Menu

Raden Macan Alas, Keramat Agung Tanah Waru

  Dibaca : 886 kali
Raden Macan Alas, Keramat Agung Tanah Waru
Pintu Gerbang menuju Pasarean Raden Macan Alas, di Waru, Pamekasan. (Foto/Ra Ali Muqit for Mata Madura)
Link Banner

Jelajah Jejak Ulama kali ini di kawasan Waru. Lokasi yang di jaman kuna dikenal sebagai kawasan keramat. Banyak tokoh-tokoh arifbillah yang memilih bumi Waru sebagai tempat “khalwatnya”. Salah satunya Wali Agung di kawasan Gerbang Salam, Buju’ Macan Alas. Tokoh awal yang membabat wilayah Waru.

MataMaduraNews.Com-PAMEKASAN-Nama Buju’ Macan Alas alias Raden Macan Alas di Madura, khususnya di Pamekasan-Sumenep cukup populer. Namun dewasa ini, nama tokoh ulama besar di Kecamatan Waru (dulu kawedanan), Kabupaten Pamekasan tersebut bahkan dikenal tak hanya di Pulau Garam, melainkan hingga wilayah Jawa Timur, khususnya di kawasan Tapal Kuda.

Cucu Penguasa Sampang

Nama Buju’ Macan Alas banyak ditemui di catatan keluarga kiai di Pamekasan, daerah pantai utara (pantura) Madura, dan keluarga keraton di Sumenep dan Sampang.

Di catatan silsilah Sumenep susunan almarhum K. R. B. Muhammad Mahfuzh Wongsoleksono, mantan Wedana Kangayan, tertulis nama Raden Macan Alas, Waru, Pamekasan. Nama raden di depan nama Macan Alas menunjukkan gelar kebangsawanan. Ya, Raden Macan Alas memang putra seorang pangeran di Sampang. Ayahnya bernama Pangeran Sosrodipuro atau Surodipuro, dengan tambahan keterangan Sawah Pele, Sampang.

Penulisan di catatan tersebut kiranya sudah “diindonesiakan”. Karena dalam bahasa Madura, huruf “w” tidak digunakan kecuali sebagai huruf pelancar. Jadi orang Madura tidak menyebut sawah, melainkan saba.

Hal itu selanjutnya bisa dibandingkan dengan catatan lain kawasan pantai utara, seperti catatan di Pasongsongan, Sumenep. Di sana disebut nama Raden Macan Alas sebagai putra Pangeran Saba Pele. Catatan itu dipegang oleh salah satu anak Abdul Hadi WM, namun sudah dalam bentuk salinan.

Area Pasarean Raden Macan Alas di Waru,Pamekasan. (Foto/Ra Ali Muqit for Mata Madura)

Penyebutan Saba Pele juga ada di catatan silsilah sejumlah pesantren di Pamekasan. Kiranya catatan di Pamekasan tersebut menjadi rujukan beberapa catatan-catatan silsilah lain, bahkan yang ada di kawasan Tapal Kuda.

”Iya, memang penulis catatan silsilah Pangeran Saba Pele yang ada di Jember misalnya, itu memang kemungkinan mengambil rujukan ke Madura. Atau bisa saja juga di sini ada, walau dalam bentuk riwayat,” kata K. Miftahul Arifin di Suren, Jember, salah satu pemerhati silsilah dan sejarah di Jember.

Pria muda yang akrab dipanggil Lora Miftah itu memang sering terlibat dalam penyusunan silsilah kiai-kiai besar di Tapal Kuda. Seperti silsilah Bani Ruham dan Hadu, silsilah pengasuh Ponpes Nurul Jadid Probolinggo. Ia juga terlibat dalam penyusunan silsilah keluarga pesantren Banyuanyar di Pamekasan Madura.

”Kaitan dengan Madura pasti. Karena memang asal kiai-kiai besar di Tapal Kuda itu ya Madura,” kata Miftah beberapa waktu lalu, dalam sebuah pertemuan para pemerhati dan pencatat nasab ulama-ulama Madura dari jalur Wali Sanga.

Kembali pada Pangeran Saba Pele, nama ini juga tertulis di sebuah catatan keluarga priyayi di Sampang. Namun catatan itu berbentuk lembaran besar, sehingga mesti disusun ulang. Nama Pangeran Saba Pele itu berada di urutan terbawah. Urutan teratas adalah Panembahan Ronggosukowati, raja Pamekasan. Sedang ayah keduanya di catatan Sampang itu ialah Raden Adipati Pramono, Sampang.

Catatan itu sangat mirip dengan catatan di Sumenep, susunan KRB Moh Mahfuzh di atas. Hanya perbedaan ejaan Saba Pele dan Sawah Pele. Perbedaan lain, jumlah saudara Pangeran Saba Pele. Di catatan KRB Mahfuz atau Gus Mahfuzh, hanya disebut satu orang, yaitu Panembahan Ronggosukowati. Namun di catatan Sampang, yaitu yang dipegang Moh Saleh, tercatat beberapa nama lainnya. Hanya, di catatan Sejarahwan Madura, R. Zainalfattah, tak ada nama Pangeran Saba Pele di antara saudara Panembahan Ronggo.

Nah, sampai di sini, masih ada perbedaan lagi. Dan ini sangat substansial. Yaitu mengenai ayah Pangeran Saba Pele. Di catatan Gus Mahfuzh dan catatan milik Moh Saleh Sampang, ayah Pangeran Saba Pele adalah Adipati Pramono, penguasa Sampang sekaligus Pamekasan (waktu itu Pamelingan). Sedang di catatan keluarga pantura, kiai-kiai Pamekasan hingga Tapal Kuda, lain lagi. Catatan pantura menyebut ayah Pangeran Saba Pele adalah Panembahan Sampang, sedang catatan Pamekasan, Bangkalan, dan Tapal Kuda ada dua versi: satu menyebut Ratu Lor Patapan Sampang, dan satu lagi Panembahan Sampang. Hanya, catatan Pantura dan keluarga kiai-kiai di Pamekasan dan Tapal Kuda kompak menyebut ayah dari Panembahan Sampang itu Sunan Cendana atau Kiai Cendana Kwanyar, Bangkalan.

Perbedaan yang begitu mencolok mungkin terletak pada “nisbat” Sampang itu sendiri. Semua catatan itu menyebut Sampang sebagai lokasi, atau wilayah kekuasaaan ayah Pangeran Saba Pele. Kemungkinan penyusun silsilah terjebak pada kata Sampang. Meski tak bisa dipungkiri memang silsilah di banyak tempat mengandung perbedaan alias banyak versi.

”Jadi, memang catatan silsilah kuna itu biasa terjadi perbedaan versi. Makanya tak jarang dilakukan penelitian. Meski untuk memastikan yang benar itu tetap sulit, karena kita tidak mengalami masa tokoh-tokoh kuna yang tertulis di catatan itu,” kata salah satu pemerhati silsilah di Sumenep, R B Muhlis kepada Mata Madura.

Gus Muhlis, panggilan akrab R B Muhlis, juga mengatakan, jika dalam penelitian itu biasa terjadi adu argumen, dan data. Namun ia mengingatkan jika sumber dari riwayat lisan dan tulisan sebagai rujukan utama penulisan silsilah juga masing-masing memiliki kelemahan sekaligus kelebihan.

”Riwayat lisan mengandalkan ingatan dan tentu kejujuran periwayatnya. Bicara ingatan, kadang info dari satu orang pada dua orang itu beda. Apalagi jika salah satu menerima riwayat saat pemberi info itu sudah sepuh, dan satunya saat masih muda. Tulisan juga begitu. Catatan yang diukur dari tuanya kertas itu tidak bisa dikatakan sebagai catatan yang paling akurat hanya karena ditulis lebih dulu,” jelasnya.

Kembali pada silsilah Raden Macan Alas, Panembahan Sampang dengan Adipati Pramono Sampang jelas beda. Panembahan Sampang merujuk pada Kiai Putramenggolo yang pasareannya di Petapan, Labang, Bangkalan. Sedang Adipati Pramono adalah anak Pangeran Demang Plakaran. Adipati Pramono bersaudara dengan Raden Ario Pragolbo (Pangeran Arosbaya), ayah Panembahan Lemah Duwur, leluhur dinasti Cakraningrat Bangkalan.

”Di catatan keturunan Kiai Putramenggolo di Labang, nama Pangeran Saba Pele ini jelas tercatat. Begitu juga saudara-saudaranya, seperti Kiai Koneng yang nama aslinya Gusti Yudolaksono,” kata Lora Yahya, salah satu pemerhati silsilah sekaligus keturunan Kiai Putramenggolo di Petapan.

Di sisi kecenderungan bahwa Pangeran Saba Pele masih ada hubungan darah dengan Panembahan Ronggosukowati memang ada. Salah satu alasannya ialah, salah satu putra Raden Macan Alas, yaitu Raden Sutojoyo adalah salah satu Menteri Keraton Sumenep yang berkedudukan di Sotabar, pesisir utara. Di sana beliau juga tercacat sebagai Penjaga Pintu Gerbang Keraton. Seperti diketahui, jalur utama di masa lampau ialah jalur utara. Namun, alasan tersebut bisa jadi tidak lagi menonjol saat sejarah menyajikan fakta bahwa salah satu Raja Sumenep, Pangeran Panji Pulang Jiwa merupakan trah Giri Kedaton, dan masih keluarga dekat Kiai Putramenggolo bin Sunan Cendana.

”Kemungkinan lain, meski perlu kajian lagi, Pangeran Saba Pele menikah dengan anggota keluarga Panembahan Ronggosukowati,” ujar Gus Muhlis. Alasan Muhlis, kadang penulisan dahulu menantu dianggap anak, sehingga di salinan setelahnya keterangan menantu itu hilang. Ia menyodorkan beberapa contoh.

Sementara putra Raden Sutojoyo yang bernama Raden Entol Anom merupakan Patih Sumenep yang bergelar Raden Ario Onggodiwongso (di sebuah stambook atau cacatan silsilah jaman kolonial, isteri Raden Onggodiwongso ini berasal dari Kasepuhan Surabaya, adik dari Tumenggung Jimat, sama-sama putra Tumenggung Onggojoyo, anak Pangeran Lanang Dangeran). Patih ini sebuah jabatan prestius. Dahulu menjadi pembesar keraton disamping memiliki hubungan kekerabatan dengan raja, juga mesti memiliki kharisma atau pengaruh yang disebabkan pribadinya yang mumpuni di bidang keilmuan, kedigjayaan, dan karomah. Jadi, tak setiap anggota keraton memiliki kesempatan untuk duduk di jajaran kepemerintahan, baik sebagai pejabat negara, atau penasihat.

Nah, mengenai hubungan kefamilian, jika mengacu pada posisi Pangeran Saba Pele sebagai saudara Panembahan Ronggosukowati, maka posisi Raden Entol Anom masih bersaudara sepupu dengan Pangeran Rama (Cakranegara ke-II), adipati Sumenep. Seperti diketahui, Pangeran Rama adalah anak Pangeran Gatutkaca (Adikara ke-I) bin Pangeran Purboyo bin Panembahan Ronggosukowati. Ibu Pangeran Rama ialah putri Tumenggung Yudonegoro, adipati Sumenep.

”Namun sekali lagi itu tetap tidak bisa dipastikan. Karena di Sumenep seperti diketahui juga ada Pangeran Pulangjiwa, adipati Sumenep, yang juga menantu Yudanegara, juga mertua Pangeran Rama. Nah, Pulangjiwa ini berdasar catatan silsilah keraton Sumenep masih turunan garis pancer dari Pangeran Gebak, paman Sunan Cendana. Jadi juga masih ada hubungan sepupuan dengan turunan Panembahan Sampang Putramenggolo,” imbuh Gus Muhlis, akhir Oktober lalu.

***

Perbedaan versi yang berkembang di kalangan pemerhati dan ahli silsilah Madura terkait Raden Macan Alas jelas tak mengurangi nama besar tokoh yang kewaliaannya begitu terkenal ini. Meski, mayoritas catatan kuna menyebut beliau sebagai cicit garis laki-laki (pancaran laki-laki) dari Sunan Cendana. Pasareannya yang berada di kawasan yang jauh dari perkotaan tetap ramai. Peziarah dari segenap penjuru.

Pasarean Raden Macan Alas di Waru, Pamekasan. (Foto/Ra Ali Muqit for Mata Madura)

Ada kisah atau riwayat setempat mengenai Raden Macan Alas, kedatangan beliau ke Waru disebut dalam rangka da’wah dan menyadarkan masyarakat di sana yang dikenal sarangnya orang-orang digjaya dan linuih, namun jauh dari kehidupan religuis. Kisah lain di Waru konon dikuasai sekelompok orang yang menindas masyarakat kecil. Dengan karomah beliau masyarakat di sana berhasil ditundukkan, sehingga Raden Macan Alas dijadikan pemimpin dan guru. Sebuah riwayat dari Bindara Badri, Pakong, konon Raden Macan Alas seda (wafat) dua kali. Kali pertama dimakamkan di pasarean yang dikenal hingga saat ini, dan ramai diziarahi.

”Setelah itu beliau tiba-tiba muncul lagi, dan wafat beberapa tahun setelahnya. Dan dimakamkan di sebelah timur Pasarean pertama,” kata Badri. Meski beberapa kalangan meyakini bahwa pasarean kedua itu adalah petilasan saja.

Daerah Waru memang dikenal sebagai kawasan atau bumi Waliyullah di Pamekasan. Di sana juga ada pasarean Kiai Agung Waru dan Kiai Bayan. Kiai Bayan adalah anak Kiai Agung Waru. Ibu Kiai Bayan, Nyai Agung Waru dikenal sebagai waliyullah perempuan yang melegenda hingga kini. Nyai Agung adalah putri Raden Entol Janingrat, anak Raden Sutojoyo bin Macan Alas. Keturunan Macan Alas menyebar di Pamekasan hingga daerah Tapal kuda. Beberapa pesantren besar di Pamekasan, seperti Ponpes Banyuanyar dan Bata-bata, tokoh-tokohnya merupakan keturunan Raden Macan Alas dari jalur Nyai Agung Waru. Begitu juga pendiri ponpes Aliwafa Tempurejo (Temporan), Jember, K. H. Abdul Aziz bin Abdul Hamid bin Itsbat. Termasuk juga isteri K. H. Zaini, pendiri ponpes Nurul Jadid, Paiton.

”Dari jalur isteri Kiai Abdul Hamid, yaitu Nyai Nurhalimah, putri K. Congkop, Pakes,” kata K. Ali Muqit, cucu K. H. Abdul Aziz Sepuh, Tempurejo.

R B M Farhan Muzammily, Mata Madura

KOMENTAR

2 Komentar

Link Banner
Link Banner Link Banner

Jejak Ulama

Kategori Pilihan

Catatan

Opini dan Resensi

Sastra

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional