Apa yang Dilakukan Diskop UM PP Sumenep?

Apa yang Dilakukan Diskop UM PP Sumenep?
Hambali Rasidi

DARI kejauhan. Saya melihat gairah Bupati Sumenep Achmad Fauzi untuk menggerakkan ekonomi pada sektor UMKM pasca covid.

Atensinya mulai ngegas. Beberapa bulan terkahir. Jika diprosentase waktu yang dicurahkan. Bupati Fauzi lebih dominan menggerakkan ekonomi industri rumahan (UMKM).

Gairah itu saya rasa jadi atensi nasional. Bukan hanya Bupati Fauzi. So,..tak ada yang menarik, kan?

Toh apa yang dilakukan Bupati Fauzi masih merencanakan. Baru meletakkan fondasi. Hasilnya belum bisa dirasakan para pelaku UMKM.

Emang tugas Bupati demikian. Sama halnya dengan Gubernur dan Presiden. Membuat desain program dan merealisasikan. Kelanjutannya, tergantung bawahannya. Sejauhmana kemampuan si bawahan menerjemahkan program yang dimaui.

Itu salah satu fungsi adanya governance atau pemerintahan. Kegiatan pemerintahan itu hakikatnya kegiatan yang mengandung unsur-unsur pengaturan-pengelolaan.

Seperti, pemberdayaan, pemberi fasilitas-regulasi, pelaksanaan-pelayanan, dan pengawasan, serta pengendalian..

Tapi publik bermuara kepada kepala pemerintah (goverment). Sebagus apa pun program yang dirancang. Tapi tak diimbangi oleh si bawahan. Kepala pemerintah dianggap tak becus ngelola.

Makanya. Itu barangkali kenapa Bupati Sumenep mengambil sejumlah tenaga ahli untuk mendampingi kinerjanya.

Dalam konteks menggerakkan ekonomi sektor UMKM. Saya teringat 8 program unggulan Fauzi-Eva yang dicanangkan saat Pilkada 2020 lalu.

Dari 8 program unggulan itu. Fauzi-Eva meletakkan tiga program dalam menggerakkan ekonomi warga Sumenep.

Seperti, mencetak wirausaha muda santri di era industri 4.0. Pengembangan ekonomi kawasan dan percepatan ekonomi berbasis desa tematik.

Serta mewujudkan kawasan wisata Madura (visit Madura) dalam pengembangan ekonomi kreatif.

Tiga program unggulan itu, saya kira perlu kerja serius dan kerja-kerja sinergi antar OPD terkait mewujudkan program unggulan itu.

Evaluasi tiga program unggulan itu perlu dilakukan oleh para loyalis atau pendukung saat Pilkada lalu.

Harapannya apa? Biar figur yang diusung itu punya hasil nyata. Pada gilirannya, warga ikut merasakannya.

Jika ada lubang-lubang dari program unggulan itu. Para loyalis atau pendukung itu mestinya segera bersikap. Mumpung masih ada waktu sebelum Pilkada digelar kembali.

Emang Fauzi-Eva menjabat singkat akibat perubahan UU Pemilu Serentak. Waktu 3,5 tahun sejak dilantik akhir Februari 2021. Tersisa 24 bulan sebelum mengundurkan diri jika hendak mencalonkan lagi di Pilkada 2024.

Ini saya tafsiri dari jauh. Kenapa Bupati Fauzi mulai ngegas untuk mewujudkan sejumlah program yang bisa menggerakkan ekonomi UMKM.

Sebaliknya.

Saya belum melihat geliat dari
Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Perindustrian dan Perdagangan (Diskop UM PP) Sumenep.

OPD yang salah satu garapan programnya bergerak di bidang UMKM ini masih bergerak standart. Gerakkannya landai. Bisa dibilang formalitas. Juga bisa dibilang tak meneruskan apa yang dicanangkan Bupati Fauzi.

Ekstremnya anomali.

Misalnya apa?

Ingat waktu Menteri Sandiaga Uno ke Sumenep? Apa yang Pak Menteri sampaikan? Juga apa yang dicitakan Bupati Fauzi?

Peletakan Batu pembangunan ruang packaging storage UMKM itu formalnya. Substansinya membawa program untuk memajukan Sumenep melalui Ekonomi Kreatif UMKM.

Program itu bernama: Sumenep UMKM Halal Hub.

Jalan jalan meninjau pusat industri keris di Aeng Tong-tong, Saronggi itu, sebatas pelengkap rangkaian kunjungan Pak Menteri Sandiaga ke Sumenep.

Anda perlu ngerti: program yang dibawa Pak Menteri Sandiaga itu baru pertama di Indonesia. Artinya Kabupaten Sumenep yang memulai program yang dicanangkan Pak Wapres Kiai Ma’ruf Amin.

Jujur saya tercengang. Lalu saya memuji di kepemimpinan Bupati Fauzi. Dan berucap dalam bathin. Ini awal kebangkitan ekonomi Sumenep.

Anda tahu.

Sumenep UMKM Halal Hub merupakan sinergitas program Global Halal Hub yang digulirkan Pak Wapres pada Januari 2022 lalu.

Global Halal Hub sebuah marketplace untuk pengembangan produk halal berbasis platform digital.

Harapan Pak Wapres: Global Halal Hub menjadi motor sinergi dan kolaborasi dalam pengembangan hasil produk UMKM Indonesia menuju pasar global.

Ternyata Sumenep yang memulai pertama kali.

Hebat. Sekali lagi, saya akui hebat. Semoga tak hanya elegan di depan kamera saat seremonial pada Selasa 24 Mei lalu.

Malam itu.

Saya berpikir dan berkhayal. Dan berkata dalam bathin: Saatnya mewujudkan janji politik Fauzi-Eva dalam tig program unggulan di atas.

BACA JUGA :  Satu Tahun Achmad Fauzi

Lalu, berpikir: para pelaku UMKM yang selama ini jualan online via WhatsApp dan Grup-Grup Facebook secara mandiri tanpa kehadiran pemkab. Kini bisa migrasi ke Platform Sumenep UMKM Halal Hub.

“Sumenep Halal Hub seperti Pasar Baru yang diberikan Bupati Fauzi,” pekikku dalam bathin.

Produk UMKM Sumenep tak usah muluk-muluk dulu. Jangan berkhayal produknya bisa bersaing di pasar global.

Meski dalam pengoperasiannya, Pemkab Sumenep menggandeng Goorita dan PDEskpor sebagai partner dalam pengembangan produk halal berbasis digital itu.

Karena partner Sumenep UMKM Halal Hub itu sudah ditunggu 5 ribu UMKM untuk menuju pasar global.

Artinya apa? Produk UMKM Sumenep harus mampu bersaing dengan 5 ribu UMKM binaan Goorita dan PDEskpor.

“Sumenep UMKM Halal Hub bisa berjalan normal sudah luar biasa. Syukur-syukur produk UMKM Sumenep bisa go pasar global. Seperti keris sebagai souvenir,” khayalan melalui menerawang.

Sumenep UMKM Halal Hub saya anggap pasar digital bagi UMKM Sumenep. Tapi masih banyak yang perlu dilakukan untuk UMKM Sumenep.

Inilah momentum bagi para pendukung Fauzi-Eva mewujudkan cita-cita yang dijanjikan figur yang diusung saat Pilkada lalu.

“Sudah ada dukungan Pak Menteri. Anggaran ada. Tempat ada. Kan tinggal keseriusan saja, bukan yahannu, lho,” saya share mengomentari kedatangan Pak Menteri Sandiaga, waktu itu di Grup-Grup WhatsApp.

Belum ada kabar kelanjutan Sumenep UMKM Halal Hub. Saya dengar Bupati Fauzi dan Wahup Nyi Eva melaunching Mall UMKM.

“Wah bagus itu. Nambah pasar baru UMKM,” saya berkomentar di Grup WA BusyroLana.

Mall UMKM itu, kata Bupati Fauzi
sebagai etalase produk UMKM. Bisa menjadi wadah pusat oleh-oleh Khas Sumenep produk UMKM Sumenep.

Bupati Fauzi ingin Mall UMKM sebagai tempat promosi untuk pemasaran produk pelaku UMKM yang sudah siap dipasarkan kepada masyarakat.

“Mall UMKM ini untuk mendukung tercapainya UMKM naik kelas, dalam pengembangan usaha berbasis potensi daerah dan berorientasi pasar sesuai dengan kompetensi usahanya masing-masing,” kata Bupati Fauzi di sela-sela peluncuran Mall UMKM Kabupaten Sumenep, di depan Keraton setempat, Senin akhir Juni lalu.

Dari sini, jelas cita-cita Bupati Fauzi menggenjot pendapatan UMKM Sumenep melalui dua pasar berbeda.

Pasar offline dengan hadirnya Mall UMKM. Dan pasar online dengan diresmikan Sumenep UMKM Halal Hub.

Sampai di sini. Saya belum melihat pergerakan para pelaku UMKM memasarkan di marketplace Sumenep UMKM Halal Hub.

Atau saya yang lelet menerima informasi karena lalu lintas informasi yang tersebar di sejumlah platform media sosial dan situs media mainstream nyaris kosong.

Setidaknya dua pasar yang dicanangkan Bupati Fauzi bagi pelaku UMKM menjadi informasi untuk menggerakkan dunia ekonomi baru di pasar digital.

Bukankah bidikan pasar digital juga menjadi atensi Bupati Fauzi?

Belum selesai kelanjutan program Pak Wapres yang dibawa Pak Menteri Sandiaga ke Sumenep.

Diskop UM PP Sumenep malah buat pelatihan pada kelompok industri mente rumahan di Desa Jelbudan, Kecamatan Dasuk, Sumenep.

Emang. Produk camilan mente salah satu produk unggulan Sumenep. Tapi pelatihan sejenis itu sepertinya bukan hal baru. Atau bisa dikata pelatihan sejenis itu semacam mengulang dari tahun ke tahun tanpa progres seperti yang diinginkan Bupati Fauzi.

Kepala Diskop UM PP Sumenep Chainur Rasyid menyebut, pelatihan seperti di kelompok UMKM Mente sebagai bentuk kehadiran pemkab dalam melakukan pendampingan manajemen pemasaran dengan pelaku usaha lainnya.

“Program ini, tidak hanya sebatas pelatihan saja, akan tetapi juga pendampingan, termasuk mencarikan pasar setelah mereka mengikuti program pelatihan,” kata Pak Inung-panggilan akrab Chainur Rasyid, seperti dikutip banyak media.

Sampai di sini saya bertanya.
Kenapa program Diskop UM PP Sumenep kok tak melanjutkan apa yang diharap Bupati Fauzi dengan pemasaran offline dan online.

Kenapa produk yang dipajang di Mall UMKM kok tak digenjot di marketplace yang digaungkan Pak Menteri Sandiaga dan Bupati Fauzi?

Mestinya seirusi satu dulu biar fokus. Nanti waktu yang akan menjawab.

bersambung pada tema UMKM lainnya

Hambali Rasidi
7 Juli 2022

Komentar