Dua Dokter Spesialis Mata RSUD dr H Moh Anwar Sumenep Berbagi Cara Mendeteksi Gejala Katarak

Mata Madura - 27/10/2021
Dua Dokter Spesialis Mata RSUD dr H Moh Anwar Sumenep Berbagi Cara Mendeteksi Gejala Katarak
Dokter spesialis mata di Poli Mata RSUD dr. H. Moh. Anwar Sumenep, dr. Fardian Yedakusuma, Sp.M dan dr. H. Karnedi Homber, Sp.M dalam program Podcast Kesehatan di channel YouTube RSUD Sumenep, Selasa (19/10/2021) - (Tangka Layar Podcast RSUD Sumenep)
Penulis
|
Editor Rafiqi
Link Banner

matamaduranews.comSUMENEP-Penyakit Katarak merupakan gangguan penglihatan yang disebabkan adanya kerusakan dan penebalan pada lensa mata yang berlangsung secara progresif.

Walaupun tidak mematikan, penyakit Katarak cukup membuat penderita tersiksa apabila tidak tertangani dengan benar.

Merespon kenyataan bahwa saat ini di Sumenep banyak masyarakat yang menderita Katarak, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr H Moh Anwar meningkatkan sarana dan prasarana di Poli Mata.

Selain itu, dua dokter spesialis yang bertugas di Poli Mata tersebut juga menyampaikan beberapa hal terkait edukasi dalam mengenali dan menangani Katarak.

Dua dokter Spesialis Mata di RSUD dr H Moh Anwar Sumenep tersebut adalah dr. Karnedi, Sp.M dan dr. Fardian Yedakusuma, Sp.M.

Keduanya berbagi cara mendeteksi gejala Katarak yang sangat penting untuk diketahui oleh masyarakat melalui Podcast RSUD Sumenep, Selasa (19/10/2021) lalu.

Menurut dokter Fardian Yedakusuma, Katarak termasuk tiga besar penyebab kebutaan di dunia, termasuk di Indonesia. Dan pada umumnya, Katarak banya diderita orang yang sudah berusia di atas 50 tahun.

“Ciri fisik, pasien mengeluh penglihatannya menurun atau kabur, seperti tertutup awan  atau asap, dan kalau mata kena sinar biasanya agak silau,” kata dokter Fardian menyebut gejala dini Katarak.

Senada, dokter Karnedi Homber merinci penyebab penyakit Katarak. Ada karena faktor usia, dan genetikal atau keturunan. Atau bisa pula disebabkan penyakit lainnya, seperti diabetes dan hepertensi.

“Akibat trauma, trauma tumpul dan trauma tajam. Trauma tumpul seperti kena benturan atau kena pukul. Trauma tajam, misalnya tertusuk lidi atau benda tajam kecil lainnya,” terang dokter Karnedi.

Namun, masyarakat tidak perlu khawatir soal penanganan jika menderita penyakit Katarak. Sebab, lanjut dokter Karnedi, teknik penanganan Katarak terus mengalami peningkatan dari masa ke masa.

“Untuk saat ini sudah menggunakan teknik Phacoemulsification (Phaco) yakni menggunakan gelombang ultrasonic untuk proses ekstraksi lensa dengan menggunakan alat khusus yang berukulan relatif kecil,” terang dokter spesialis mata itu.

Dengan cara ini, proses pengerjaannya cepat. Lukanya juga relatif kecil dan tidak memerlukan jahitan, sehingga pasien dapat langsung pulang setelah operasi.

Selain itu, teknik terbaru ini juga mengurangi nyeri pada pasien dan mempercepat masa penyembuhan pasca operasi.

“Di Poli Mata RSUD sudah seperti itu, dan sudah bisa menangani semua jenis keluhan penyakit mata,” ujar dokter Karnedi.

Terakhir, dua dokter spesialis mata RSUD Sumenep itu menyarankan, apabila seseorang sudah memasuki usia 40 tahun, sebaiknya periksa mata secara rutin. (*)

Tinggalkan Komentar

Close Ads X
--> -->