Cerita Lengkap Jemput Paksa Artis Nikita Mirzani

matamaduranews.com-Publik bertanya. Apa yang melatarbelakangi pemberitaan hingga polisi batal menjemput paksa artis Nikita Mirzani?

Wartawan senior Djono W Oesman menulis secara utuh kasus yang membelit Nikita.

Berikut catatan Djono W Oesman yang dikutip dari situs cowasjp (perkumpulan alumni wartawan jawa pos)

1655369674 niikitaOleh: Djono W Oesman

Ini kejadian langka. Artis Nikita Mirzani dikepung 12 polisi di rumahnya. Karena, Nikita dipanggil polisi sebagai saksi, tidak hadir. Setelah sembilan jam mengepung, polisi balik kanan, tidak membawa paksa Nikita. Tidak lazimnya.

***

KEJADIANNYA, Rabu, 15 Juni 2022 sejak pukul 03.00. Rumah Nikita di kawasan Pesanggrahan, Jakarta Selatan, bagian depan dikitari polisi dari Polres Serang Kota, Banten.

Karena jalan keluar-masuk rumah Nikita cuma dari depan, maka media massa memberitakannya sebagai ‘dikepung polisi’.

Belasan polisi itu berpakaian preman. Tapi mereka resmi. Bertugas sebagai anggota Polri. Bukan gelap. Ini diakui pihak Polri:

Kabid Humas Polda Banten, Kombes Shinto Silitonga, dalam siaran persnya, Rabu (15/6) mengatakan: “Pada prinsipnya kegiatan penyidik ke rumah NM (Nikita Mirzani) bersifat persuasif untuk pelayanan penyidikan.”

Dilanjut: “Sesuai dengan hukum acara pidana, maka penyidik datang ke kediaman NM dan meminta NM untuk kooperatif dan ikut bersama dengan penyidik guna memberi keterangan di depan penyidik.”

Nikita ada di dalam rumah. Dia malah merekam video para polisi itu dari lantai dua rumahnya. Menyapa polisi begini: “Nggak ngantuk, pak? Jam segini sudah di sini.” Sebab, waktu menunjukkan pukul 03.00 lewat.

Rekaman video HP Nikita itu lantas diunggah di medsos. Sehingga kian banyak orang tahu.

Nikita kepada wartawan melalui telepon, mengatakan, ia hari itu mestinya ada pekerjaan ke Semarang, Jawa Tengah. Tapi, ia terpaksa tidak keluar rumah, karena ada banyak polisi di depan rumahnya.

BACA JUGA :  Polemik KI Bangkalan: DPRD Tak Bertajih, Bupati Jalan Terus

Nikita tahu, mengapa ada banyak polisi itu. Dia dipolisikan oleh Dito Mahendra dengan tuduhan pencemaran nama baik. Akibat unggahan Nikita di medsos terkait Dito.

Nikita: “Siapa Dito Mahendra? Ia dekat dengan kapolda. Laporannya di Serang (Banten), padahal ia orang Jakarta.”

Menurut Nikita, laporan itu terkait dugaan tindak penistaan dan fitnah. “Aku nggak gubris panggilan pertama. Dalam satu minggu itu aku dapat surat panggilan sampai 12 kali. Masuk akal nggak, tuh,” ujar Nikita.

Nikita tidak datang, sebab menurutnya, dalam surat panggilan tidak disebutkan, Nikita mencemarkan nama baik siapa. Tapi, Nikita tahu, bahwa ia pernah mengejek Dito Mahendra di sosmed.

Berarti, kedatangan 12 polisi itu bertujuan jemput paksa. Sebab, terlapor sudah dipanggil polisi tiga kali, tidak hadir ke kantor polisi.

Sebaliknya, Nikita merasa terganggu rumahnya dikepung polisi. Melalui video unggah di live Instagram, Rabu (15/6) pagi, Nikita mengatakan: “Memangnya saya teroris? Saya afiliator? Bandar narkoba? Gue ini ngantuk dari tadi.”

Jadi, Nikita mengantuk, tapi ia berusaha tidak tidur. Mungkin gelisah adanya polisi di depan rumah. Atau, ia menunggu dijemput paksa.

Pasal 112 ayat 2 KUHAP mengatur bahwa orang yang dapat dijemput secara paksa adalah tersangka atau saksi. Bunyi pasalnya begini:

“Orang yang dipanggil, wajib datang kepada penyidik. Dan jika ia tidak datang, penyidik memanggil sekali lagi, dengan perintah kepada petugas untuk membawa kepadanya.”

Komentar