Menu

Pakai Istilah Tempo Doeloe, Pakaian Dinas ASN Ini Tidak Sesuai Sejarah

Pakai Istilah Tempo Doeloe, Pakaian Dinas ASN Ini Tidak Sesuai Sejarah
Kolase busana penguasa Sumenep tempo doeloe, dan pakaian ASN Sumenep bertalar budaya, masa kini. (Foto/Mata Madura)
Link Banner

matamaduranews.com-SUMENEP-Lebih kurang sejak setahun lalu, Pemerintah Kabupaten Sumenep memberlakukan aturan baru pakaian dinas Aparatur Sipil Negara (ASN) di jajarannya. Pemberlakuan pakaian dinas itu sesuai dengan Surat Edaran (SE) Sekda Kabupaten Sumenep Nomor 065/927/435.032.2/2018 tentang Penggunaan Pakaian Dinas.

Kala itu, Sekda Kabupaten Sumenep, Ir. Edy Rasiyadi, M.Si mengatakan, penggunaan pakaian dinas khas daerah dipakai setiap hari Selasa, dengan ketentuannya adalah pakaian dinas khas daerah Ganalan Billa Banten dipakai untuk pegawai pria bawahan celana panjang warna hitam dengan menggunakan blangkon/odeng Gantong Rek-kerek (?).

Ganalan bagi pria itu bercorak batik. Disebut juga, motif dan bentuk pakaian dinas batik khas Sumenep adalah batik burung daun, beras tumpah, sekar jagad cendana, daun burung, sekar jagad mayor, daun bunga, sekar jagad, sekar jagad kerang dan batik terak bulen.

Sedangkan pakaian dinas khas sonok untuk pegawai wanita dengan bawahan rok sampir dengan menggunakan kerudung warna coklat muda.

Jenis Pakaian di atas, khususnya bagi pria memiliki pakem dan akar sejarah panjang. Mata Madura mencoba mengulasnya di edisi ini.

Akar Sejarah

Dinasti terakhir Sumenep, yang dimulai dari Bindara Saut hingga RTA Prabuwinoto banyak menorehkan peninggalan sejarah sekaligus tradisi yang masih hidup di sebagian benak masyarakat Sumenep.

Dalam hal busana misalnya, terkait pakaian adat, yang dalam hal ini menjadi busana resmi sekaligus keseharian kalangan keraton, Sumenep memiliki beraneka ragam pakaian sekaligus tutup kepala (tongkos/odeng).

Menurut sesepuh Sumenep, di antaranya RPA Sukur Notoasmoro dan RB Mukarram (keduanya sudah almarhum), busana keraton banyak merupakan buah pikir Sultan Sumenep, Abdurrahman Pakunataningrat. Hal itu terkait dengan yang dikenal istilah Politik Ajala Sottra: politik dalam menghadapi cengkraman kuku penjajah.

Secara garis besarnya politik Ajala Sottra ini digunakan untuk menghadapi tekanan politik andalan Belanda: devide et empera. Politik memecah belah kekuatan atau yang dikenal dengan siasat adu domba.

Ajala Sottra merupakan gerakan perlawanan yang sifatnya samar bahkan tak terlihat. Namun implikasi yang didapat berupa keuntungan atas kerugian yang ditelan lawan. Namun tanpa membuat lawan itu membalas atau balik menyerang.

Dalam menerapkan Ajala Sottra, Sultan Abdurrahman terlebih dulu memasyarakatkannya melalui simbol-simbol dalam atribut sehari-hari. Yakni dengan menciptakan sebuah busana adat pria dalam kesehariannya. Busana itu diberi nama Ganalan atau Billa Banten. Busana itu terdiri atas lima perlengkapan.

Perlengkapan pertama ialah ikat kepala yang diberi nama gantong re’-kere’ , dengan ejaan memakai bisat (‘), jadi bukan ditulis rek-kerek  seperti di surat edaran. Makna bebasnya dalam bahasa Indonesia ialah menggantung anak anjing yang masih bayi atau baru lahir. Re’-kere’ dalam wujudnya berupa binatang najis yang warna kulitnya putih kemerah-merahan. Warna kulit yang sama dengan milik orang Belanda. Sehingga maksud dari istilah itu ialah ‘gantung, orang-orang Belanda!’.

Perlengkapan kedua ialah kain baju dan sarung yang bermotif kembang (kain sarung pacenan). Kain motif kembang ini merupakan motif perempuan. Makna dari pemilihan jenis kain itu ialah bahwa politik Ajala Sottra ini sangat halus dan sangat berhati-hati seperti layaknya kaum perempuan.

Perlengkapan busana selanjutnya ialah memakai abinan kerres (keris). Maksud yang terkandung di dalamnya ialah bahwa politik Ajala Sottra sangat tajam dan ampuh, seperti keris Sumenep yang dikenal bertuah.

Setelah itu memakai perlengkapan berupa ikat pinggang yang terdiri dari dua macam. Ikat pinggang pertama ialah ikat pinggang berwarna merah dan kuning yang diberi nama kapodhang nyocco’ sare. Maknanya ialah raja berseri-seri. Ikat pinggang pinggang kedua terdiri dari warna merah dan hijau daun, yang disebut kapodhang nyocco’ dhaun. Istilah tersebut bermakna raja tengah murka. Kedua istilah itu konon dijadikan Pangeran Diponegoro sebagai judul dari kidung-kidung ciptaannya saat beliau dibawa ke Sumenep.

Perlengkapan terakhir ialah alas kaki berupa selop yang bagian depannya tertutup. Maknanya ialah perjalanan politik Ajala Sottra harus dilakukan dengan hati-hati dan dengan sangat halus, sehingga bisa berhasil dengan lancar dan selamat, tanpa rintangan apapun.

Ganalan dan Odeng Gantong Re’-kere’

Hingga dewasa ini, literatur sejarah mengenai bentuk busana lengkap kebangsawanan itu masih belum ada. Kebanyakan masih berupa kisah lisan. Namun meski demikian, dari bukti foto pembesar Sumenep tempo doeloe, maka tidak sulit kemudian untuk mencari rujukannya.

Seperti salah satu potret Pangeran Pakunataningrat, adipati Sumenep, yang menggunakan busana baju Billa Banten. Ada juga potret Pangeran Suryoamijoyo, Sekretaris Keraton Sumenep di masa Panembahan Mohammad Saleh.

Salah satu generasi muda Sumenep, RB Fahrurrazi kepada Mata Madura pernah menunjukkan sebuah hasil rangkuman dan gambar buatan ayahnya tentang jenis-jenis pakaian dan tutup kepala. “Sumbernya di antaranya RPA Sukur dan RB Mukarram,” katanya.

Mengenai busana Billa Banten, yang kini dijadikan pakaian dinas di Sumenep, dalam catatan sesepuh serta catatan milik Fahrurrazi, jelas menyatakan bahwa pakaian berjenis sutra tanpa gambar alias polos.

“Bedanya, jika dipakai raja menggunakan kancing emas. Untuk pejabat tinggi dengan kacing perak. Tapi jenisnya polos, bukan bermotif kembang-kembang,” katanya.

Tutup kepala juga beda berdasar status. Bagi raja yang dipakai ialah odeng bungkosan. “Dengan sompeng mencuat ke kiri mengikut arah ekor keris,” jelas Fahrurrazi.

Sementara bagi pejabat lainnya, tutup kepala yang dipakai ialah odeng gantong re’-kere’.

Terkait busana ASN yang mengatasnamakan sebagai contoh yang merujuk pada peninggalan keraton Sumenep, anggota keluarga keraton Sumenep, RB Ja’far Shadiq mengatakan, seharusnya mengacu pada sumber otentik. “Kan sudah ada potret-potret bangsawan Sumenep yang menggunakan busana tersebut,” ujarnya.

Sehingga semestinya, menurut salah satu personel Komunitas Ngoser (Ngopi Sejarah) ini, jika tidak mau mengikuti rujukan yang sifatnya otentik, maka jangan menggunakan istilah tempo doeloe. “Kalau mau pakai istilah ganalan Billa Banten misalnya maka ya ikuti contohnya seperti apa, tentunya keluarga keraton yang lebih paham. Tanyakan ke ahlinya, bukan yang sok tahu. Kalau sekadar pakai istilahnya tapi tak sesuai dengan sejarahnya, ya tidak bisa. Pakai istilah umum, seperti pakaian adat saja. Atau perlu dikaji lagi,” tegas Ja’far.

Pemerhati sejarah Sumenep RB Hairil Anwar mengatakan bahwa pakaian ASN Sumenep di hari Selasa itu mirip dengan kain batik surjan Jogjakarta.  “Jadi tidak berciri khas Sumenep sebenarnya. Begitu juga mengenai odeng ternyata banyak yang tidak seragam dan tidak mengikuti model gantong re’-kere’ yang semestinya,” jelas anggota TACB Sumenep ini.

RBM Farhan Muzammily

Bagikan di sini!
KOMENTAR

Belum Ada Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Iklan
Lowongan

Ra Fuad Amin

Hukum dan Kriminal

Pilkada 2020

Tasawuf

Inspirator

Catatan

Opini dan Resensi

Sastra

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional

%d blogger menyukai ini: