Menu

Carok, Pembalasan Makhluk yang Disakiti Pas Lagi Sayang-Sayangnya

Carok, Pembalasan Makhluk yang Disakiti Pas Lagi Sayang-Sayangnya
Link Banner

Oleh: Syarifah Isnaini*

Layaknya etnis lain di Indonesia, sejak dahulu golongan manusia Madura identik dengan beragam tradisi yang tetap lestari hingga kini. Penyebutan kata Madura sering disandingkan dengan beberapa kultur seperti pelaksanaan carok yang tidak jarang membuat bulu kuduk pendengarnya berdiri. Betapa tidak, tradisi yang sering berujung di ruang-ruang keabadian tersebut begitu identik dengan kekerasan, permusuhan dan nyala warna darah.

Carok tentu tidak asing lagi bagi para pegiat budaya dan tentu saja di kalangan masyarakat Madura sendiri. Istilah tersebut konon berakar dari kata Ecacca Erok-orok yang berarti dicacah sekaligus digorok. Kata berikut tentu saja tidak sedang menyasar perilaku pembantaian hewan, akan tetapi dilakukan dalam konteks kalangan manusia. Lebih terang, carok kemudian menjadi terma atas upaya duel bahkan saling membunuh antara para pihak bersengketa di kalangan individu Madura.

Sebagaimana dijelaskan oleh Maestro Madura, Latief Wiyata dalam Carok: Konflik Kekerasan dan Harga Diri Orang Madura (2002) bahwa carok tidak bersifat monolitik, akan tetapi relasional dengan beberapa anasir meliputi sosial kemasyarakatan, politik, ekonomi dan lain-lain. Kendati demikian, carok begitu erat kaitannya dengan upaya menunjukkan dan mempertahankan marwah yang dirasa terusik oleh pihak lain.

Kehormatan diri memang menjadi sebuah harga mati bagi mayoritas orang Madura. Oleh karena itu, tidak heran apabila kemudian banyak jiwa yang lintang pukang oleh tradisi carok berkenaan dengan harga diri yang dianggap tercabik. Sangat jarang ditemui rekonsiliasi atas konflik yang terjadi apabila menyangkut wacana martabat masyarakat Madura.

Berseberangan dengan masalah harga diri, manusia Madura juga dikenal memegang erat nilai-nilai persaudaraan dan keguyuban di antara mereka. Mengadopsi sistem kekerabatan bilateral yang mana mengedepankan garis keturunan dari pihak bapak dan ibu, masyarakat Madura dibentuk budaya lokal dengan mempererat tali persaudaraan satu sama lain.

Tidak terbatas di kawasan tanah kelahiran semata, mayoritas kehidupan para imigran Madura yang mengadu nasib di perantauan juga bertumpu pada hubungan kekerabatan. Tidak heran apabila banyak ditemui komunitas Madura yang tersebar di seluruh wilayah baik nasional maupun internasional. Rata-rata orang Madura perantauan akan memilih tinggal secara berkelompok meski memilih mata pencaharian berbeda. Bahkan menurut Ismani, seorang peneliti budaya Madura, jumlah imigran Madura yang menempati daerah Jawa Timur mencapai angka 833.000 orang. Jumlah fantastis yang diperoleh pada pertengahan abad lalu ini justru melampaui besaran penduduk yang mendiami pulau Madura sendiri.

Mengacu pada persaudaraan manusia Madura, lantas suburnya tradisi carok menciptakan sebuah ketertegunan tersendiri. Ritual yang kerap mengantarkan bilangan sukma menghadap peristirahatan terakhirnya ini tidak lain melebur di tengah-tengah suku yang berkelindan mesra penuh keguyuban. Seolah dua mata pisau di mana satu sisi menawarkan darah, namun sekaligus madu di sisi lain. Carok mengajarkan bahwa kematian bisa datang tanpa kompromi di atas gelanggang yang awalnya elok berbalutkan eratnya kekerabatan.

Berupaya menjawab paradoks individu Madura di atas, barangkali tidak salah jika saya mengutip kondisi ambyar manusia milenial yang sering mengklaim dirinya disakiti ‘pas lagi sayang-sayangnya.’ Fenomena tersebut berusaha menggambarkan keperihan yang dialami seseorang yang justru dilarakan tatkala berada dalam keadaan puncak sayang kepada orang yang menyakitinya. Belum jelas siapa yang mencetuskan istilah kepedihan yang dialami seseorang pas lagi sayang-sayangnya ini, akan tetapi tidak terhitung angka anak zaman sekarang yang menggunakan istilah ini. Satu hal yang pasti, keperihan yang diwakili istilah disakiti, ditinggal, atau ditikung pas lagi sayang-sayangnya banyak beredar dalam bentuk tulisan, lagu maupun film.

Penggunaan istilah disakiti pas lagi sayang-sayangnya sebagai salah satu pemicu carok cukup logis apabila dihadapkan dengan eratnya kesatuan dan kekeluargaan di antara mereka. Pembuktian kasih sayang sesama suku Madura banyak digambarkan oleh populernya peribahasa seperti “ras bherrasan tan palotanan, las bellasan sataretanan” (saling menyayangi antar sesama saudara) dan “tada’ oreng jhereppen eserrop dhibi” (orang yang matanya terkena pasir tidak akan bisa meniup matanya sendiri). Ihwal filosofi peribahasa termaksud sebagaimana dibedah dalam karya Mien Ahmad Rifa’i dalam Manusia Madura: Pembawaan, Perilaku, Etos kerja, Penampilan, dan Pandangan hidupnya seperti Dicitrakan Peribahasanya (2007).

Secara akademis, kalangan filsuf seperti George Simmel (1858-1918) telah lebih dulu meneliti hubungan antara konflik, keintiman dan perasaan sayang. Pandangan Simmel menyelisihi buyut dari pencetus teori konflik sendiri yakni Karl Marx yang memandang bahwa perselisihan kerap lahir dari perbedaan kelas dan strata sosial. Lain dari pada itu, adicita Simmel mengenai konflik justru menguatkan klaim teori bahwa carok erat hubungannya dengan kondisi disakiti pas lagi sayang-sayangnya.

Simmel mengamati bahwa salah satu pencetus konflik (seperti halnya carok di Madura) lahir dari adanya perubahan solidaritas dan integrasi yang terjadi antar individu ataupun kelompok. Sebuah hubungan yang awalnya sangat harmonis dan tidak jarang mementingkan kepentingan kolektif daripada individu cenderung menguatkan intensitas konflik yang ada di dalamnya. Semakin kuat solidaritas yang terbangun antar sesama maka semakin besar pula reaksi yang ditimbulkan atas permasalahan yang terjadi. Lebih dari tujuh dekade sudah Simmel menguraikan teori tersebut dalam karyanya Conflict and the Web of Group Affiliation (1956).

Kondisi harmonis yang digambarkan Simmel dapat ditemui pada budaya dan kondisi eratnya kekerabatan antar manusia Madura yang mana ketika ditemui gesekan berakhir pada sebuah kata carok. Carok seolah menjadi preferensi populer bagi masyarakat Madura yang berhasil direkam sejarah. Hal ini menjelma kewajaran jika bercermin pada teori yang menyatakan bahwa semakin intim sebuah hubungan, semakin besar pula tanggapan yang timbul akan permasalahan.

Semakin bertambah perasaan sayang di antara sesama manusia Madura, semakin bertambahlah sakit yang ditimbulkan atas terusiknya harga diri mereka. Pernyataan ini berhubungan dengan pemicu carok yang mana perempuan acapkali menjadi penyebabnya. Seringkali manusia Madura harus kehilangan nyawa disebabkan permasalahan perempuan, yang mana kaum hawa dianggap sebagai simbol martabat sebuah keluarga.

Disakiti pas lagi sayang-sayangnya sebagai penyulut carok tentu saja menjadi satu dari sekian banyaknya probabilitas, namun juga tidak mustahil teori tersebut mengandung kebenaran. Walaupun tradisi carok acap menempatkan suku Madura pada stereotip negatif, namun banyak pula sisi positif yang dapat ditonjolkan terutama berkenaan dengan tingginya religiusitas mereka. Tidak hanya etnis Madura, hampir semua etnis memiliki aspek positif dan negatif. Hanya saja apabila membincang wacana harga diri masyarakat Madura diperlukan kehati-hatian lebih. Sebab, tampaknya orang Madura menyadari benar ungkapan yang barangkali pada topik ini cukup relevan: terkadang seseorang memeluk lebih erat bukan karena sayang, tetapi agar bisa menancapkan pisaunya lebih dalam.

*Penulis merupakan mahasiswi Program Pascasarjana Interdisciplinary Islamic Studies di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga. Dalam rangka proses purna studi, saat ini penulis berdomisili di Yogyakarta

KOMENTAR

Belum Ada Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Tinggalkan Balasan

Lowongan
Lowongan
Lowongan

Ra Fuad Amin

Tasawuf

Catatan

Opini dan Resensi

Sastra

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional

%d blogger menyukai ini: