Berita UtamaNasionalReligi

Penentuan Awal Bulan, Kenapa Harus Hilal 3° dan Elongasi 6,5°?

×

Penentuan Awal Bulan, Kenapa Harus Hilal 3° dan Elongasi 6,5°?

Sebarkan artikel ini
Hilal Harus 3 Derajat
ilustrasi

matamaduranews.com- Tulisan ini saya ambil dari seorang ahli yang diposting di media sosial. Nama akun FB nya lupa. Lalu saya asupi ke ChatGPT untuk mendeskripsikan.

Lewat tulisan ini. Saya ingin menyuguhkan diskursus penentuan awal bulan hijriah. Termasuk penentu awal Bulan Ramadhan dan awal Syawal atau Idulfitri. Tanpa maksud apa. Biar pembaca menyimpulkan.

BACA JUGA: Lebaran 2026: Hilal Sudah Ada, Kenapa Masih Dianggap Belum? Ini Penjelasan-nya

Berikut tulisan lengkapnya:

Bahasan ini mencoba mengajak kita memahami secara sederhana mengapa dalam penentuan awal bulan Hijriah dikenal batas tinggi hilal 3° (3 derajat) dan elongasi sekitar 6,5 ° (6,5 derajat). Pertanyaan yang sering muncul adalah: jika bulan baru sudah terjadi, bahkan sejak 0 derajat, lalu kenapa masih harus menunggu sampai 3 derajat?

Untuk menjawab itu, kita perlu mulai dari pengertian dasar tentang bulan baru.

Dalam astronomi, bulan baru (new moon) terjadi ketika Matahari, Bulan, dan Bumi berada hampir dalam satu garis. Pada posisi ini, bagian Bulan yang menghadap ke Bumi tidak mendapat cahaya Matahari, sehingga tampak gelap dan tidak bisa dilihat. Karena itu, secara ilmiah, bulan baru memang sudah terjadi bahkan sejak sudutnya sangat kecil, tidak harus menunggu 1 derajat. Bahkan pada 0 derajat pun, fase bulan baru sudah sah secara astronomi.

Namun, penentuan awal bulan Hijriah tidak berhenti pada konsep “bulan baru”. Yang dicari dalam praktik adalah hilal, yaitu penampakan pertama bulan sabit tipis setelah Matahari terbenam. Di sinilah perbedaan penting antara teori astronomi dan praktik pengamatan (rukyat) mulai terlihat.

Hilal bukan sekadar keberadaan Bulan, tetapi kenampakan Bulan. Artinya, walaupun secara hitungan Bulan sudah ada, belum tentu ia bisa dilihat. Dalam banyak kasus, Bulan masih terlalu dekat dengan Matahari, cahayanya kalah terang, atau posisinya terlalu rendah di ufuk sehingga tenggelam lebih dulu sebelum sempat diamati.

Di sinilah konsep elongasi menjadi penting.

Elongasi adalah jarak sudut antara Bulan dan Matahari jika dilihat dari Bumi. Semakin besar nilai elongasi, semakin jauh posisi Bulan dari Matahari di langit, sehingga peluang untuk melihat hilal juga semakin besar. Sebaliknya, jika elongasi masih kecil, Bulan berada sangat dekat dengan Matahari, sehingga cahayanya tertutup silau cahaya senja.

Berdasarkan pengalaman observasi dan kajian ilmiah selama bertahun-tahun, para ahli kemudian menyimpulkan bahwa hilal hampir tidak mungkin terlihat jika terlalu rendah atau terlalu dekat dengan Matahari. Dari sinilah muncul batas yang dikenal luas, yaitu tinggi minimal sekitar 3 derajat dan elongasi sekitar 6,4 hingga 6,5 derajat. Batas ini juga menjadi kesepakatan bersama dalam forum MABIMS yang diikuti oleh Indonesia, Malaysia, Brunei, dan Singapura.

Dengan demikian, angka 3° dan 6,5° bukanlah angka sembarangan. Ia merupakan hasil dari akumulasi data, pengalaman rukyat, dan pertimbangan ilmiah agar hilal yang dinyatakan “ada” benar-benar memiliki peluang realistis untuk terlihat, bukan hanya sekadar ada secara teori.

BACA JUGA: Mengapa Hilal Harus 3 Derajat untuk 1 Syawal? Ini Penjelasan Fikih dan Astronomi

Pada akhirnya, kita bisa memahami bahwa bulan baru dan hilal adalah dua hal yang berbeda. Bulan baru menandai awal secara astronomi, sedangkan hilal menandai awal secara visual dan praktis dalam penentuan kalender Hijriah. Perbedaan inilah yang kemudian melahirkan variasi metode antara hisab dan rukyat.

Memahami ini membuat kita melihat bahwa perbedaan yang terjadi bukanlah semata-mata pertentangan, melainkan perbedaan pendekatan dalam membaca langit—antara apa yang sudah ada dan apa yang sudah bisa dilihat. (rasidi)

Tinggalkan Balasan