, demi menyempurnakan kecintaannya  kepada baginda Rasulullah SAW.

“Bahkan kalau ada jama’ah menginginkan untuk pergi Umroh, namun uangnya tidak cukup, hanya memberikan uang sekian, saya tetap memberangkatkannya,” pungkasnya.

sumber: matasumenep

Tinggalkan Komentar

Close Ads X
--> -->