Bu Fitri Menuju 2024

Bu Fitri Menuju 2024
Hambali Rasidi

KEMARIN. Satnawi nelpon. “Mas, kalau ada waktu, besok kumpul di hotel. Jam 9 pagi,”

Semalaman berpikir. Acara apa gerangan. Tumben saya diundang oleh operator Bu Fitri. Lama tak ada kabar soal Bu Fitri. Baru kali pertama saya diajak kumpul-kumpul dengan relawan Bu Fitri.

Di tempat itu. Terlihat wajah-wajah lama. Tak asing. Dari berbagai kecamatan. Kecuali dari relawan kepulauan.

Seperti biasa. Bu Fitri bicara di depan. Lalu dibuka sesi tanya jawab.

Saya minta waktu bicara. Ingin membalas sapaan saat Bu Fitri bicara di depan.

Beliau sempat menyapa saya.

“Mas Hambali hadir,” sapanya singkat.

Entah kenapa. Seisi ruangan berAC jadi riuh. Menoleh ke arah duduk saya.

Lama tak bersua Bu Fitri. Mumpung di acara kumpul kumpul itu. Saya ingin menyampaikan sesuatu. Sekaligus meneruskan pertanyaan seorang loyalis BusyroLana, Imam Syafii dari Kecamatan Talango.

“Kalau suara Bu Fitri di Sumenep tak perlu khawatir. Suara Buya (Kiai Busyro, maksudnya) masih bertebaran se Kabupaten Sumenep. Yang dikhawatirkan suara ibu di luar Sumenep,” ucap Imam-mengawali komentar sebelum bertanya.

Imam emang dikenal apa adanya, kalau bicara. Ucapannya kerap menyentak dunia persilatan.

Baru-baru ini, ia berani menolak seniornya sendiri-Cak Imin-bila hendak nyapres atau maju di Pilpres mewakili kultur NU PKB. Alasan Imam sudah jamak diketahui publik. Anda sudah ngerti. Tak perlu dijelaskan panjang lebar. Biar tak jadi multi tafsir berkepanjangan.

Yang pasti. Penolakan Imam jadi atensi karena atas nama anak muda NU Sumenep. Apalagi dalam komentarnya. Imam disebut pernah menjabat Ketum PC PMII Sumenep. Sedangkan Cak Imin mantan Ketum PB PMII.

Pertanyaan Imam langsung menohok Bu Fitri di forum resmi itu.

“Mumpung masih ada waktu. Bu Fitri perjelas langkahnya. Menyambut tahun 2024, apakah untuk Sumenep apa DPRD Provinsi,” tanya Imam-sambil cengengesan sebagai bentuk action khasnya. Tak lupa disertasi kedipan mata dan gerakan kepala.

Suasana ruangan berAC kembali riuh. Sahut sahutan terdengar. “Wabup. Ibu Wabup Fitri,” terdengar suara dari ujung pojok kiri depan. Entah siapa.

Bu Fitri menjawab dengan bahasa tersirat. “Enaknya gimana, ya.. Saya bicara atas nama anggota DPRD Provinsi untuk pilar kebangsaan,” jawab Bu Fitri berdiplomasi.

Bu Fitri 2024
Satnawi, operator Bu Fitri mempersiapkan sesuatu sebelum wawancara berlangsung.

Bu Fitri baru kali ini terjun dalam dunia politik praktis. Menjabat anggota DPRD Provinsi Jatim melalui jalan mulus.

Maklum waktu itu, sang suami-Kiai Busyro masih menjabat Bupati Sumenep pada periode kedua.

Wajar jika Bu Fitri belum ‘alim dalam memahami aneka macam umat manusia di kehidupan politik. Ditambah warna warni kehidupan politik.

Saya menyampaikan itu dalam sesi pertanyaan. Sengaja disampaikan langsung biar jadi atensi.

Pesan yang ingin saya sampaikan: Bu Fitri bisa bersikap dengan langkah egaliter. Sesuai kearifan lokal. Sebab dalam politik. Komunikasi ujung utama. Rukun syarat berikutnya, suntikan gizi biar terjaga imunitas.

“Bu Fitri. Ibarat jaringan air minum. Paralon dan tandon sudah ada untuk ibu. Tugas ibu sekarang hanya merawat. Agar sambungan paralon itu tak lepas. Sesekali tandon diisi. Biar tak retak kepanasan,” saya urai dalam forum itu.

Di luar dugaan. Respon relawan dalam ruangan kembali bergemuruh. Sepertinya mereka ngerti maksud ujung pesan yang saya sampaikan.

BACA JUGA :  Inspiratorku; Dibalik Ujian Allah Swt

Jawaban Bu Fitri masih belum memuaskan, versi saya. Makanya, saya minta waktu wawancara khusus usai acara.

Saya ajak beberapa wartawan untuk ikut wawancara khusus itu.

Di ruangan itu. Saya tak wawancara formal. Saya sengaja milih bercerita. Apa yang saya saksikan waktu bersama Kiai Busyro. Khususnya dalam bab merawat relasi. Pola komunikasi. Dan gesture depan panggung.

Saya tak berceramah. Hanya bercerita. “Kalau boleh saya izin bercerita apa yang saya saksikan waktu bersama Buya Busyro,” mengawali pembicaraan.

Bu Fitri tak keberatan untuk mendengarnya.

“Suatu waktu. Kiai Busyro diundang acara yang diadakan loyalis Kiai Unais. Usai acara. Kiai Busyro diajak ke ruangan khusus yang diisi para loyalis. Maksud tujuan minta restu dan dukungan,”.

Belum selesai bercerita. Bu Fitri memotong, lalu nanya, “itu acara kapan,”.

Bu Fitri 2024
Saat wawancara khusus dengan Bu Fitri diisi cerita cerita sebagai bahan pertanyaan.

“Dulu, jelang Pilkada 2020,” jawab saya lalu melanjutkan cerita.

Kaule siap lahir bathin untuk abela Ke Unais. Ikhlas. Siap bergerak pemenangan tanpa embel-embel biaya politik,” kurang lebih begitu yang diucapkan loyalis Kiai Unais di hadapan Kiai Busyro.

Mendengar pernyataan panjang lebar itu. Kiai Busyro menyela dan bertanya: “Koat sanapa bulan. Mon sehari sampai seminggu kaule yakin. Mon sampe tello bulan atau nem bulan. Napa panggun estoh?,” tutur Kiai Busyro sambil bertanya kepada para loyalis.

Sebagian loyalis itu berdiam. Tak keluar sepatah kata untuk menjawab pertanyaan Kiai Busyro. Ada loyalis yang nyeletuk.

Tak genika. Mon kaule panggun estoh. Tak oneng selaen,” .

Kiai Busyro melanjutkan: di sinilah, anapa kaule selalu atanya. Pasera se siap modal untuk Nyalon Bupati.

Neng NU neka benyak selayak deddi Bupati Sumenep. Semalarat se siap modal,” tutur Kiai Busyro melanjutkan ceramah singkat politik santri di tengah liberalisasi demokrasi.

Cerita ini bukan hal baru bagi Bu Fitri. Makanya diam tak memberi ekspektasi.

Tapi Bu Fitri tertawa lepas sampai jingkrak jingkrak dari kursi duduk mendengar cerita lanjutan.

“Ada cerita lain, bu. Ini dialami teman teman wartawan dan aktivis. Termasuk sebagian tim suksesnya,” memancing respon Bu Fitri, apa cerita ini layak dilanjut apa tidak.

“Emang kenapa,” tanya Bu Fitri. Rupanya Bu Fitri penasaran cerita lanjutannya.

“Begini Bu. Politisi itu modal utamanya kan komunikasi. Baru ketersediaan vitamin. Agar tubuh tak loyo,”.

Bu Fitri tersenyum sambil menganggukkan kepala. Sebagai tanda setuju.

Neka sebedha cator siang malam. Se bedha. Sobong tadek sobong. Ujung-ujungnya, matorsakalangkong,” .

Kata-kata ini rupanya yang bikin Bu Fitri tertawa lepas sampai terpingkal-pingkal.

Nah..dirasa cukup bikin Bu Fitri tersenyum dan tertawa lepas.

Seketika saya pamit. Sengaja saya menghindar biar terus update ceritanya.

Sembari saya minta izin sebagai bahan tulisan apa yang terjadi dalam pertemuan ini.

“Wah repot kalau wawancara dengan wartawan …,” sahut Bu Fitri.

“Pamit yang bu. Acara tadi, jadi untuk Sumenep 2024?,” taya-ku terakhir kali.

Lha..apa cakna bekna. Nemmo bei,” jawab Bu Fitri sambil tertawa lepas. (hambali rasidi)

Bersambung lain cerita….

Sumenep, 3 Juli 2022

Komentar