Menu

Debat Kedua Pilkada Sumenep, Fattah Tanya Jembatan Robbu. Fauzi: Gegger Dhibi’

Debat Kedua Pilkada Sumenep, Fattah Tanya Jembatan Robbu. Fauzi: Gegger Dhibi’
Cabup Fauzi dan Cabup Fattah Jasin saat debat kedua Pilkada Sumenep, pada hari Senin malam (23/11/2020).

matamaduranews.comSUMENEP-Debat kedua Pilkada Sumenep 2020 pada Senin malam (23/11/2020) berjalan dengan ganyeng

Dua Paslon saling lempar pertanyaan dan bantahan.

Seperti pada sesi tanya jawab Paslon yang menggunakan bahasa Madura.

Jembatan Robbu

Moderator memberi kesempatan kepada Paslon Nomor Urut 02 untuk bertanya kepada Paslon Nomor Urut 01 menggunakan bahasa Madura.

Fattah Jasin Cabup Paslon 02 bertanya dengan nada mengeluh soal Bantuan Keuangan (BK) Provinsi Jawa Timur kepada Pemerintah Kabupaten Sumenep yang selalu molor penyelesaiannya.

Abdina lambbe’ bekto e Bappeda Provinsi abento kapal. Abdina bekto dinas perhubungan jugen abento Rp 60 miliar untuk jembatan e Giliyang Dungkek. Ponapa ghi, kok tak cepat selesai. Neka jembatan Gili Iyang, ibu gubernur ngarep dua taon maksimal deddi. Tapi neka eparobbo, kadinapa neka Pak Fauzi? Kadinapa manajemen pemerintahan Sumenep?,” tanya Fattah Jasin.

Mendapat pertanyaan itu, Fauzi menjawab,”Persoalan bantuan keuangan dermaga e Giliyang, saestona elaksanakan secara prosedur. Pamarentah tak bisa oneng kadinapa kontraktor bisa alaksanaagi setempak. Artena benni persoalan deri pamerintana. Tape deri kontraktor. Pemarentana ampon alaksanaagi pengawasan. Mala e perpanjang 50 are ghi’ ta’ lastare. Setelah 4 bulan, pas bede se gegger dhibi’. Kakdinto sededdi masalah. Pemerintah ampon melaksanakan sesuai aturan,” ucap Cabup Fauzi yang saat ini sedang mengambil cuti dari jabatan Wabup Sumenep karena ikut kontestasi Pilkada Sumenep 2020.

Karena masih diberi kesempatan oleh moderator untuk menanggapi. Fattah Jasin langsung menimpali dengan bantahan,”Neka menyangkut menajamen, Pak Fauzi. Tak bisa hanya menyalahkan kontraktor kalau ada konstruksi bede segegger. Benni gegger dhibi’. Bedha konsultan perencanaan ben konsultan pengawasan. Dimana letak kesalahaan, kalau hanya diletakkan kepada kontraktor. Mungkin organisasina tak beres. Sabelum gegger kan bede konsultan pengawas. Itu yang berperan penting,” terang Fattah Jasin.

Cabup Fauzi diberi kesempatan oleh moderator untuk menanggapi sanggahan Cabup Fattah Jasin.

Fauzi menyatakan, “ka’dinto benni urusan se tak alako ben se salah. Ka’dinto bisa dikata gegger dhibi’ ecapok omba’. Mon pengawasan padha tako’. Kontraktor jugen tako’,” ucap Fauzi seraya tersenyum menyebut kalimat Gegger dhibi’ ecapok omba’ (jatuh sendiri dihantam ombak, red.).

Manabi e Dungkek ampon ajelen taon samangken. Alhamdulillah ampon ajelen. InsyaAllah ta’ kera gegger,” terang Fauzi.

Di tengah Fauzi menjelaskan, Fattah Jasin nyeletuk,”jha’ pa gegger pole,”.

Fauzi dengan senyum khasnya, melanjutkan penjelasan,”Kaule ampon menyampaikan ka dinas perhubungan sopeje onggu-onggue mengawasi. InsyaAllah bantuan dari provinsi dilaksanakan secara baik. Jha’ kabeter. Sadhajana sayang untuk Sumenep tak terro geggere saestona,” sambung Fauzi yang disambut tawa hadirin dalam ruang debat yang disiarkan langsung JTV dan kanal YouTube serta Facebook KPU Sumenep.

Pembangunan Pelabuhan Giliyang dianggarkan sekitar Rp 17 miliar dari total bantuan hibah Provinsi Jatim tahun 2019 sebesar Rp 60 miliar.

Dermaga Pelabuhan Giliyang

Dermaga Pelabuhan Bantuan Pemprov Jatim di Pulau Giliyang yang ambruk. (Foto Istimewa)

 

Pekerjaan pembangunan Pelabuhan Giliyang dimulai sejak 26 September 2019 berakhir pada 29 Desember 2019. Namun karena belum selesai, maka masa pekerjaan diperpanjang hingga Februari 2020 lalu.

Perpanjangan tersebut dilakukan tentu dengan harapan kontraktor pemenang tender bisa menyelesaikan pekerjaan. Sayangnya, hingga batas akhir perpanjangan pekerjaan juga belum selesai.

Alhasil, Dinas Perhubungan Kabupaten Sumenep sebagai pengguna anggaran dari dana hibah senilai Rp 60 miliar dari Pemprov Jatim itu memutus kontrak kerja.

Pengembangan Industri Kepulauan

Saat giliran Paslon 01 diberi kesempatan bertanya ke Paslon 02, Cabup Fauzi langsung menanyakan ke Fattah Jasin soal pengembangan Industri Kepulauan.

“Kaule atanya’a kepulauan. Polana sampean ampo atanya soal kepulauan ka kaule. Ra kera kadinapa tentang pengembangan industri e kepulauan se cocok untuk kepulauan. Sampean ampon apiddel e kepulauan. Ngireng padepa’agi samangken,” tanya Cabup Fauzi.

Fattah Jasin menjawab,”Pak Fauzi, kaule sareng Ke Piek ampon 27 kecamatan. Terakhir ke Masalembu, 12 jam abental angen asapao’ ombek,” ucap Fattah Jasin.

 

“Saya punya program inovatif. Pertama, kalau sampe’ detik terakhir,” di tengah penjelasan Fattah Jasin. Cabup Fauzi nyeletuk,”Tak abahasa Madura, sampean,” tegur Fauzi dari kursi duduknya sambil tersenyum.

Karuan saja, celetukan Fauzi membuat moderator dan komisioner KPU serta Bawaslu yang menyakisakan debat ikut tertawa.

Fattah Jasin melanjutkan penjelasan dengan bahasa Madura walau bercampur bahasa Indonesia. “Sampe’ kaule tak akan mampu memenuhi masalah-masalah infrasturktu dasar, de’dea, listrik, sanitasi, air bersih, dermaga, telekomunikasi. Ini harus terpenuhi. Abdina mau memberikan 300 juta ke setiap desa tiap tahun di luar kewenangan kabupaten,” terang Fattah.

“Kaule tak akan mampu memenuhi membangun kepulauan dengan APBD. Walau 100 tahun ghi arbes tak mare-mare. Makana harus nyoon ka presedin, Pak Presiden..kaule andik 126 pulau. Nyoona dana otonomi khusus,” tambahnya.

Selain minta dana otonomi khusus ke Presiden. Fattah Jasin juga akan minta ke Presiden untuk dibuat kawasan ekonomi khusus.

PT WUS Jadi Pertanyaan 

Sebelum sesi tanya jawab Paslon menggunakan bahasa Madura. Moderator memberi kesempatan kepada masing-masing Paslon untuk saling bertanya dan menanggapi.

Dalam sesi tanya jawab itu, Calon Wakil Bupati (Cawabup) Paslon 2, KH Ali Fikri bertanya soal peran PT WUS sebagai salah satu BUMD Sumenep dalam menopang PAD.

“Ada empat BUMD di Kabupaten Sumenep, ada BPRS, PD Sumekar, PT WUS dan PT Sumekar Line. Berkenaan dengan PT WUS ini, yang mengelola PI (Participating Interest, red) Migas. Karena pak Fauzi pernah menjabat Kepala Kantor PT WUS Perwakilan Jakarta. Berapa pendapatan PT WUS ke daerah?,” tanya Cawabup Kiai Fikri kepada Cabup Paslon 01, Achmad Fauzi.

Secara sigap, Cabup Fauzi langsung menjawab, ““Baik, ini pertanyaan yang membangun bagi saya, Bagaimana kecintaan Paslon Nomor 2 untuk Sumenep. Ada 4 BUMD di Sumenep, BPRS yang bergerak di bidang keungan, PD Sumekar bergerak di bidang barang dan jasa, Sumekar Line bergerak di bidang transportasi, dan PT WUS bergerak di bidang energi. Yang ditanyakan Pak Kiai tadi, kontribusi PT WUS pada pemerintah daerah. Alhamdulillah, PT WUS sejak 2016 sudah memberikan konstribusi nyata, sekitar Rp 5-6 miliar kepada daerah. Ada perkembangan baik dari BUMD-BUMD kita. Hanya butuh waktu untuk memenej,” terang Achmad Fauzi, menanggapi pertanyaan Cawabup Kiai Fikri.

Hamdi, Mata Madura

KOMENTAR

Belum Ada Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Tinggalkan Balasan

MMN

Ra Fuad Amin

Disway

Tasawuf

Inspirator

Catatan

Sastra

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional

%d blogger menyukai ini: