Menu

Haruskah Bersekolah SD di Bawah Pohon?

Haruskah Bersekolah SD di Bawah Pohon?
Kondisi siswa SDN 1 Banyoneng Laok, Kecamatan Geger, Bangkalan yang berjuang menjadi generasi cerdas. (matamadura)
Link Banner

Catatan: Imam Syafi’i Pantor*

matamaduranews.com-Hai para penerus Generasi Bangkalan! Generasi yang sangat diharapkan dapat melanjutkan semua cita-cita para tokoh dan stake holder di Bangkalan.

Generasi muda seperti aku dan kamu adalah ujung tombak yang bisa menjadi senjata untuk dunia melawan ketertinggalan melalui pendidikan.

Hal itu pun harus bersinergi dengan slogan yang diberikan oleh Bapak Pendidikan Indonesia, Ki Hadjar Dewantara:

Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani (Di depan memberi contoh, di tengah memberi semangat dan di belakang memberi kekuatan)”.

Minimnya fasilitas dan infrastruktur di pelosok desa Bangkalan. Membuat saya gelisah dan hampir putus asa menuggu janji-janji pemerintah.

Para pengambil kebijakan seperti tuli dan bisu. Tutup mata pada kondisi infrastruktur pendidikan di pelosok desa Bangkalan.

Seperti yang dialami puluhan siswa SD yang terpaksa belajar di bawah pohon dan halaman kelas. Di bawah gardu. Di pematang sawah.

Itu terjadi di SDN 1 Banyoneng Laok, Kecamatan Geger, Bangkalan.

Mereka terpaksa belajar di bawah pohon. Gedung sekolahnya sudah tidak layak untuk ditempati. Sebagian ruang kelasnya ada yang roboh. Sebagian ruang kelas tak memadai untuk kurang lebih 100 siswa SD.

Saat hujan turun, mereka terpaksa menyingkir dan belajar di emperan sekolah. Agar para siswa dan buku pelajaran mereka tidak basah kuyup. Sesekali mereka belajar di bawah parkir sepeda.

Terkadang sebagaian siswa belajar di ruang kelas yang jauh dari kata aman. Karena atap kelas sudah rapuh.

Meski mereka belajar di ruang kelas yang memperihatinkan dan jauh dari layak. Semangat siswa di sekolah desa itu membara. Agar jadi anak pintar.

Mendengar keluh kesah anak SD yang ada di pelosok desa Bangkalan dengan kondisi sekolah yang tak layak.

Saya hanya bisa mengeluh dan memegang dada.

Semangat belajar para siswa yang begitu tinggi. Perlu fasilitas yang memadai. Gedung dan infrastruktur sekolah malah terbalik.

Kuping sudah tak tahan mendengar celotehan. Mereka para siswa Banyoneng Laok 1 selalu berkeluh begini;

Pak kami minta tolong. Tolong sekolah kami diperbaiki. Sekolah kami kurang nyaman, tidak asyik untuk dilihat.

Pak kalau bisa, main ke SDN Banyoneng 1.

Lihat, ruangan kelas kami hanya dibangun di atas sepetak tanah lapang dengan bangunan yang sudah tak layak huni.

Jikalau pun ada yang terbuat dari beton, pasti sudah tak layak huni.

Penutup atap terbuat dari genteng yang sudah roboh.

Bisa kalian bayangkan. Jika hujan deras datang disertai deru angin kencang.

Mereka harus belajar di alam terbuka. Berlantai tanah, berkarpet rumput. Dan beratapkan pohon rindang karena tembok di ruang sekolah sudah mulai ambruk.

Tentu para siswa SD tak ingin tembok-tembok rapuh itu menimpa tubuhnya yang mungil.

Walau belajar di luar ruang terbuka lebih dapat membuat berpikir jernih.

Para anak SD itu menikmati pendidikan atas segala kekurangan dan keterbatasan sekolahnya.

Mereka ingin berjuang mencerdaskan diri, mewujudkan cita-citanya. Hingga tercapai mengabdi pada nusa dan bangsa.

Melihat mereka harus berjibaku dan berjuang belajar di luar kelas hanya demi bisa sampai di sekolah, bisa jadi saya dan anda hanya bisa mengatakan iba.

Bahkan, bisa jadi kalian justru terperanjat tak percaya.

Tapi, inilah yang sebenarnya. Kondisi SDN 1 Banyoneng Laok, Geger, Bangkalan.

Setiap hari, para anak SD itu berjalan dari rumah melewati pematang sawah. Jalanan berliku. Ibarat menantang maut dan bahaya.

Tapi sekali lagi, kami bisa apa?

Saya lahir di tempat ini. Saya besar dan tumbuh di tempat ini. Begitu pula bapak dan ibu. Para orang tua punya pekerjaan di tempat ini meski hanya bertani atau berladang di tanah sendiri.

Saya tak punya kuasa untuk mengubah keadaan. Saya tak sampai hati jika harus meninggalkan kampung halaman.

Cukuplah bagi saya masih ada sekolah tempat belajar berhitung, menulis, dan sesekali belajar seni.

Bisa membaca buku-buku cerita merupakan nikmat  yang tak terelakkan. Saya sadari betapa dunia ini begitu luas ketika kami bisa mengecap bangku pendidikan.

Jika saya boleh meminta, tidakkah ada keadilan untuk kami yang sekolahnya sangat sederhana ini?

Bukankah sebagai anak bangsa, mereka walau ada di pelosok desa punya hak merasakan sekolah yang lebih layak?

Tidakkah ada satu, dua, atau sedikit untuk memperjuangkan nasib kami?

Lantas?

Jika pemerintah apatis, bagaimana dengan UU Pendidikan Pasal 11 ayat (1). Pemerintah dan Pemerintah Daerah wajib memberikan layanan dan kemudahan, serta menjamin terselenggaranya pendidikan yang bermutu bagi setiap warga negara tanpa diskriminasi.

Untuk apa UU Pendidikan ini?

Solusi yang dapat saya berikan mungkin yang paling pertama adalah pemerintah lebih peduli terhadap masalah pendidikan yang ada.

Besar harapan agar bisa segera mendapatkan bantuan dari pihak pemerintah untuk segera merenovasi bangunan sekolah yang sudah tidak layak ditempati. Agar siswa bisa belajar lebih baik seperti siswa di sekolah lain terutama di perkotaan yang menikmati fasilitas belajar dan sekolah yang lebih baik.

Disini perlu peran Korwil Pendidikan Wilayah Geger. Kenapa demikian? karna seharusnya korwil juga mengetahui kondisi gedung yang rawan ambruk.

Pihak sekolah juga harus lebih peka terhadap ruang kelas yang perlu direnovasi. Jangan sampai acuh tak acuh sehingga membuat siswa was-was dalam belajar.

Eksekutif dan Legislatif jangan menutup mata untuk melihat wajah pendidikan di Bangkalan. Fungsi sebagai legislasi perlu membuat Perda tentang pendidikan karna memang hingga saat ini belum ada perda pendidikan. Mengapa penting?

Agar tata kelola pendidikan lebih efektif dan bisa mengurangi ketimpangan dalam dunia pendidikan antara di desa dan di kota.

Dari kami, yang berharap bisa mengubah keadaan jadi lebih baik.

*Aktivis PMII Bangkalan

Bagikan di sini!
KOMENTAR

Belum Ada Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Iklan
Lowongan

Ra Fuad Amin

Hukum dan Kriminal

Pilkada 2020

Tasawuf

Inspirator

Catatan

Opini dan Resensi

Sastra

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional

%d blogger menyukai ini: