Menu

BPBD Lumajang: 905 Rumah Rusak, Lima Meninggal Dunia Akibat Gempa di Malang

BPBD Lumajang: 905 Rumah Rusak, Lima Meninggal Dunia Akibat Gempa di Malang
Rumah warga di Lumajang yang rusak parah akibat terdampak gempa Malang. (FOTO:sindonews)
Link Banner

matamaduranews.comLUMAJANG-Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lumajang, Jawa Timur, mencatat sebanyak lima orang meninggal dunia dan 900-an bagunan rusak akibat gempa yang berpusat di Malang, Sabtu (10/4) pukul 14.00 WIB.

Gempa berkekuatan magnitudo 6,7 dengan pusat (episentrum) sekitar 90 kilometer di sebelah selatan Kabupaten Malang ini, berdampak luas di Lumajang.

Link Banner

Sedikitnya, BPBD Lumajang mencatat ada 905 bangunan rusak ringan, sedang, hingga berat di 11 kecamatan di Kabupaten Lumajang.

“Jumlah 900-an bangunan yang rusak sebagian besar rumah itu untuk masih sementara, soalnya tim di lapangan terus mendata,” kata Permadi, petuas Pusdalops pada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lumajang, Minggu sore, 11 April 2021.

Link Banner

“Kategori sedang seperti, genteng rumah melorot berjatuhan, yang sedang sebagian tembok roboh,dan yang rusak berat bangunan ambruk rata dengan tanah,” katanya.

Dari sebanyak 905 bangunan yang rusak, sebagian besar berada di Kecamatan Tempursari, Lumajang. Kecamatan Tempursari terletak di dataran rendah di dekat pantai selatan, yang bertetangga langsung dengan Kecamatan Ampelgading, Kabupaten Malang.

BPBD mencatat, hingga Minggu sore ini sebanyak 531 bangunan di Kecamatan Tempursari rusak ringan, sedang, hingga berat. Dan di Kecamatan Tempursari, yang terparah di Desa Kaliulung yakni merata di tiga dusun (Kalirejo, Rojopolo, Krajan, Tamansari, dan Iburaja).

Ratusan rumah di desa berpenduduk 5.878 jiwa itu rusak. “Pemkab Probolinggo dibantu Kodim dan Polres sudah mendirikan dapur umum di balai Desa Kaliuling,” kata Permadi.

Tidak hanya kerusakan fisik (bangunan), di Desa Kaliuling dilaporkan sebanyak tiga warga setempat meninggal dunia. Yakni, Bonanggi, warga RT 03/RW 08; Juanto warga RT 04/RW 08; dan N Nasar warga RT 01/RW 03.

Ketiganya tewas karena tertimpa bangunan rumah saat gempa bermagnitudo 6,7 yang kemudian dikoreksi 6,1, Sabtu, 10 April 2021 kemarin.

“Haji Nasar, kakak kandung saya meninggal dunia karena tertimpa tembok teras rumah yang roboh,” kata Muhammad Rowi, warga Desa Kaliuling.

Dikatakan saat terjadi gempa, H Nasar mengajak anggota keluarganya keluar rumah. Tetapi baru melangkah ke teras, temboknya roboh menimpa pria berusia 56 tahun itu.

“Saat kejadian, saya dan istri berada di kota Lumajang. Saya langsung pulang, ternyata genteng rumah berjatuhan, plafon jebol,” kata Yazid, warga Dusun Kalirejo, Desa Kaliuling.

Selain tiga warga Kaliuling, pasangan suami-istri juga tewas saat bersepeda motor berboncengan di kawasan Piket Nol, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang.

Saat itu, Amak Fadoli bersepeda motor bersama istrinya, Sri Yani tiba-tiba tergencet runtuhnya batu besar dari tebing di atas jalan nasional Lumajang-Malang.

Amak langsung tewas di lokasi kejadian, sementara Sri mengalami patah tulang. Saat hendak dirujuk ke RSUD dr Haryoto, Lumajang, Sri meninggal dunia. Sehingga total, korban jiwa akibat gempa bumi di Lumajang sebanyak lima orang.

Bupati Lumajang Thoriqul Haq langsung memantau kondisi pascagempa di Kecamatan Tempursari dan Kecamatan Pronojiwo, Sabtu malam, 10 April 2021. Dua desa yakni, Kaliuling dan Sidomulyo menjadi perhatian utama bupati karena paling banyak kerusakan fisiknya (bangunan).

Minggu dini hari, 11 April 2021, Bupati Thoriq, panggilan akrab Thoriqul Haq menemani Menteri Sosial (Mensos) kembali meninjau Desa Kaliuling, Kecamatan Tempursari.

“Yang penting semua warga aman dulu, sehingga warga harus dievakuasi di satu titik untuk memudahkan dalam pemantauan,” kata Mensos saat mendatangi Kantor Desa Kaliuling Minggu dni hari sekitar pukul 02.00 WIB.

Mantan Walikota Surabaya itu menyarankan, sebaiknya warga di luar rumah karena rumah mereka di bawah tebing dan tidak memungkinkan untuk ditempati. “Dikhawatirkan nanti akan terjadi gempa susulan,” katanya.

Mensos menambahkan, warga yang tinggal di daerah pegunungan berisiko terdampak tanah longsor jika gempa susulan terjadi.

“Untuk saat ini apa yang bisa diselamatkan sebaiknya diselamatkan dan orangnya agar segera mengungsi, pindah di lapangan, dan besok akan segera saya dukung dengan penyediaan prasarana,” katanya.

Menteri Sosial menginstruksikan pembangunan segera tenda-tenda pengungsian dan dapur umum untuk membantu warga yang terdampak bencana.

Bupati Thoriq mengatakan, ia sudah menunjuk Dandim 0821 Lumajang sebagai koordinator penyaluran bantuan bagi korban bencana dan Kepala Polres Lumajang sebagai koordinator lapangan penanganan dampak gempa.

“Untuk saat ini apa yang bisa diselamatkan sebaiknya diselamatkan dan orangnya agar segera mengungsi pindah di lapangan dan besok akan segera saya dukung,” tegasnya.

Sementara, DPD Partai Gerindra Jawa Timur bersama sejumlah DPC Partai Gerindra serta para kader, Laskar Pandu Garuda, @pdsatriajatim, dan relawan sejak Sabtu malam langsung bergerak membantu masyarakat korban terdampak gempa bumi yang berpusat di Malang.

Gerindra Jawa Timur memberi atensi ke lokasi terdampak yang menelan banyak korban gempa malang.

Seperti di Kabupaten dan Kota Malang, Kabupaten dan Kota Blitar, serta Kabupaten Lumajang.

Gerindra menyalurkan makanan berupa beras, minyak, mi instan, telur ayam, dan lain-lain ke lokasi bencana untuk memberikan pertolongan kepada korban. (ngopibareng/redaksi)

KOMENTAR

Belum Ada Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Tinggalkan Balasan

MMN

Disway

Catatan

Budaya

Tasawuf

Sastra

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional

%d blogger menyukai ini: