Menu

Desa Ini Simbol Kerukunan, Tiga Tempat Ibadah Beda Agama Berdampingan

Desa Ini Simbol Kerukunan, Tiga Tempat Ibadah Beda Agama Berdampingan
Ilustrasi kerukunan umat beragama (atas). Kolase tiga tempat ibadah beda agama di Sumenep yang berada di satu desa. (Foto/Istimewa)
Link Banner

matamaduranews.com-SUMENEP-Masih ingat dengan satu desa yang memiliki tiga bangunan ibadah dari tiga agama berbeda di Sumenep? Ya, Sumenep memang dikenal dengan sisi toleransinya yang tinggi. Di Desa Pabian, seakan membentuk segitiga imajinatif (namun bukan segitiga bermuda), jika masing-masing titik koordinatnya di sambung; terdapat bangunan masjid, gereja, kelenteng (kuil).

Masjid dan gereja seakan-akan hampir berhadap-hadapan. Hanya dipisah aliran sungai Marengan dan jalan raya. Sedang kuilnya sejajar dengan gereja, alias berdiri di sebelah timurnya. Meski perbedaan keyakinan rentan menjadi masalah sensitif, lebih-lebih jika ada pihak yang menunggangi untuk kepentingan tertentu, namun Sumenep dalam jangka waktu yang relatif lama memang telah menjunjung pluralisme.

Lebur dalam Persaudaraan

Baitul Arham, begitu nama masjid di tepi selatan sungai Marengan ini. Meski tak terlampau luas, namun kesan megah, tenang, dan damai mewarnai tempat peribadatan umat Islam ini.

Dari Masjid di Jalan Slamet Riyadi ini, sekitar 20 meter ke timur, menyeberang sungai dan jalan raya alias sebelah kiri jalan, ada sebuah gereja.

Di situ, tempat peribadatan umat Kristiani tersebut dibangun dengan gaya Eropa. Gereja Katolik Paroki Maria Gunung Karmel namanya. Bangunan tersebut terlihat megah dengan sebuah menara dan didominasi warna putih.

Dan, sekitar 50 meter ke timur lagi, berdirilah sebuah bangunan dengan warna merah terang. Warna yang dipercaya membawa keberuntungan bagi sebagian orang. Bangunan itu adalah Klenteng Pao Xian Lian Kong. Tempat peribadatan bagi umat Konghucu.

Konon, tiga tempat peribadatan itu telah berdiri sekitar ratusan tahun silam. Meski tak didapat angka pasti, namun info dari sumber-sumber di dekat lokasi ini memang menyatakan demikian. Begitu juga kesan-kesan kuna yang masih melekat di tiga bangunan tersebut.

Di antara tiga komunitas yang bersimbolkan pada tiga bangunan ibadah tersebut, penganut Konghucu merupakan pihak minoritas. Menurut Sugiyono, penjaga Kelenteng Pao Xian Lian Kong, tidak kurang dari 50 orang penganut Konghucu yang ada di Sumenep ini. Namun dari cerita pria beranak dua ini, tidak ada persoalan berarti dalam kehidupan sosial masyarakatnya selama ini. Temannya bahkan banyak yang beda agama.

“Isteri saya bahkan ikut arisanan dengan ibu-ibu di sini,” ungkapnya beberapa waktu silam.

“Kami juga merasa tak ada perbedaan. Dan tak pernah merasa canggung dalam bergaul,” tambah pria kelahiran Dungkek kala itu.

Lebih lanjut, Sugiono hanya berharap kondisi ini terus berlanjut di masa-masa yang akan datang. “Saya harap kedamaian yang ada di Sumenep, di Madura dan Indonesia akan terus terjaga. Bukankan semua agama mengajarkan kebaikan dan perdamaian,” ucapnya, sepenuh hati.

Sumenep, Tuan Yang Ramah

Keunikan toleransi agama jelas tak hanya ada di kawasan Pabian itu. Namun hampir di semua kawasan Sumenep. Yang begitu jelas terlihat di jantung kota. Keunikan itu bahkan begitu terasa seperti misalnya di bulan suci Ramadan.

Berapa warga keturunan Tionghoa atau non muslim yang di hari-hari biasa berjualan makanan atau camilan, juga terlihat menyajikan semacam ta’jil atau makanan pembuka bagi umat Islam yang bakal berbuka puasa.

“Kalau kegiatan itu sudah sejak lama,” kata mendiang Edhi Setiawan, Budayawan Madura beberapa waktu lalu kala hidupnya.

Lama di sini dijelaskan mendiang Edhi bukan hanya bertahun-tahun sebelumnya. Namun sudah beberapa generasi awal yang menunjukkan keterbukaan antar suku dan etnis di Madura. Khususnya warga Madura dan keturunan Tionghoa.

“Pluralisme dalam masyarakat Madura sudah ada sejak dulu. Hal tersebut didasari oleh budaya bahari. Makanya orang Madura lebih terbuka ketimbang masyarakat agraris. Mereka lebih sering merantau. Lebih sering berinteraksi dengan orang dengan budaya dan agama yang berbeda,” papar salah satu anggota tim penyusun Sejarah Sumenep (2003).

Kalau mengacu pada sejarah tempo doeloe, di Sumenep, perbedaan bukan hal baru. Kata-kata mendiang Edhi bahwa warga Madura itu lebih terbuka bisa dibuktikan secara otentik dan original.

Bangunan monumental sisa kebesaran Keraton Sumenep, khususnya di masa dinasti terakhir (Dinasti Bindara Saot), seperti keraton dan masjid Jami’ kental dengan nuansa luar. Tak hanya Jawa, tapi juga Arab, Turki, Eropa, dan sekaligus juga Cina.

Arsitek Keraton dan Masjid yang ditunjuk oleh Panembahan Sumolo juga bukan warga pribumi, melainkan orang berdarah Cina, Lao Piango.

Dan, seperti dikatakan mendiang Edhi, bahkan bangunan sejarah di Sumenep pada abad ke-15 juga sudah banyak terpengaruh budaya luar. Seperti Cina, Eropa, dan Jawa keraton. Salah satunya ada gaya bangunan Sekot Pacenan. “Tak usah ditanya lagi mengenai asalnya,” kata Edhi sambil tertawa lepas.

Sehingga dengan fakta keterbukaan orang Madura dalam menyikapi perbedaan, Edhi pun tak sungkan-sungkan lagi menobatkan kawasan nusa garam ini sebagai kawasan masyarakat modern “sedjak doeloe kala”.

“Madura sudah modern sejak dulu. Salah satu ciri masyarakat modern adalah sifat terbuka. Mereka mau menerima perbedaan untuk menciptakan kerukunan,” tegasnya.

Oleh karenanya, melihat kenyataan di Sumenep, seperti yang bahkan bisa dilihat dalam harmonisasi muslim-non muslim sekaligus suku Madura-etnis Tionghoa (Cina) khususnya di bulan Ramadlan ini membuat pihak minoritas itu nyaman dan merasa menyatu tanpa memandang perbedaan akidah.

“Pelanggan dari umat Islam tidak sedikit. Kita bahkan sudah banyak yang kenal baik. Bahkan sudah seperti saudara,” kata Nini, panggilan perempuan muda berdarah Cina ini.

Nini merupakan salah satu etnis Tionghoa yang berjualan dengan menyajikan juga camilan dan santapan berbuka setiap Ramadan.

“Ya harus diakui, Sumenep menjadi salah satu tempat yang nyaman bagi semua umat beragama. Bahkan, etnis dari luar pun hidup rukun dan berkembang dengan nyaman,” aku Nini.

Memang, mengacu pada sejarah, dalam sebuah kajian disebutkan bahwa Gubernur Jenderal Inggris, Thomas Stamford Raffles sempat mengadakan sensus penduduk di Madura. Dan hasilnya, lebih dari tiga persen penduduk Madura adalah warga berdarah campuran.

“Itu mengartikan Madura ini menjadi tempat yang nyaman bagi bangsa mana pun,” kata salah satu pemerhati sejarah di Sumenep, R. B. Mohammad Muhlis Danafia.

Kata-kata Muhlis ini bukan isapan jempol. Dalam sejarah, pertengahan abad 18 sempat terjadi banyak pembantaian etnis Cina secara besar-besaran. Baik yang terjadi di Batavia dan Jawa.

“Di masa itu malah di Sumenep, yaitu masa awal pemerintahan Bindara Saot, warga Cina malah banyak yang hidup di sekitar Masegit Laju (Masjid al-Mu’min) Kepanjin,” kata.

Perlakuan para pembesar keraton juga baik. Itulah sebabnya, konon, yang melatar belakangi Lao Piango untuk membantu mewujudkan mimpi Panembahan Sumolo, dengan totalitas yang maksimal. Sampai terwujud bangunan keraton dan masjid agung yang megah dan tetap bisa dirasakan manfaatnya hingga saat ini.

“Kita bisa lihat atau belajar dari simbol pintu utama keraton. Filosofinya, Labang Mesem menggambarkan masyarakat Sumenep yang ramah. Pintu itu tempat tamu masuk, tempat tuan rumah menyambut tamu. Jadi orang Madura, khususnya Sumenep, adalah orang yang selalu menyambut baik tamu mereka. Sedang mesem artinya tersenyum,” tutup Muhlis.

RM Farhan

Bagikan di sini!
KOMENTAR

Belum Ada Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Lowongan

Ra Fuad Amin

Pilkada 2020

Opini dan Resensi

Sastra

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional

%d blogger menyukai ini: