Menu

Buruh Politik

Buruh Politik
Ilustrasi Buruh Politik. (By Design A. Warits/Mata Madura)

Catatan: Moh. F. Rois*

Suatu hari Rasulullah SAW di Madinah menerima kedatangan dua orang kafir, Amir bin Thufail dan Arbad bin Qais.

“Apa yang akan saya dapatkan kalau saya masuk Islam?” tanya Amir memulai dialog.

“Kamu akan mendapatkan apa yang didapatkan oleh umat Islam yang lain, dan akan dibebani apa yang dibebankan kepada mereka pula,” Jawab Rasulullah SAW.

“Apakah saya akan menggantikan kepemimpinan sesudah kamu?”

“Itu bukan urusanku, melainkan urusan Allah SWT. Dia akan memberikan kepemimpinan tersebut kepada siapapun yang Dia kehendaki”.

“Atau kamu menguasai kota, sedangkan saya di desa?”

“Tidak!” jawab Rasulullah SAW.

“Lalu apa yang akan kamu berikan kepadaku?”

“Aku akan memberimu tali kekang kuda, dan kau berjuang dengannya di jalan Allah”.

Stop dulu di sini ceritanya. Kelanjutannya nanti in sya Allah. Kita perhatikan dulu ucapan pembuka dari Amir bin Thufail, “Apa yang akan saya dapatkan kalau saya masuk Islam?”. Dia menganggap Islam adalah pekerjaan, dan ada upahnya. Bagi dia, Islam itu tidak penting. Yang penting adalah upah yang akan dia dapatkan. Ternyata, yang dimaksud dengan upah yang akan dia dapatkan itu adalah jabatan, baik sebagai pengganti Rasulullah SAW sesudah beliau wafat, atau sebagai partner di wilayah yang lain.

Bahwa manusia mencintai jabatan, itu wajar. Tetapi mengejarnya lewat sesuatu yang bukan jalannya, itu salah. Tetapi mengingat latar belakang ideologi Amir bin Thufail, yang mana dia seorang non muslim, maka kesalahan baginya mungkin sudah kaprah, yakni salah kaprah dan kaprah salah.

Tetapi rupanya, tidak sedikit orang dari bangsa kita yang sudah kerasukan mental Amir bin Thufail di atas, yaitu mental buruh. Bila datang musim pemilihan-pemilihan, terdengarlah suara-suara Amir bin Thufail, dengan redaksi yang bermacam-macam, tetapi kontennya sama. Yaitu, memburu bunga-bunga dunia, walaupun bukan pada tempatnya. Misalnya;

“Apa yang akan saya dapatkan kalau saya memilih kamu?”

“Apa yang akan saya dapatkan kalau saya mendukung kamu?”

“Siapa yang kasih uang, dia yang akan saya pilih”.

“Siapa yang kasih uang paling banyak, dia yang akan saya pilih”.

“Kalau tidak punya uang, tidak usah mencalonkan diri”.

“Ngapain saya repot-repot dengan pemilihan ini-itu, wong saya tidak mungkin dikasih gajinya, wong saya tidak mungkin dijadikan anunya”.

“Kamu tidak usah repot-repot membantu calon ini-calon itu, wong kamu tidak mungkin dapat proyek, tidak mungkin jadi pejabat, tidak mungkin dapat tanah bengkok”.

Semua itu contoh ucapan orang-orang yang kerasukan karakter Amir bin Thufail, yaitu karakter buruh atau kuli. Di mana setiap pekerjaan mesti diuangi.

Anehnya, sebagian dari mereka bukan hanya orang awam, tetapi juga orang-orang berpendidikan. Bukan hanya makmum, tetapi juga imam di tengah-tengah umatnya. Kalau imam saja sudah bermakmum kepada Amir bin Thufail, kan berarti Amir bin Thufail itu bisa dibilang “al-imamul a’zham” di bidang liberalisme politik dan kapital, sebagaimana dialog yang menyebalkan berikut ini antara seorang kiai pengasuh pesantren dengan temannya.

“Bagaimana kalau Zaid (bukan asli) kita dukung jadi anu?” tanya teman kiai kepada kiai.

“Kalau tidak ada uangnya tidak bisa,” jawab kiai enteng.

Mendengar jawaban itu, teman kiai tadi kaget. Kok bisa seorang kiai, ahli ilmu dan ibadah, pemimpin umat bilang seperti itu tanpa beban.

“Kalau kamu saja bilang seperti itu, terus si Paijo mau bilang apa?” tanya teman kiai itu gemes.

Ya, kita tinggalkan dulu Amir bin Thufail dengan mental buruhnya, bersama para pengikutnya. Kita perhatikan jawaban Rasulullah SAW yang kokoh menolak tawaran transaksi Amir bin Thufail yang bukan pada tempatnya. Kita perhatikan sabda Rasulullah SAW, “Aku akan memberimu tali kekang kuda dan kau berjuang dengannya di jalan Allah”. Artinya, kalau kamu masuk Islam, bukan Islam yang kamu peras lalu kamu hisap saripatinya. Justru kamu yang harus memeras potensi yang kamu miliki demi kejayaan Islam.

Kalau prinsip ini kita terjemahkan dalam momen pemilihan pejabat publik, baik eksekutif maupun legislatif, siapa calon yang kita yakini kelayakannya, dan kita akan mendukungnya, maka kita yang harus berjuang dan berkorban untuk kesuksesan calon tersebut, bukan memereteli uangnya, sedikit demi sedikit, jauh mulai sebelum hari H sampai pasca hari H. Ruginya jelas, menangnya tidak jelas.

“Mendukung” yang sebenarnya mendukung adalah mengumpulkan segala kekuatan yang kita miliki, baik pikiran, tenaga, waktu, termasuk dana, lalu menyerahkannya kepada calon yang kita “dukung” agar ditambahkan pada kekuatan yang dia miliki untuk mengejar target.

Maka, menerima pemberian dari calon yang didukung, apalagi meminta, itu sama sekali tidak dapat dibilang “mendukung”.

“Mendukung” adalah menyuplai daya, bukan menyedot daya.

Itulah konsep perjuangan politik yang sesuai Sunnah Rasulullah SAW yang telah diwarisi oleh para pejuang dari generasi berikutnya. Kalau memang benar kita adalah pengikut Rasulullah SAW, maka kita dituntut untuk memperjuangkan tegaknya konsep tersebut. Terserah, berakhir sukses atau gagal. Karena menyerah pada kehancuran tanpa melakukan apapun untuk upaya keselamatan, adalah sifat seorang pengecut. Yang mana Iblis pun tidak suka dengan sifat yang rendah itu. Sebagaimana tekad yang dia ikrarkan, “Akan aku datangi mereka dari depan dan belakang mereka, dari kanan dan kiri mereka” (al-A’raf : 17).

Kembali ke pokok bahasan, nampak sudah di hadapan kita dua jalan, jalannya Amir bin Thufail dan jalan titian Rasulullah SAW. Jalannya Amir adalah jalannya para buruh dan kuli, dan jalan Rasulullah SAW adalah titian para pejuang.

Setiap orang bebas memilih, tetapi setiap pilihan ada konsekuensinya, kecil maupun besar, jangka pendek maupun jangka panjang, personal maupun kolektif.

Adapun kelanjutan kisah di atas, Arbad bin Qais tewas disambar petir di siang bolong atas doa Rasulullah SAW. Sebentar kemudian Amir bin Thufail, imamnya para buruh itu, tewas karena benjolan yang keluar dari lututnya. (Tafsir Al-Qurthubi / ar-Ra’d : 13)

Wallahu a’lam

*Sekretaris LD MWC NU Gapura.

KOMENTAR

Belum Ada Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Tinggalkan Balasan

MMN

Sosok & Tokoh

Tasawuf

Sastra

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional

%d blogger menyukai ini: