Alumni Annuqayah Guluk-Guluk

Mata Madura - 22/08/2020
Alumni Annuqayah Guluk-Guluk
Taufiqurrahman, alumni Ponpes Annuqayah Guluk-Guluk yang baru lulus dari Fakultas Filsafat UGM. (fotodisway) - ()
Penulis
|
Editor

matamaduranews.com-Dahlan Iskan seperti kaget bercampur surprise medengar anak muda asal Sumenep, Madura piawai berbicara teori filsafat dalam diskusi di facebook.

Pemuda itu bernama Taufiqurrahman, alumni Ponpes Annuqayah Guluk-Guluk yang baru lulus dari Fakultas Filsafat UGM.

Dahlan Iskan tak menduga ada anak muda yang bisa membantah argumen Goenawan Muhammad dan Ulil Absar dalam diskusi di postingan akun facebook AS Laksana.

Berikut tulisan lengkap Dahlan Iskan di situs Disway:

Filsafat Sains

AWALNYA dari diskusi yang diselenggarakan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) pusat. Temanya: Berkhidmat pada Sains.

Waktu itu Covid-19 baru saja melanda (juga) Indonesia. Banyak orang yang masih abai pada peringatan bahayanya pandemi itu. Termasuk yang menggunakan alasan agama: mati itu di tangan Tuhan.

Penulis terkemuka, AS Laksana, mengomentari panjang diskusi itu. Yang kemudian menjadi polemik hebat yang sangat serius. Yang melibatkan puluhan ahli filsafat. Orang seperti Romo Fransisco Budi Hardiman turun tangan.

Media tempat polemik itu: Facebook. AS Laksana yang memulai. Ia menulis naskah 2.500 kata itu di akun Facebook-nya. Yang kemudian ditanggapi para ahli filsafat itu di situ juga. Inilah untuk kali pertama polemik serius dilakukan di Facebook. Ilmuwan filsafat, pastor Katolik, ustadz, dan guru besar adu argumentasi filsafat di situ.

Tentu Facebook harus berterima kasih pada mereka: citra Facebook tidak lagi hanya untuk para penggosip.

Di antara tokoh filsafat itu muncul satu nama baru. Tidak dikenal di persilatan filsafat. Namanya juga hanya satu kata: Taufiqurrahman. Doktor dari manakah ia?

Saya pun penasaran. Saya ingin tahu siapa Taufiqurrahman itu. Kok tulisannya hebat sekali. Bacaan buku filsafatnya kelas berat semua. Pendapatnya juga bagus. Dan yang lebih menarik: keberanian Taufiqurrahman ‘membantai’ nama-nama besar di polemik itu. Dia habisi orang seperti Goenawan Mohamad dan Ulil Abshar Abdalla.

Akhirnya saya bisa menemukan nomor kontaknya. Nama itu benar-benar ada. Bukan nama samaran. Orangnya ada. Bukan pengecut.

Awalnya saya mendapat indikasi bahwa Taufiqurrahman adalah alumnus satu sekolah terkenal di Perenduan. Di desa yang jauh ini –20 km sebelum kota Sumenep, Madura– memang ada pesantren besar. Itulah pondok ‘Gontor’-nya Madura.

“Saya bukan alumnus Perenduan,” ujar Taufiqurrahman pada saya kemarin sore. “Saya dari Annuqayah,” tambahnya.

Saya tahu juga tahu Annuqayah. Letaknya di desa Guluk-Guluk. Saya beberapa kali ke sana. Lebih jauh lagi dari Perenduan. Lebih masuk lagi ke desa.

Pertama ke sana ketika saya masih wartawan muda untuk majalah TEMPO. Terakhir ke sana ketika saya menjadi sesuatu dulu. Yakni untuk urusan tasawuf Nahsabandiyah Qadiriyah.

Taufiqurrahman adalah lulusan Madrasah Aliyah di situ. Rumahnya sendiri masih 30 km dari Annuqayah.

Pesantren itu diasuh beberapa kiai. Salah satu anak kiai di situ kuliah filsafat di Universitas Gadjah Mada (UGM) Jogjakarta. Lulus UGM kiai muda itu kembali ke Annuqayah. Mengajar di situ.

“Saya kagum pada beliau,” ujar Taufiqurrahman. “Begitu lulus Aliyah saya ingin kuliah filsafat di UGM,” tambahnya.

Ia pun mendapat beasiswa dari UGM –yang lantas dialihkan ke Bidik Misi-nya kementerian pendidikan. Uang dari beasiswa itu sebagian ia gunakan untuk memperdalam bahasa Inggris. Ia ikut kursus-kursus bahasa Inggris di Jogja.

“Saya harus bisa membaca buku-buku filsafat dalam bentuk aslinya yang berbahasa Inggris,” katanya.

Wajar kalau banyak yang penasaran siapa Taufiqurrahman. Ternyata ia baru lulus S-1 Fakultas Filsafat UGM tahun lalu. Ia sudah biasa menulis tapi baru sekali ini terlibat dalam polemik seserius ini.

Apakah kenal secara pribadi dengan tokoh-tokoh yang ia serang itu?

“Tidak,” katanya.

“Pernah bertemu? “

“Tidak.”

“Pernah membaca tulisan mereka? “

“Sering. Saya mengagumi tulisan mereka,” jawabnya.

“Pernah membuka YouTube yang isinya kuliah filsafat Uli Abshar Abdalla tentang Imam Al Ghazali?”

“Pernah. Beberapa kali,” jawabnya.

Nada suara Taufiqurrahman khas orang pondok. Lirih, rendah hati dan sangat sopan. Sama sekali tidak sama dengan tulisannya.

Misalnya saat ia menanggapi tulisan Ulil soal ‘Saintism’.

Tulisan Ulil yang panjang itu ia anggap hanya pamer nama-nama besar tokoh filsafat dunia. “Intinya hanya satu: Ulil tidak suka Saintism. Selebihnya adalah tulisan soal otobiografi intelektual Ulil sendiri,” tulisnya.

“Saya tidak akan mengomentari biografi intelektual Ulil karena itu memang tidak penting untuk polemik ini. Saya hanya ingin menunjukkan satu kekeliruan dan satu kelemahan Ulil. Yakni bahwa ia salah dalam mendefinisikan Saintism,” tulisnya.

Demikian juga ketika membantah premis Goenawan Mohamad (GM). “Dua premis itu mungkin hanya betul di pikirannya GM sendiri,” tulisnya.

GM memang menanggapi tulisan AS Laksana. Panjang lebar. Taufiqurrahman menanggapi GM. Dibalas GM. Dibalas lagi oleh Taufiqurrahman. Sampai empat kali.

AS Laksana sendiri juga memberikan tanggapan. Dibalas juga oleh GM. Disanggah lagi oleh Laksana. Beberapa kali saling menanggapi. Di susul oleh yang lain. Selama dua bulan terakhir.

“Ketika sains menjadi panglima, sains akan terdorong mengedepankan kepastian. Bukan masuk ke dalam proses pencarian kebenaran,” tulis GM di tulisan pertama saat menanggapi AS Laksana.

Taufiqurrahman membantah itu. “Yang membuat sains itu special dan membuatnya layak menjadi sumber utama dalam memahami dunia alamiah adalah prinsip umum dalam komunitas ilmuwan,” tulis Taufiqurrahman. “Itulah yang disebut oleh Lee McIntyre sebagai scientific attitude. Yakni bahwa ilmuwan punya persiapan sikap untuk mengubah teorinya kalau ditemukan bukti dalam empiris bahwa teorinya salah,” tulisnya.

GM tidak mau kalau sains menjadi dogma baru. Taufiqurrahman menganggap GM salah kalau mengatakan sains bisa menjadi dogma baru.

Motivasi AS Laksana menulis soal diskusi IDI itu sendiri memang datang dari sikap GM sejak lama. Yang ia anggap sebagai tokoh yang ‘anti sains’. Laksana sudah mencatatnya itu agak lama. “Tulisan-tulisan GM mencerminkan sikapnya yang anti-sains,” katanya.

Termasuk di acara diskusi IDI itu. Bahkan sebelum diskusi itu sendiri dimulai. Sebagai salah satu pembicara, GM tidak setuju dengan topik yang dibahas hari itu. Yakni ‘Berkhidmat pada Sains’. Atas permintaan GM topik yang ia bawakan harus diganti menjadi ‘Sains dan Beberapa Masalahnya’.

DI’s Way hari ini tentu tidak akan masuk ke materi polemik itu. Tempatnya tidak cukup. Carilah sendiri di Facebook. Sesekalilah buka Facebook bukan untuk mencari siapa selingkuh dengan siapa.

