Isu Kudeta PDI-P

Catatan: Dhimam Abror Djuraid

Isu Kudeta PDI-PLAMA tidak terdengar isu kudeta, beberapa waktu belakangan ini isu itu muncul lagi. Bukan kudeta mengambil alih kekuasaan resmi di pemerintahan, tapi kudeta merebut posisi ketua umum partai politik.

Kali ini yang menjadi sasaran isu kudeta politik adalah PDI-P (Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan).

Sebuah organisasi relawan pendukung Ganjar Pranowo, dalam sebuah kesempatan, mendoakan supaya Ganjar menjadi presiden, dan Joko Widodo menjadi ketua umum PDIP.

Pernyataan ini mendapatkan reaksi ramai dan keras dari banyak kalangan, terutama dari elite-elite politik PDIP.

Isu ini menjadi sensitif karena kondisi internal PDIP sendiri sekarang tidak terlihat kondusif.

Partai pemenang pemilu ini seolah sedang menghadapi krisis kepercayaan diri menjelang pemilihan presiden 2024. Sebagai satu-satunya partai yang mengantongi tiket presidential threshold 20 persen, secara teoretis harusnya PDIP menjadi partai yang paling siap menghadapi perhelatan pilpres 2024.

Tetapi, yang terjadi kemudian adalah PDIP justru terlihat sebagai partai sedang panik dan mengalami dilema yang paling sulit yang pernah dihadapi oleh partai ini sepanjang sejarah.

BACA JUGA :  Ketua Banggar DPRI RI Reses di Pulau Poteran, Terima Keluhan Nelayan hingga Ibu-ibu PKK

Sampai sekarang PDIP terperangkap dalam perdebatan keras untuk memilih calon presiden, antara Puan Maharani sang putri mahkota vs Ganjar Pranowo yang menjadi unggulan berbagai survei elektibilitas calon presiden.

Dilema ini tidak pernah terjadi sepanjang sejarah berdirinya PDIP 20 tahun terkhir.

Dalam pemilu presiden sebelumnya PDIP dengan mudah bisa memilih Megawati Soekarnoputri sebagai calon presiden.

Dua kali pilpres, dua kali pula Megawati dimajukan sebagai calon presiden. Pada dua kali even itu Mega gagal menjadi presiden.

Komentar