Menu

Kisah Mpu Citra Nala di Pamekasan; Gumpalan Cahaya dari Sang Mpu

Kisah Mpu Citra Nala di Pamekasan; Gumpalan Cahaya dari Sang Mpu
Pak Djoko Adi Susanto, Masyarakat setempat mempercai dia sebagai Juru Kunci Makam Sang Mpu Citra Nala (foto dok.matasumenep)
Link Banner

Mpu Citra Nala juga tidak asing bagi pecinta keris di Sumenep dan Madura. Beliau salah satu putra Sang Mpu Karangduwak. Hasil karyanya, memiliki ciri khas yang bernilai estetika tinggi dibanding hasil para Mpu lain. Berpamor deling dan bilah kerisnya, bermodel tegak yang menandakan karakter seorang Mpu yang keras. Sikap konsistensinya, membuat Raja Sumenep, ketika itu, murka kepada Sang Mpu Citra Nala. Sehingga, Sang Mpu Citra Nala harus hijrah ke Pamekasan.

matamaduranews.com-Sikap keras Sang Mpu Citra Nala sudah menjadi legenda bagi komunitas keris di Sumenep.

Suatu ketika utusan Raja menemui Sang Mpu Citra Nala minta dibuatkan keris yang akan digunakan Raja dalam tempo yang sangat singkat.

Sang Mpu menolak dengan dalih, pemesan keris sebelum Raja sudah menumpuk. Sang Mpu tidak bisa mengutamakan pesanan Raja, sebelum pemesan sebelumnya selesai dibuat.

Bagi Sang Mpu Citra Nala, kedudukan manusia sama, tidak ada beda antara Raja dan Rakyat. Akibat pendirian Sang Mpu, sang Raja tidak terima. Dan, Sang Mpu memilih meninggalkan Sumenep.

Dari ratusan tahun legenda Sang Mpu Citra Nala mewarnai dunia perkerisan, tidak ada satupun pecinta keris Sumenep mengetahui keberadaan astanya.

Tanpa sengaja, Mata Sumenep, mendapat informasi, di Dusun Kebun, Desa Polagan, Kecamatan Galis, Pamekasan, terdapat makam yang bertulisan Ki Citra Nala. Sehingga, ini menjadi menarik karena bisa memperjelas keberadaan para Mpu Sumenep.

Sebelum berziarah ke makam Sang Mpu Citra Nala, Mata Sumenep, disarankan menemui juru kunci makam. Masyarakat sekitar, memberi mandat ke Pak Djoko Adi Susanto, sebagai juru kunci atas perantaranya, makam Sang Mpu Citra Nala diketahui dan dibangun.

Bagaimana ihwal makam Sang Mpu Citra Nala diketahui? Guru Bahasa Ingris, salah satu SMA di Pamekasan ini, bercerita asal mula asta Sang Mpu Citra Nala melalui sebuah perbincangan dengan guru spiritual Pak Djoko, Suhardi, keturunan Sang Mpu Karangduwak.

Pak Djoko menjelaskan, di sekitar daerahnya, ada beberapa buju’ (makam suci) yang sering dikunjungi warga. Guru Pak Djoko itu juga bercerita jika Citra Nala, putra Sang Mpu Karangduwak, pernah tinggal di Pamekasan.

Dari perbincangan itu, Pak Djoko dan gurunya beserta santrinya, berziarah ke buju’ yang baru diperbincangkan. Lokasinya di Desa Pandan, samping area pegaraman.

Setelah berziarah, guru Pak Djoko menyatakan bukan makam Citra Nala. Pak Djoko dan rombongan pulang menuju Sumenep melewati arah Vihara, Talangsiring.

Di tengah jalan, Pak Djoko juga menunjukkan sebuah area makam yang kerap dizirahi masyarakat Dusun Kebun. Salah satu penghuni makam itu, ada kuburan Kiai Masluha, sesepuh warga Desa Polagan.

Mobil rombongan berhenti. Dan guru Pak Djoko bertafakur beberapa detik, sebelum melangkah menuju kuburan dimaksud.

Jalan menuju makam tidak bisa dilewati kendaraan roda empat. Dan jaraknya cukup jauh dari jalan desa, sekitar 300 meter. Sehingga mobil di parkir dan rombongan harus berjalan kaki.

Tiba di lokasi yang ditunjuk, guru Pak Djoko menyatakan bukan Citra Nala. Disekitar makam, ada tiga pohon besar (pohon asam, pohon beringin dan pohon duwak) yang satu sama lainnya menyilang saling menempel, sehingga terlihat menjadi satu.

Pak Djoko menunjuk tiga pohon besar yang selalu mengeluarkan cahaya. Guru Pak Djoko melangkah menuju arah dimaksud. Sepintas tidak ada tanda-tanda batu atau pusara, yang menandakan di lokasi itu ada jejak makam suci.

Tapi, guru Pak Djoko menyatakan, lokasi yang ditunjuk merupakan tempat peristirahatan Sang Mpu Citra Nala.

Djoko bercerita berdasar penuturan warga saat berziarah ke makam Kiai Masluha, tempat yang ditunjuk gurunya selalu mengeluarkan gumpalan cahaya (sinar) kemerahan dan terkadang cahaya berwarna putih menjulur ke atas, seakan menembus langit. Sehingga, area makam begitu terang benderang, sebagian warga menyangka ada kebakaran.

Testimoni lain, para ojek yang sering mangkal di Slempek, pada Kamis malam Jum’at, sering melihat semburan cahaya kemerahan dan putih dari arah selatan (searah posisinya dengan keberadaan tiga pohon besar).

Sepulang dari pencarian itu, Pak Djoko dan rombongan meninggalkan lokasi. Beberapa hari berikutnya, guru Pak Djoko menyampaikan keinginan ke Pak Djoko untuk membangun makam Sang Mpu Citra Nala, termasuk Kiai Rahmat Kholil, sahabat Sang Mpu dan Jumaisa Nala, istri Sang Mpu Citra Nala.

Kata Pak Djoko, hasil dialog gurunya dengan Sang Mpu Citra Nala, lokasi tersebut mendapat restu, dengan syarat pekerjaan pembangunan selesai dalam tempo 1 hari.

Sebelum membangun, Pak Djoko bermusyawarah dengan sejumlah tokoh masyarakat termasuk Kepala Desa Polagan, menyampaikan keinginan gurunya untuk membangun makam yang baru diketemukan.

Para Tokoh Masyarakat tidak keberatan karena mereka juga yakin tempat itu dihuni waliyullah. Hanya saja, mereka tidak mengetahui siapa nama sang waliyullah itu.

Bahkan, saat makam Sang Mpu dibangun, banyak warga setempat datang menyumbang sejumlah makanan.

Masyarakat sangat bersyukur di daerahnya ada makam suci yang baru ditemukan. Kini, masyarakat banyak berziarah dan merawat kuburan yang dibangun tanggal 11 Oktober 2009 lalu.

sumber: mata sumenep

Bagikan di sini!
KOMENTAR

Belum Ada Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Lowongan

Ra Fuad Amin

Kerapan Sapi

Inspirator

Catatan

Opini dan Resensi

Sastra

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional