Noer Wachid Riqzal Firdauz, Dosen STKIP PGRI Sumenep Jadi Wasit di PON Papua XX 2021
Satu-satunya dari Madura

Mata Madura - 24/10/2021
Noer Wachid Riqzal Firdauz, Dosen STKIP PGRI Sumenep Jadi Wasit di PON Papua XX 2021Satu-satunya dari Madura
Noer Wachid Riqzal Firdauz, dosen PJKR STKIP PGRI Sumenep ketika menjadi wasit di PON Papua XX 2021 - (Istimewa/Mata Madura)
Penulis
|
Editor Rafiqi
Link Banner

matamaduranews.comSUMENEP-Noer Wachid Riqzal Firdauz (31), namanya. Dosen STKIP PGRI Sumenep, Madura, Jawa Timur ini menjadi wasit di PON Papua XX 2021 di Stadion Lukas Enembe, Jayapura.

Prestasi dosen Prodi Pendidikan Jasmani, Kesehatan dan Rekreasi (PJKR) tersebut tentulah membawa harum nama kampus STKIP PGRI Sumenep. Bagaimana tidak, Noer Wachid Riqzal Firdauz ditunjuk sebagai perwakilan Madura menjadi wasit di ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) Papua XX 2021.

Masih berusia 31 tahun, Noer Wachid Riqzal Firdauz tak menyangka dirinya dipercaya menjadi wasit di PON Papua XX 2021. Apalagi, Riqzal, demikian akrab dipanggil, adalah satu-satunya Wasit PON dari Madura.

Penuh perjuangan keras dan tak kenal lelah meraih mimpi dan cita-cita tentu menjadi kalimat yang cukup pantas untuk menggambarkan upaya keras dosen STKIP PGRI Sumenep tersebut menggapai kesempatan dan prestasi luar biasa dalam bidang olahraga itu.

Berawal dari Suka Bola Volli

Riqzal mengawali karier di dunia olahraga dari senang bermain bola volli. Bukan sebagai pemain, dalam olahraga ini dia memilih menjadi seorang wasit. Namun siapa sangka, pilihan itulah yang mengantarkannya ke pintu kesuksesan. Meskipun tidak mudah memperjuangkan keinginannya.

Riqzal tumbuh dengan tekad yang kuat dalam mengasah potensi dan melihat peluang yang ada di depannya dengan pilihan tersebut. Bahkan, bakat menjadi wasit ternyata sudah disadarinya sejak masih kuliah S1 di Universitas Negeri Surabaya (UNESA).

“Saya jadi wasit itu sejak kuliah, tahun 2009. Waktu itu saya masih kuliah S1,” cerita Noer Wachid Riqzal Firdauz pada awak media, Ahad (24/10/2021).

Tidak ada yang instan dalam perjalanan hidup. Menurutnya, menggapai kesuksesan harus mau menghadapi banyak tantangan. Semua itu sudah dilalui oleh Riqzal dari bawah hingga mencapai puncak kesuksesan.

“Berawal dari tingkat Jatim dulu, lokal. Kemudian saya ikut pelatihan wasit tingkat Nasional Level C tahun 2012,” ungkap dosen STKIP PGRI Sumenep tersebut.

Jadi Pengambil Bola dan Pengepel Lapangan

Riqzal menyebut sukses di usia muda tidak secepat itu didapatkan. Dia bercerita, sebelumnya harus melewati tahapan yang yang tidak mudah. Naman, Riqzal pernah menjadi wasit bola volli profesional.

“Perjuangan saya sangat berat, karena dari awal saya pernah jadi petugas pengambil bola yang keluar lapangan. Ya, saya pernah jadi itu dulu,” kenang Riqzal.

Cerita pilu lainnya, pria kelahiran 30 Oktober 1990 itu pernah menjadi pengepel lapangan. Tetapi karena tekad bulat disertai upaya yang tak kenal lelah, akhirnya Riqzal mulai dipercaya menjadi hakim garis.

“Jadi kadang di kejuaraan resmi, saya jadi tukang ngepel lapangan,” tutur ayah dari Afshin Nur Aisyah itu.

Seiring berjalannya waktu, Riqzal akhirnya membulatkan tekat dan niat yang matang. Bagaimanapun caranya, dia harus bisa mencapai keinginan untuk menjadi wasit profesional.

Hingga pada tahun 2013 silam, Riqzal memilih upgrade pelatihan wasit ke Nasional Level B. Dan tak sia-sia, dia akhirnya dipercaya menjadi wasit pada Kejurnas Junior Tahun 2016.

Mulai Jadi Wasit Profesional

Dari situ, Riqzal semakin percaya diri. Kemampuannya mulai benar-benar dikembangkan. Bahkan yang menggembirakan, dia ditunjuk sebagai hakim garis Pro Liga tahun 2019 lalu.

“Setelah itu, karena ada pemantauan dari pusat, tahun 2020 saya untuk pertama kalinya mendapat kepercayaan dengan ditugaskan menjadi wasit di Pro Liga,” imbuh Riqzal.

Namun, karier warga Jl Imam Bonjol Nomor 92 A, Desa Pamolokan, Kecamatan Kota Sumenep itu tak berhenti di tahun 2020. Kariernya meroket, hingga dilirik oleh PBVSI untuk menjadi wasit profesional.

Selanjutnya, pasca melalui proses perjuangan panjang itulah Riqzal dianggap pantas mendapat tugas di PON XX Papua 2021 mewakili Jawa Timur. Akhirnya, Riqzal pun bertemu dengan target impiannya.

Meski begitu, Riqzal mengaku sempat kecewa. Sebab, PON XX Papua yang semestinya digelar pada tahun 2020 lalu, dipaksa tertunda ke tahun 2021 ini akibat pandemi Covid-19.

“Butuh perjuangan yang besar untuk gelaran PON kali ini. Penyebabnya karena Covid-19. Kebetulan ada dua. Saya bertugas untuk wasit pertandingan putri,” ucap Riqzal.

Sebagai satu-satunya orang Sumenep, Madura yang mendapat tugas penting ini, Riqzal tetap sabar menunggu. Alhasil, tahun 2021 PON XX Papua benar-benar digelar di Stadion Lukas Enembe, Jayapura.

“Jadi, butuh kesabaran menghadapi PON kali ini. Ada banyak proses yang harus kami lalui hingga selesai,” jelas pria yang saat ini berada di Pulau Cendrawasih. (*)

Tinggalkan Komentar

Close Ads X
--> -->