Perdebatan antara filsafat dan sains memang terus hangat. Sampai-sampai ada topik diskusi yang bertema ‘matinya filsafat’.

Bagaimana perasaan Taufiqurrahman setelah polemik ini seru? Tidakkah ia merasa sungkan telah membantai para senior?

“Di filsafat itu biasa. Saya sendiri sering dibantah angkatan junior saya,” ujarnya.

“Asal berdasar argumen. Bukan sentimen,” katanya.

Juga asal jangan berdasar tempat asal –mungkin Anda belum pernah mendengar nama desa Luk-Guluk.

Itulah sebutan untuk Guluk-Guluk bagi orang Madura.(Dahlan Iskan)

Tinggalkan Komentar

Terkini

Dinkes P2 dan KB Siaga Tekan Kasus DBD di Sumenep

Dinkes P2 dan KB Siaga Tekan Kasus DBD di Sumenep

Kesehatan   Sumenep
Begini Kronologi Carok Berdarah di Lumajang

Begini Kronologi Carok Berdarah di Lumajang

Hukum & Kriminal   Tapal Kuda
Carok Berdarah antar Perangkat Desa di Lumajang, Usus Terburai

Carok Berdarah antar Perangkat Desa di Lumajang, Usus Terburai

Headline   Hukum & Kriminal   Tapal Kuda
XL Axiata-BAKTI Kemkominfo Teken Kerja Sama 4G untuk Daerah Sumatera

XL Axiata-BAKTI Kemkominfo Teken Kerja Sama 4G untuk Daerah Sumatera

Nasional   Tekno
Syekh Ali Jaber: Boleh Tinggalkan Dzikir yang Lain, Hari Jumat Fokus Baca ini, Karena itu Permintaan Rasullullah

Syekh Ali Jaber: Boleh Tinggalkan Dzikir yang Lain, Hari Jumat Fokus Baca ini, Karena itu Permintaan Rasullullah

Khazanah
Vaksinasi di Kecamatan Batang-Batang Tembus 67 Persen Berkat SILVA

Vaksinasi di Kecamatan Batang-Batang Tembus 67 Persen Berkat SILVA

Kesehatan   Sumenep
Capres Jagoan Warga NU

Capres Jagoan Warga NU

Nasional   Politik
Jelang Malam Jumat, Polsek Saronggi Amankan 2 PSK asal Jember

Jelang Malam Jumat, Polsek Saronggi Amankan 2 PSK asal Jember

Headline   Peristiwa   Sumenep
BPN Bangkalan Diduga Persulit Sertifikat Tanah PT GSM, Imron Fattah: Kami Demo

BPN Bangkalan Diduga Persulit Sertifikat Tanah PT GSM, Imron Fattah: Kami Demo

Bangkalan   Peristiwa
Polisi Gerebek Pesta Sabu di Torbang Batuan

Polisi Gerebek Pesta Sabu di Torbang Batuan

Hukum & Kriminal   Sumenep
Detik-detik Perahu Pengangkut BBM Terbakar di Perairan Sapudi Sumenep

Detik-detik Perahu Pengangkut BBM Terbakar di Perairan Sapudi Sumenep

Peristiwa   Sumenep
Pengantin Baru Jangan Buru-buru, Lakukan Lima ini di Malam Pertama, Insyaallah Berkah

Pengantin Baru Jangan Buru-buru, Lakukan Lima ini di Malam Pertama, Insyaallah Berkah

Relationship
Perahu Pengangkut BBM Terbakar di Pulau Sapudi, Intip Nilai Kerugiannya

Perahu Pengangkut BBM Terbakar di Pulau Sapudi, Intip Nilai Kerugiannya

Peristiwa   Sumenep
Bukan Surat al-Waqi’ah, Empat Amalan ini Menurut Syekh Ali Jaber Sangat Dahsyat Mendatangkan Rezeki

Bukan Surat al-Waqi’ah, Empat Amalan ini Menurut Syekh Ali Jaber Sangat Dahsyat Mendatangkan Rezeki

Khazanah
Anwar Sadad: Santri Terbiasa Mandiri Paling Siap Hadapi Era Society 5.0

Anwar Sadad: Santri Terbiasa Mandiri Paling Siap Hadapi Era Society 5.0

Bangkalan
Close Ads X
--> -->